oleh

Agar Wisata Maluku Utara Jadi Maladewanya Indonesia

Pesona wisata Maluku Utara makin dilirik dunia. Keindahan lanskap alam yang komplet, mulai laut, darat, hingga pegunungan, berhasil mendatangkan ribuan wisatawan mancanegara tiap tahun ke sana.

Tiga pulau berjuluk segitiga emas, yakni Ternate, Tidore, dan Morotai, menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Keindahan provinsi di timur Indonesia itu tentu tak kalah dengan wilayah-wilayah kepulauan lain di dunia yang sudah lebih dulu kesohor.

Tak janggal kalau provinsi tersebut ditetapkan sebagai satu dari 10 destinasi Bali baru yang bakal mendongkrak kunjungan turis mancanegara ke Nusantara.

Kehadiran Maluku Utara di pasar wisata internasional menjadi perhatian khusus Menteri Pariwisata Arief Yahya. Banyak hal harus dilakukan untuk mengupayakan percepatan pembangunan wisata.

“Rumusnya pakai unsur 3A, yaitu atraksi, amenitas, dan aksesibilitas. Ketiganya harus benar-benar siap,” kata Arief Yahya saat peluncuran 33 agenda wisata Maluku Utara, di Gedung Kementerian Pariwisata, Jakarta Pusat, Selasa, 13 Februari 2018.

Arief mengatakan dua unsur utama, yakni atraksi dan amenitas, telah dipenuhi Maluku Utara. Namun soal urusan aksesibilitas, perlu dilakukan pembangunan berlanjut. Utamanya perihal bandara internasional. “Maluku ini jumlahnya 4.000 kepulauan. Solusinya adalah kita bikin sea plane,” ujar Arief.

Sea plane adalah taksi udara yang bisa mendarat di laut. Kendaraan ini akan memudahkan turis mengunjungi pulau-pulau kecil. Sea plane sudah dibangun lebih dulu di Maladewa. Sebab, tipografinya yang berupa kepulauan-kepulauan kecil tak memungkinkan pemerintah membangun bandara internasional satu demi satu. Hal itu sama dengan yang terjadi di Maluku Utara.

“Kalau saya mengharapkan pemerintah menggarap bandara, akan lama,” kata Arief.

Selain sea plane yang diadaptasi dari Maladewa, Arief juga ingin membangun konsep pariwisata nomadic. Konsep ini memungkinkan investor membangun akomodasi sementara yang bisa berpindah-pindah. “Misalnya, seperti hotel karavan atau glam-camping yang sudah mendunia,” ujar Arief menambahkan.

Dengan konsep wisata ini, Arief meyakini pariwisata Maluku Utara akan bertumbuh cepat. Selain itu, provinsi berjuluk Negeri Kepulauan Rempah itu bakal berkontribusi besar terhadap upaya pencapaian target kunjungan 20 juta wisatawan asing 2019.

Source: Tempo.co

8 Spot Diving Kota Bahari

Dive spot di Ternate memiliki keragaman jenis ikan yang tidak dimiliki spot-spot lain di Indonesia. Salah satunya adalah dive spot yang menjual hiu langkah seperti enis hiu hemiscyllium halmahera atau walking shark (epolet shark) dalam sebutan ilmiahnya, yang belakangan dinyatakan sebagai spesies baru dan merupakan endemik Maluku Utara.

Bagikan

Komentar

Tinggalkan Balasan