HomeMaluku UtaraTernateKisah Penjual Sapu Difabel Membeli Rumah Impian

Kisah Penjual Sapu Difabel Membeli Rumah Impian

Lelaki itu bernama lengkap Immu Lauhim Wahab. Polio yang dideritanya sejak anak-anak membuat tubuhnya tak bisa bergerak bebas. Meski begitu, pria berusia 50 tahun itu tak lelah berkeliling untuk menjual sapu.

Immu, begitu sebagian orang di Kota Ternate, Maluku Utara, mengenalnya. Sehari-hari, Immu berjalan menyusuri lorong-lorong di setiap kelurahan di kaki Gunung Gamalama. “Sesapu saya ambil di Murah Meriah. Sehari satu lusin. Selusin isinya 12 buah sesapu,” kata Immu begitu disambangi.

Uang hasil jualan sapu tersebut kemudian diberikan kepada ibunya. Tak jarang pula, Immu memberikan jerih payahnya kepada keponakan yang masih sekolah.

“Mereka anak-anak dari adik perempuan saya,” ucap Immu.

Immu adalah anak pertama dari lima bersaudara. Ia tinggal di Kelurahan Kalumata, Kecamatan Ternate Selatan, bersama ibu dan satu adik perempuannya.

Immu mengaku mulai berjualan sapu sejak 2000 lalu. Dagangan sapunya itu, kata dia, laris antara tujuh sampai sembilan buah dalam sehari.

“Satu sesapu dari toko kasih Rp 20 ribu. Saya jual Rp 30 ribu per buah,” ujar dia.

BACA JUGA

Rumah-Rumah di Perbukitan Gamalama Terancam

Kisah Heroik Prajurit TNI di Balik Bencana

Sehari keuntungan yang diraup lelaki itu mencapai kurang lebih Rp 70 ribu. Keesokan harinya, kata dia, kembali menyetorkan hasil jualannya ke toko sapu tersebut.

Setelah menyetor, Immu kembali mengambil selusin sapu lagi. Begitu seterusnya. Ketekunan dan kerja keras Immu kini telah membuahkan hasil. Salah satu rumah yang ditempati bersama ibunya merupakan hasil jualan sapu keliling.

“(Selain itu) beli beras sehari-hari. Kalau ada lebe (lebih), saya kasih kepada dua ponakan (yang tinggal serumah). Untuk bantu-bantu uang sekolah,” ujar Immu.

Yahya Alhadar, salah satu tetangga Immu, menceritakan kondisi fisik Immu sudah dilihatnya sejak mulai berkuliah di Kota Ternate. Ia mengatakan keterbelakangan fisik Immu tak melunturkan semangatnya dalam mencari nafkah.

“Immu kalau sudah jualan itu berjalan kaki. Biasanya ke lorong-lorong setiap kelurahan maupun lokasi perumahan menawarkan sapu. Sering juga dari Kelurahan Kalumata itu sampai ke Bandara Sultan Babullah (Kelurahan Akehuda, Kecamatan Ternate Utara),” kata Yahya.

Immu kurang fasih dalam bercakap-cakap ketika diajak bercerita. Begitu pula dengan kedua tangannya yang tidak kuat menahan banyak beban.

“Pemikirannya normal seperti orang umumnya. Hanya karena keterbelakangan fisiknya saja yang membuat dia kaku dalam bercakap-cakap,” sambung Yahya.​

Bagikan