oleh

Gamalama dan Pelajaran dari Loto Maluku Utara

“Gunung Gamalama Ternate merupakan satu dari empat gunung api yang masih aktif di Maluku Utara. Gunung ini, didiami lebih dari 300 ribu jiwa penduduk yang tersebar lima kecamatan di 40 desa/kelurahan. Gamalama Ternate bahkan menjadi pusat aktivitas ekonomi Kota Ternate dan aktivitas pemerintahan Maluku Utara.”

Ancaman bencana gunung api Gamalama, hingga saat ini masih terjadi. Setiap tahun gunung ini selalu mengembuskan abu vulkanik hingga setinggi seribu meter.

Semua kecamatan dalam kota Bahari Berkesan itu masuk wilayah terdampak. Dari lima Kecamatan, wilayah Pulau Ternate yang paling besar terkena dampak bencana abu gunung dan lahar dingin Gamalama. Dan Kelurahan Loto satu-satunya yang terkena dampak secara langsung karena berada pada jalur aliran lahar serta tak jauh dari gunung api tersebut.

Secara geografis, Kelurahan ini berada di bagian Utara Barat Pulau Ternate, atau 31 kilometer dari pusat Kota. Kedudukannya menanjak ke arah atas gunung Gamalama. Di Kelurahan Loto sedikitnya dihuni 769 jiwa penduduk yang tersebar di empat rukun tentanga (RT) dan merupakan . Secara kultur, masyarakat di Kelurahan ini merupakan bagian dari masyarakat adat Kesultanan Ternate yang masih patuh dan taat pada Sultan. Rata rata tingkat pendidikan masyarakat Loto merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas.

Berdasarkan data Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Ternate tahun 2010, tingkat pendapatan ekonomi masyarakat Loto lebih banyak didominasi sector pertanian seperti tanaman pala dan cengkeh.

“Bisa dikatakan torang –masyarakat Loto- banyak bekerja di perkebunan pala yang ada di lereng-lereng gunung Gamalama. Bisa torang bilang masyarakat disini so dekat deng gunung,” kata Muhammad H.Yamin (43).

Kedekatan dengan Gunung Gamalama inilah, yang banyak membuat masyarakat Loto memaham pola aktivitas gunung api. Pelajaran seperti bagaimana membaca gejala bencana gunung api diketahui sejak turun-temurun. Hasilnya sejak gunung api Gamalama meletus, tidak pernah ada masyarakat Kelurahan Loto yang menjadi korban jiwa.

“Torang belajar dari alam, biasanya sebelum ada suara gemuruh, biasanya akan banyak hewan seperti babi dan ular yang turun dari atas gunung dua hari sebelum itu. Dan jika itu sudah terjadi maka masyarakat sudah akan bersiap-siap untuk mengungsi,”ujar Yamin.

Secara historis wilayah Loto, pernah ditunjuk Sultan Ternate menjadi juru kunci gunung gamalama, atau yang biasa masyarakat Maluku Utara kenal dengan sebutan Kie mahito. Hanya posisi itu, berbeda dengan juru kunci gunung api umumnya di Pulau Jawa. Juru kunci gunung gamalama di Kelurahan loto tidak bertugas memberikan peringatan terkait ancaman bahaya gunung Gamalama, namun lebih pada bertugas mengelar ritual adat vere kie atau baca doa kie untuk mememohon kepada sang khalik keselamatan dan kemakmuran di atas puncak setiap tahunnya.

“Untuk juru kunci pun tidak cuma satu orang, tapi ada empat orang. Dan setiap tahun mereka ke atas gunung untuk membaca doa,”pintah Yamin.

Ritual vere kie dengan membaca doa kie merupakan ritual yang dilakukan para juru kunci di atas puncak Gunung Gamalama. Dalam proses ritual itu, empat orang yang ditunjuk Sultan Ternate akan diberi tugas membacakan doa, dan melakukan aksi mengelilingi puncak gunung sebanyak tiga kali dengan membacakan ayat ayat suci Al Quran. Dalam prosesnya ritual tersebut selalu dilakukan saat memasuki bulan ramadhan.

“Dan alhamdulilah selama para kie mahito baca doa kie, keselamatan warga terlihat terjaga,”kata Yamin.

Tak petugas kie mahito, Sultan Ternate juga menunjuk petugas adat yang memberikan informasi peringatan dini tentang letusan gunung yang biasa disebut Gam Mahito. Orang ini juga bertangung jawab menabuh tifa keliling kampung guna meminta warga bersiap-siap untuk mengungsi. Kini peringatan waspada gunung Gamalama di Loto tidak lagi mengunakan penabuh tifa. Masyarakat sudah mengantikannya dengan memukul tiang listrik. Hal itu dilakukan karena, suara tiang listrik lebih besar dari suara tifa.

Selain diangkat Sultan Ternate, petugas gam mahito juga harus merupakan orang dengan satu garis keturunan. Artinya tangung jawab menjadi gam mahito merupakan tanggung jawab yang diserahkan turun temurun sejak dahulu.

Orang yang menjadi petugas ini adalah orang yang diyakini mempunyai keahlian khusus bisa membaca gejala gejala alam berdasarkan kekuatan spranatruralnya. Dan di Loto, gam gahito biasanya akan mengambi tempat pengamatan terhadap aktivitas gunung gamalama tepat di belakang perkampungan-persisnya antara batas bibir jalur lahar dengan kebun warga. Sebelum menjadi petugas gam mahito, orang tersebut diwajibkan berpuasa 7 hari terlebih dahulu. Namun seriring pejalanan waktu petugas gam mahito mulai digantikan dengan pengamatan dengan mengunakan alat teknologi.

Sebenarnya secara tipelogi gunung, Gamalama merupakan gunung yang memiliki enam jalur aliran lahar diantaranya jalur tugulara yang mengarah ke kelurahaan Dufa-Dufa dan Akehuda, jalur kulaba yang menagarah ke kelurahan Kulaba dan Sango, jalur ruba yang mengarah ke kelurahanan loto, jalur kalamata yang mengarah ke bagian selatan barat kota, jalur taduma, dan jalur kastela. Dari enam jalur itu yang paling besar adalah jalur yang menuju perkampungan Loto, lantaran kemiringan lubang lava tepat mengadap perkampungan tersebut.

“Makanya setiap gunung Galamama meletus, Loto selalu menjadi yang pertama terkena dampak gunung api Gamalama,” tutur Sukarjan tokoh masyarakat Loto.

Menurut Sukarjan, selama hidupnya, Gunung Gamalama setidaknya tercatat dua kali meletus dengan skala besar yaitu pertama tahun 1980 yang luapan lavanya mengalir hingga bibir pantai. Di tahun itu, letusan Gamalama tidak menyebabkan korbang jiwa. Masyarakat Loto sudah mengungsi dua hari sebelum letusan terjadi. Namun semua rumah penduduk hancur. Kedua letusan 2003, yang membuat hampir semua wilayah di Ternate diselimuti abu gunung setebal 3 cm. Di tahun itu juga tidak menyebabkan korban jiwa.

Safrudin 29 tahun, salah satu pemuda Loto mengatakan, selain mengunakan keyakinan terhadap kemampuan sprinatural orang yang dituakan, warga Loto saat ini juga diberikan pelajaran kapasitas menghadapi bencana secara cepat dan tepat. Warga loto juga mulai dilatih bagaimana melakukan pembacaan terhadap peta kawasan rawan bencana dan peta zona resiko bahaya gunung api.

“Tapi materi ini sifatnya umum, masyarakat di loto biasanya sudah mengerti apa yang akan dilakukan jika Gunung Gamalama akan meletus. Karenanya materi yang diambil masyarakat palingan adalah informasi gunung api dari petugas,” kata Safrudin.

Menurut Jimmy D Brifing, Kepala Badan Penangulangan Bencana Daerah Kota Ternate, tanggap becana yang dilakukan pemerintah di wilayah Utara Ternate lebih diarahkan pada hal peningkatan kapasitas masyarakat untuk lebih tanggap. Meskipun masyarakat loto memiliki kearifan local membaca pola gunung namun pemerintah tetap memberikan informasi bagaimana memadukan pengetahuian ilmu teknologi dengan nilai nilai adat.

“Ini dilakukan lantaran penetapan loto sebagai kelurahaan siaga bencana lantaran kampung itu merupakan kampung yang selalu menjadi langganan lahar panas dari gunung api gamalama. Apalagi selama kejadian gunung meletus, di kelurahan itu belum pernah ada korban jiwa,” ujarnya.

Catatan Badan Penangulangan Bencana Daerah Kota Ternate, dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, gunung Gamalama Ternate selalu menunjukan status waspada level II. Ancaman gunung Gamalama bahkan terdeteksi masih nyata. Karena itu masyarakat di wilayah bencana seperti loto masih akan menjadi prioritas pemberian informasi terutama terhadap langkah-langkah tanggap darurat,” Kepala BPBD Kota Ternate itu memungkasi.

Bagikan

Komentar

Tinggalkan Balasan