oleh

Bantuan Nelayan di Pulau Surga yang Terlupakan

Sebuah kampung nelayan terselip di Pulau Daga Kecil, salah satu pulau dari 99 gugusan pulau yang tersebar di Kepulauan Widi, Kabupaten Halmahera Selatan.

Di pulau tersebut terdapat belasan rumah penduduk terbuat dari papan dan beratap daun rumbia. Seluruh penduduknya bekerja sebagai nelayan.

La Siani, salah satu nelayan yang mendiami Pulau Daga Kecil, sudah 15 tahun bersama istri menetap di pulau yang berhadapan langsung dengan Daga Besar atau yang populer dikenal dengan nama Pulau Widi, Maluku Utara.

Lelaki 67 tahun itu menghidupi istri dan anak-anaknya dari hasil tangkapan ikan di kawasan gugusan kepulauan Widi, Kecamatan Pulau-Pulau Joronga, Halmahera Selatan.

“Dari jaring ini baru kitorang (kami sekeluarga) bisa makan. Anak-anak bisa sekolah,” kata La Siani, kepada KIERAHA.com, beberapa waktu lalu.

BACA JUGA

Mengintip Nasib Nelayan di Pulau ‘Surga’ Halmahera

Ketika Tanjung Lifmatola Terancam

Aktivitas sebagai nelayan tentunya harus didukung dengan alat tangkap dan sarana lain yang memadai. Untuk La Siani, dirinya hanya bermodal perahu dayung dan jaring.

Menurut La Siani, dengan alat tangkap seadanya tentu tidak lah cukup. Meskipun begitu, bapak dua anak itu tetap tabah menjalani pekerjaan utamanya itu.

“Yah bersyukur, kalau dapa labe (dapat lebih) Alhamdulillah,” ucapnya.

Foto perahu nelayan di Pulau Daga Kecil

La Siani mengemukakan, beberapa hal yang menjadi kebutuhan nelayan-nelayan di pulau itu. Selama ini belum terpenuhi. Perahu katinting dan jaring yang cukup di antaranya.

“Harapan nelayan sini kalau bisa ada bantuan. Kalau bisa diusul itu bodi (perahu kayu) seperti katinting. Kalau bisa tambah jaring,” kata La Siani.

Bantuan yang diharapkan itu akan membantu kelancaran aktivitas nelayan setempat.

“Supaya torang (kami) bisa bebas. Kalau perahu kecil (yang digunakan nelayan-nelayan saat ini), ombak kecil saja sudah tidak bisa (melaut). Juga jaring kalau kecil tidak bisa dapat lebih.”

La Siani mengatakan hasil tangkapan ikan yang didapat kemudian dikeringkan menjadi ikan asin atau dalam bahasa lokal setempat disebut ikan garam.

Ikan-ikan asin yang berhasil dikeringkan kemudian dibawa jual ke pasar di ibukota Kecataman Pulau-Pulau Joronga dan kecamatan sekitarnya di kabupaten itu.

“Hasilnya dibawa jual. Kadang juga ada yang datang langsung beli di sini,” katanya.

Sampai sekarang nelayan-nelayan setempat masih menaruh harap akan bantuan dari pemerintah, baik di daerah setempat maupun pemprov Maluku Utara.

Menurut La Siani, selama ini nelayan-nelayan di Pulau Daga Kecil belum diberikan bantuan. “Belum pernah. Tara (tidak) pernah,” katanya.

“Pernah ada orang datang (di Pulau Daga Kecil). Namanya ibu Ani. Dia datang tanya-tanya. Dia foto-foto kita pu bodi (perahu milik saya) dan jaring. Dia bilang mau kasih bantuan.”

“(Sampai sekarang) tidak ada,” tutupnya.

BAGIKAN

Komentar