oleh

Reinventing Kejayaan Rempah di Jalur ‘Dupa’

Oleh: Rinto Taib

Ahli sejarah Amerika Serikat, dan professor sejarah di Columbia University, Allan Nevins (dalam Puar, 1981), menyatakan bahwa sesungguhnya sejarah adalah sebuah jembatan penghubung masa lampau dan masa kini, dan mengarahkan masa depan.

Ungkapan demikian dianggap tepat bila dihubungkan dengan upaya promosi pariwisata Indonesia ke berbagai belahan bumi saat ini termasuk Iran. Masa lalu hubungan Iran atau Persia dengan Nusantara atau Indonesia tak perlu diperdebatkan lagi. Hubungan di masa itu telah melahirkan silang budaya Parsi dengan budaya Nusantara yang begitu kental. Akulturasi budaya Parsi kedalam kebudayaan Indonesia dapat kita temukan pada berbagai tradisi keagamaan dan budaya lokal beberapa daerah di Indonesia, bukan hanya di Pulau Jawa melainkan mencakup wilayah Aceh dan Sumatera, hingga Maluku Utara di bagian Timur Indonesia.

Silang budaya antara keduanya telah diteliti dan terdokumentasi dengan baik bahkan berbagai kajian kontemporer berkaitan dengan ini menjadi perhatian tersendiri dikalangan ilmuan dan cendekiawan Indonesia maupun ilmuan sosial bangsa asing khususnya dalam kajian agama dan budaya. Dalam beberapa referensi misalnya disebutkan bahwa ketika kita bersandar pada teori masuknya agama Islam ke Nusantara, sering dihubungkan dengan Iran, Irak, India, atau Arab. Demikian pula dengan catatan kuno kekaisaran Tiongkok yang menyebutkan telah terjadi silang budaya antara Nusantara dengan pedagang Parsi, Arab maupun Gujarat di beberapa semenanjung Sumatera dan daerah lainnya di Nusantara termasuk Maluku Utara (Moloku Kie Raha) yang merupakan daerah berkuasanya para raja-raja Islam (Sultan) pada kerajaan Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo.

Apabila dipandang hanya dari sisi fisik alamiah semata, Moloku Kie Raha hanya dimaknai sebagai gugusan pulau-pulau kecil masa kini yang memiliki rekam jejak sebagai pusat jalur rempah di masa lalu. Namun jika dipandang dari sisi ritualitas maupun religiusitas masyarakatnya, maka akan diketahui begitu banyak kenangan sejarah dan pengaruh budaya Parsi, Arab, India dan Tiongkok yang telah menyatu dalam denyut nadi kehidupan masyarakat lokal di Maluku Utara.

Lebih mencengangkan lagi, ketika dihubungkan dengan asal usul para Sultan di Kesultanan Moloku Kie Raha tesebut. Menurut catatan sejarah tertulis dan tradisi lisan masyarakat setempat, bahwa asal usul para raja dari empat kerajaan di Moloku Kie Raha yang terdiri dari kerajaan Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo, semuanya berasal dari satu keturunan yaitu seorang tokoh Islam bernama Syeh Djaffar Sadiq.

Sosok yang demikian merupakan keturunan Ahlul Bait yang memiliki garis keturunan ke belakang hingga Nabi Muhammad SAW. Syeh Djaffar Sadiq datang dari Persia dan dan tiba di Ternate pada Senin, 66 Muharram 643 Hijriah atau 1.250 Masehi dalam rangka untuk Syiar Islam. Beberapa warisan tradisi Islam Parsi yang masih kental terasa kita temui saat ini di kota Ternate dan sekitarnya antara lain; Tausiah, perayaan Asyuro, Ziarah keramat, Debus, dan lain sebagainya.

Dari kepentingan kepariwisataan, potensi sejarah masa lalu seperti ini dapat dijadikan sebagai peluang untuk menjalin kerjasama antara pemerintah daerah yang memiliki latar historis dan kesamaan kultur dengan negeri para Mullah tersebut.

Terlebih lagi pada 2006 lalu, pemerintah Indonesia telah memiliki persetujuan bilateral yang membebaskan visa bagi pemegang paspor diplomatik dan dinas. Dan sejak April 2006 kedua pihak telah mengesahkan kebijakan pemberian visa on arrival bagi pemegang paspor biasa wisatawan kedua negaranya yang melakukan kunjungan wisata jangka pendek. Peluang kerjasama bidang pariwisata antara Indonesia dengan Iran haruslah lebih ditingkatkan mengingat tren kunjungan wisatawan Iran ke Indonesia relatif stagnan pada tiga tahun terakhir.

Daerah-daerah yang memiliki latar historis dan kesamaan budaya hendaknya lebih memanfaatkan peluang yang telah dibuka kesempatannya oleh pemerintah kedua negara ini dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke daerah masing-masing.

Secara nasional yang diharapkan dari peluang kerjasama dan investasi kepariwisataan antara kedua negara ini adalah lebih memperkanalkan Indonesia ke masyarakat Iran agar terjadi peningkatan kunjungan wisatawan ke Indonesia sehingga mengimbangi jumlah kunjungan wisatawan Iran yang selama ini ke Thailand dan Malaysia dengan jumlah yang fantastis mencapai 30 ribu pada setiap tahunnya. Hal ini akan terwujud melalui kegiatan promosi pariwisata, baik melalui sales mission, Fun Trip yang terintegrasi dengan misi dagang, investasi dan promosi budaya. Sementara, bagi kepentingan daerah selebihnya adalah termasuk pula menjalin kerjasama jangka panjang dari sekedar terbatas pada bidang pariwisata yaitu membangun kerjasama Sister City dengan daerah-daerah yang memiliki kesamaan tradisi baik dalam aspek keagamaan maupun budaya secara lebih luas. Dalam kerangka inilah, Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) telah mengundang beberapa kota di Indonesia yang memiliki kepentingan terkait program pengembangan pariwisata dan peningkatan kunjungan wisatawan, di antaranya Kota Ternate, Tidore kepulauan, Banda Aceh, Bengkulu dan Pekalongan untuk membicarakan berbagai hal yang diperlukan.

Pertemuan perdana telah berlangsung pada hari Jumat, 3 Agustus 2018 antara Kementerian Pariwisata, JKPI, Pemerintah Kota Ternate, Tidore, Bengkulu dan Pekalongan berjalan lancar dan sukses dengan menyepakati beberapa hal; menetapkan tahun 2019 untuk melakukan kunjungan promosi pariwisata dan membangun jaringan kerjasama Sister City, dan mengalokasikan anggaran masing-masing daerah bagi terwujudnya kegiatan dimaksud.

Adapun bentuk promosi pariwisata dilakukan dalam bentuk Sales Mission, Table-top, ataupun dalam bentuk pameran terpadu TTI yang diselenggarakan secara tersendiri dengan bekerjasama dengan Iranian Cultural Heritage, Handicrafts and Tourism Organization.

Walikota Ternate DR Burhan Abdurrahman dalam forum pertemuan itu juga menyampaikan, bahwa Ternate telah berbenah melalui upaya revitalisasi cagar budaya, penyelenggaraan berbagai event kepariwisataan termasuk Festival Kora-Kora yang saat ini juga dijadikan sebagai salah satu dari Kalendar Event Wonderful Indonesia oleh Kementerian Pariwisata RI. Dengan latar sejarah Kesultanan Ternate yang memiliki kaitan geneologis dan historis antara para Sultannya terdahulu dengan bangsa Parsi maka hal ini menjadi peluang bagi hubungan kerjasama Ternate dan Iran di masa mendatang.

Tidak ketinggalan pula, potensi dan peluang investasi, pariwisata Kota Ternate turut dipresentasikan oleh penulis melalui layar infocus yang telah tersedia. Pemaparan yang sama juga oleh Kepala Dinas Kota Tidore Kepulauan, Kepala Dinas Pariwisata Kota Bengkulu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Pekalongan dalam durasi waktu yang berlangsung sejak siang hingga sore hari itu. Baik Wali Kota Ternate maupun Pekalongan sama-sama berharap dan berkomitmen untuk mensukseskan kegiatan ini secara bersama-sama bagi masa depan kepariwisataan Indonesia.

Langkah promosi dan kerja sama Sister City seperti ini seolah mengembalikan kesadaran historis bangsa Persia di masa lalu yang memaksa mereka meninggaalkan tanah leluhurnya dalam pencarian rempah ke Nusantara sebagai komoditas bernilai tinggi pada masa lalu sekaligus mengulangi (reinventing) kejayaan negeri rempah di jalur ‘dupa’.

Penulis dan kita semua tentunya berharap bahwa kejayaan negeri rempah di masa lalu bukan sekadar meninggalkan jejak kenangan semata. Kini wangi tanaman surgawi yang bernama rempah itu semakin exotis melalui sekian banyak destinasi wisata yang tersebar luas menanti untuk dikunjungi. *

Penulis adalah pegiat kota pusaka. Saat ini aktif sebagai Sosiolog Universitas Muhammadiyah Maluku Utara dan tenaga edukasi di Fakultas Ushuluddin IAIN Ternate.