oleh

Di Balik Kesuksesan Petani Kangkung Ternate

Lahannya itu tak begitu luas. Hanya 7 meter panjangnya dan lebar 8 meter. Areal lahan tersebut menjadi tumpuan hidup Dima, warga Gambesi, Ternate Selatan, Ternate.

Lahan milik wanita 39 tahun itu tak jauh dari pantai, di belakang SMP Negeri 3 Ternate.

Dima saat disambangi sekitar pukul 01.53 WIT, sedang bersama dua anaknya, memanen kangkung.

“Lahan ini yang menghidupi kami. Dari sini bisa memenuhi kebutuhan sehar-hari dan biaya pendidikan anak-anak,” kata Dima.

Dima mengatakan lahan kebun tersebut warisan dari orang tuanya.

Sayur kangkung adalah penghasilan penting petani di Gambesi. Sebagian besar warga setempat dikenal sebagai pemasok sayur kangkung terbesar di kota itu.

Sayur kangkung yang menjadi ikon masyarakat Gambesi itu memiliki nama latin Ipomoea aquatica, banyak ditanam oleh warga masyarakat setempat.

BACA JUGA

Ketika Tanjung Lifmatola Terancam

Abrasi Ancam Rumah Warga Pesisir Ternate

Riwayat Matinya Mangrove Ternate

Untuk mendapatkan daun kangkung yang berkualitas baik, menurut Dima, sebelum ditanami lahannya diolah dengan pupuk. Setelah disebar pupuk tanah dibiarkan kurang lebih 2 hari. Setelah itu baru penanaman dilakukan.

Petani kangkung Gambesi. (Kabarpulau.com)

Jika potongan bibit yang ditaman sudah mengeluarkan tunas. Kembali diberikan lagi pupuk sampai batang dan daunnya membesar. Setelah melewati tahapan proses tersebut, perawatan masih tetap dilakukan hingga masa panen tiba.

Kangkung menjadi sayur yang ditanam secara turun temurun oleh warga Gambesi. Tidak salah, jika petani sayur kangkung setempat menjadikan sebagai sumber kehidupan utama. ”Kangkung ini ditanam sejak dulu. Kami tak punya pekerjaan lain kecuali menanam kangkung ini,” ujar Dima.

Luth Soleman, Sekretaris Kelompok Tani Kangkung Gosolaha, Kelurahan Gambesi, menceritakan, proses tanam kangkung dilakoninya sejak 1985.

Dia menanam kangkung sudah turun temurun. Dari usaha tanam kangkung, Luth mampu membiayai dua anaknya hingga menyelesaikan studi perguruan tinggi.

“Dari kangkung dua anak saya sarjana. Satu telah bekerja di Pemda Taliabu dan satunya lagi menjadi guru SMA Negeri Soasio Galela (Kabupaten Halmahera Utara),” kata Luth.

Dengan pendapatan rata-rata dalam berjualan kangkung per hari antara Rp 300 ribu-500 ribu, Luth sudah mampu memenuhi kebutuhan rumah tangganya. “Sisanya sekitar Rp 200 ribu disimpan untuk kebutuhan pendidikan anak-anak.”

Luth mengatakan selama ini mereka bekerja dengan modal dan usaha sendiri, tanpa ada bantuan yang diberikan pemerintah kota maupun provinsi. Terutama dalam menambah modal usaha untuk mengembangkan agrobisnis itu.

“Heran juga, selama ini perhatian pemerintah terhadap kami masih sebelah mata. Padahal hasil penjualan sayur kangkung oleh istri-istri kami di pasar ikut memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah (melalui retribusi yang ditagih). Artinya kami turut memberikan konstribusi pembangunan terhadap kota ini,” ujar dia.

Luth mengemukakan pengalaman dirinya, pernah membuat proposal untuk meminta bantuan modal usaha tapi tidak pernah direspon pemerintah daerah setempat.

Lahan Kangkung yang Dulu dan Kini

Lahan kebun kangkung yang berada tak jauh dari pantai itu, saat ini tengah menghadapi masalah cukup serius. Abrasi pantai dan semakin menyusutnya lahan akibat pembangunan di antaranya.

Semenjak berdirinya tiga kampus yang dipusatkan di Ternate Selatan. Ada sebagian besar lahan di kawasan itu yang dialihfungsikan.

Jamila, salah satu guru Aliyah Negeri Ternate misalnya, selain menjalankan profesinya, Ia juga membantu suaminya memanen kangkung di Kelurahan Gambesi. Sejak 2004, Jamila bersama suaminya sudah menanam kangkung.

Jamila mengemukakan, rumah yang mereka tempati saat ini awalnya adalah lokasi kebun kangkung. Sebagian besar lahan di belakang SD Gambesi sudah dijual pemiliknya. Lahan itu dibangun rumah kos-kosan untuk mahasiswa dari tiga kampus setempat. Saat ini, sebagian dari warga masih menyisakan sedikit lahan satu hingga dua kapling untuk ditanami kangkung.

Meluasnya pembangunan hingga menyebabkan lahan kangkung berkurang turut dibenarkan Lurah Gambesi, Adnan Mukadim. Meski begitu, kata dia, berkurangnya lahan kangkung karena pembangunan perumahan ini memiliki dampak positif.

“Berdirinya kos-kosan ini menambah warga baru (mahasiswa) yang tinggal di Gambesi. Ini meningkatkan daya beli terhadap sayur-mayur, sehingga lebih menguntungkan petani kangkung di sini,” ujar dia.

Menurut Adnan, yang mengancam lahan kangkung warga saat ini adalah abrasi pantai yang membuat air laut sudah hampir masuk di lahan kangkung. Adnan mengatakan warga setempat membutuhkan adanya pembangunan talud.

Hal senada dikeluhkan Salma Sida, Ketua Kelompok Petani Kangkung Maku Sunyinga. Salma mengatakan ada sekitar 20 lahan kangkung milik warga yang jaraknya tinggal 3 meter dari bibir pantai Gambesi.

Karena adanya masalah ini, kata Salma, mereka membutuhkan perhatian pemerintah. Tujuannya supaya lahan kangkung tak hilang tersapu air laut.

“Kalau pemerintah tak membangun talud maka lahan kangkung ini akan terancam punah dan sebagian warga bisa kehilangan pekerjaan,” sambung dia.

Rasyid Yamani

Komentar

Tinggalkan Balasan