oleh

Ancaman Merapi dan Mitos Gamalama

Gunung Api Gamalama, Maluku Utara, masih terekam level II atau waspada. Aktivitas vulkanik dan banjir lahar dingin terus menghantui masyarakat setempat.

Pos Pemantau Gunung Gamalama meminta masyarakat di sekitar gunung dan pengunjung maupun wisatawan tidak mendekati puncak kawah dalam radius 1,5 km.

“Pada musim hujan, bagi masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai (barangka atau kalimati) agar mewaspadai ancaman bahaya banjir lahar dingin,” kata Kepala Pos Pemantau Gunung Gamalama Darno Lamane, kepada Kieraha.com, Senin (6/2/2017).

Dari sisi lain, Gunung Gamalama juga lekat dengan keyakinan atau mitos yang diyakini masyarakat setempat. Puncak gunung diyakini sebagai tempat suci, bersemayamnya para raja dan imam-imam masjid Kesultanan Ternate serta para penyebar agama Islam.

Warga Kelurahan Gambesi, Kecamatan Ternate Selatan, Ikram Sangaji, menceritakan makam-makam suci yang berada di puncak Gunung Gamalama biasa disebut jere.

Lelaki 34 tahun itu mengatakan, jere atau makam suci di Kota Bahari setempat tumbuh sendiri.

“Ayah saya menceritakan jere itu makamnya para aulia dan anbia. Jere-jere yang tersebar di puncak Gamalama itu muncul sendiri. Kalau jere yang tumbuh dahulu itu batu nisannya warna putih, sekarang batu nisannya sudah hitam,” kata Ikram.

Ikram mengatakan, makam yang diyakini milik para aulia dan anbia atau orang-orang suci itu tak hanya tumbuh di puncak Gamalama tapi juga pada Kelurahan di Kota Ternate.

“Seperti jere yang ada di Kelurahan Kulaba dipercaya milik para raja Kesultanan Ternate, Kelurahan Sangaji Utara milik Sangaji (panglima perang Kesultanan Ternate),” katanya.

Adapun jere di Kelurahan Sulamadaha milik para penyebar agama Islam, Kelurahan Sasa milik penasehat empat Kesultanan Maluku Utara, Kelurahan Tobona milik imam-imam masjid Kesultanan Ternate, dan Kelurahan Foramadiahi milik Sultan Khairun Ternate.

Penunggu-Penunggu Gaib

Menurut Ikram, pada Kelurahan di Kota Ternate memiliki penunggunya masing-masing. Para penunggu itu dipercaya sebagai penjaga lokasi di kelurahan-kelurahan setempat.

Dia mengatakan, para penjaga itu dapat dilihat dengan mata batin khusus. “Untuk di Kota Ternate yang bisa melihat itu hanya pada orang-orang yang memiliki mata batin. Orang-orang ini bisa melihat orang-orang suci itu yang mendiami setiap Kelurahan,” katanya.

Selain penunggu di Kelurahan, sambung Ikram, pada jere-jere juga terdapat penjaganya. “Sampai sekarang kepercayaan ini masih tertanam di benak setiap generasi. Bahwa Ternate adalah kota suci, yang dihuni oleh para aulia dan anbia,” imbuhnya.

“Biasanya kalau ada musibah pasti ada kesalahan besar yang dibuat oleh warga Ternate. Misalnya, badai dan hujan petir, itu pertanda (pemberitahuan), pasti ada sesuatu,” katanya.

“Belakangan ini ada hujan dan badai petir kemudian ditemukan bayi yang dibuang. Sampai bayi yang dibuang itu sudah ditemukan, barulah badai dan petir berhenti dengan sendiri.”

Hairil Hiar

BAGIKAN

Komentar