oleh

Makam Keramat dan Para Penunggu Pulau Ternate

Gunung Gamalama, Ternate, Maluku Utara, begitu lekat dengan keyakinan atau mitos yang dipercaya masyarakat sebagai tempat suci, tempat bersemayamnya para raja, imam-imam masjid Kesultanan Ternate dan para penyebar agama Islam.

Ikram Sangaji, warga Kelurahan Gambesi, Ternate Selatan, mengemukakan, makam-makam suci yang berada di puncak Gunung Gamalama ini biasa disebut jere.

Lelaki 35 tahun itu mengatakan jere atau makam suci itu tumbuh sendiri.

“Ayah saya menceritakan jere itu makamnya para aulia dan anbia. Dahulu jere yang tumbuh batu nisannya berwarna putih, sekarang berwarna hitam,” kata Ikram.

Menurut lelaki yang hobi mengoleksi batu-batu akik di bumi para raja (sebutan lain Maluku Utara) itu, makam keramat yang diyakini milik orang-orang suci ini tak hanya tumbuh di puncak Gamalama, tapi juga di beberapa Kelurahan di pulau setempat.

“Seperti jere di Kelurahan Kulaba dipercaya milik para Sultan Ternate, Kelurahan Sangaji Utara milik Sangaji (panglima perang Kesultanan Ternate),” ujarnya.

Adapun jere di Sulamadaha milik para penyebar agama Islam, Kelurahan Sasa milik para penasehat empat Kesultanan di Maluku Utara, Kelurahan Tobona milik para imam-imam masjid Kesultanan Ternate dan Foramadiahi milik Sultan Khairun.

Para Penunggu

Ikram mengatakan setiap Kelurahan di kota kecil bulat kerucut itu memiliki penunggunya. Para penunggu ini dipercaya sebagai penjaga di lokasi jere.

“Untuk wilayah Pulau Ternate yang bisa melihat itu hanya orang-orang yang memiliki mata batin khusus. Orang-orang ini bisa melihat orang-orang suci yang mendiami setiap Kelurahan,” lanjut Ikram.

Selain penunggu di Kelurahan, pada jere-jere juga terdapat penjaganya.

“Sampai sekarang kepercayaan ini masih tertanam di benak setiap generasi,” kata Ikram.

“Biasanya kalau ada musibah pasti ada kesalahan besar yang dibuat, itu ada tandanya atau pemberitahuan.”

“Jika ada hujan, angin kencang, dan banjir yang terjadi, setelahnya pasti ditemukan bayi yang dibuang atau orang meninggal.”

“Sampai bayi yang dibuang atau orang meninggal itu sudah dimakamkan, barulah hujan dan angin berhenti,” kata Ikram.

==========

Artikel ini telah mendapat pembaharuan. Pertama kali terbit pada 17 Juni 2017 berjudul Misteri di Balik Makam Orang-Orang Suci yang Mendiami Ternate.

BAGIKAN