oleh

Cerita di Balik Keindahan Pulau Mare hingga Ribuan Ekor Rusa Punah

Terdapat beberapa keunikan di balik keindahan Pulau Mare, Tidore Selatan, Kota Tidore Kepulauan. Ada ikan lumba-lumba liar bermain di pagi hari dan mitos kaum lelaki yang tidak boleh bikin gerabah.

Pada pulau yang berpenduduk sekitar 1.000 orang itu dikenal sebagai penghasil gerabah di Maluku Utara. Hasil kerajinannya terkenal hingga Halmahera, Maluku, dan Papua.

Menurut warga masyarakat setempat, nama Pulau Mare berasal dari kata More. Dalam bahasa Tidore Kepulauan artinya dia yang menunjuk pada seorang perempuan. 

Topografi pulau itu berbukit dan berbatu. Di puncak bukit pulau itu, sebagian besar ditumbuhi alang-alang. Sementara bagian tengah pulau ditanami kelapa dan pala.

BACA JUGA

Maluku Utara Akan Miliki Perda Zonasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Semangat Perdamaian Moloku Kieraha

Pulau Mare pernah dihuni ribuan ekor rusa. Karena banyak diburu oleh warga sehingga rusa-rusa yang ada perlahan punah.

“Sekitar lima tahun lalu rusa masih terlihat bermain sampai di belakang rumah. Tapi sekarang sudah jarang, bahkan hampir tak ada,” kata Ahmad Yusuf, warga Maregam, saat disambangi beberapa waktu lalu.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan, luas Pulau Mare mencapai 200 hektare atau 20 km. Di pulau kecil tersebut terdapat dua desa, yakni Marekofo di bagian barat dan Maregam di sebelah timur.

Di Desa Maregam, jumlah penduduknya mencapai 500 jiwa lebih, yang terdiri 100 kepala keluarga dengan 80 rumah. Di sana tersedia satu masjid, SD, dan SMP. Di pantai desa itu pada pagi hari, Anda bisa melihat ikan lumba-lumba liar bermain di sekitarnya.

Mata pencahrian penduduk setempat nelayan. Untuk penduduk Desa Maregam lebih mengutamakan kerajinan gerabah sebagai sumber pendapatan utama. Gerabah yang dihasilkan pun masih tradisional.

Mitos Pengrajin Gerabah

Ada yang unik dari proses pembuatan gerabah di Desa Maregam. Warga percaya pembuatan gerabah harus dilakukan oleh perempuan. Mitosnya, jika kaum lelaki yang terlibat mengerjakan gerabah maka kedepannya tidak bisa punya keturunan. Kepercayaan ini sudah turun temurun.

Meski begitu, kaum lelaki tetap punya peranan sendiri selama proses pembuatan gerabah. Mengambil tanah liat dan memasarkan gerabah yang telah jadi di antaranya. ”Iya, itu keyakinan warga sini sejak dulu, kalau laki-laki tidak boleh bikin gerabah. Akan mandul atau tidak bisa punya anak,” ujar Ahmad melanjutkan.

Tanah liat sebagai bahan dasar gerabah diambil di puncak bukit Pulau Mare. Tanah liat yang masih basah terlebih dulu dijemur sebelum dihaluskan dan dicampur dengan pasir pantai berwarna hitam. Setelah itu baru diproses menjadi gerabah. Prosesnya pun butuh waktu sekitar sepuluh hari.

Maryam, salah satu pengrajin gerabah, mengatakan bahan dasar kerajinan gerabah yang telah melewati prosesnya kemudian dibentuk sesuai minat. Proses pembuatan masih menggunakan alat sederhana.

Karena alat pembuatan yang masih sederhana, sehingga jenis gerabah yang dihasilkan pun sedikit. Jenis-jenis kerajinan gerabah yang dihasilkan adalah forno (tempat bakar sagu), bura-bura (bahasa Tidore) atau ngura-ngura (bahasa Ternate) sebagai tempat penutup masakan kuliner, dan hito (bahasa Tidore) atau tempat pembakaran dupa, serta belanga dan kuali.

Lestarikan Adat Moloku Kieraha

Jenis-jenis kerajinan gerabah Maregam ini masing-masing memiliki peranan penting dalam melestarikan adat istiadat Moloku Kieraha (sebutan lain Maluku Utara).

Forno misalnya, merupakan alat percetakan sagu, adalah bagian dari perjuangan ketahanan pangan di Maluku Utara. Juga bura-bura yang digunakan untuk memasak kuliner khas Maluku Utara seperti kue apam Ternate, lapis Tidore dan Sanana.

Begitu pula sendok gerabah yang digunakan untuk membakar arang kayu dan tempurung, serta hito untuk menaruh arang yang sudah dibakar bersama kemenyan. Dua perkakas ini dibuat untuk digunakan saat tahlilan mendoakan orang yang sudah meninggal.

Mahmud Ici

Komentar

Tinggalkan Balasan