oleh

‘Barangka’ Masih Jadi Tempat Sampah Warga Ternate

Siang itu, Rabu, 31 Agustus 2020, langit di pusat kota Ternate mendung. Dari atas jembatan Kotabaru, Kecamatan Ternate Tengah, tampak seorang lelaki, berumur 22 tahun dengan karung di tangan, berjalan mengais sampah di sepanjang kalimati.

Lelaki itu adalah Ikbal asal Ambon, tinggal di Kelurahan Tabona, Ternate Selatan. Meski bau amis sampah di lokasi sekitar jembatan itu menyengat hidung, Ikbal seakan tak peduli.

Bapak satu anak itu terlihat terus membuka satu persatu sampah yang bercampur sedimen lumpur. Sampah itu berasal dari warga sekitar dan dari dataran tinggi wilayah setempat.

“Iya, bau. Ini sudah pekerjaan sehari-hari. Kalau memang ada waktu luang saya mencari almunium dan besi tua yang dibuang ke barangka (kalimati dalam Bahasa Indonesia),” kata Ikbal, begitu disambangi kieraha.com, di lokasi sekitar tumpukan sampah, Senin sore.

Ikbal menyebut jenis sampah yang sering ditemukan di dalam kalimati wilayah Ternate, itu berupa botol plastik air mineral, kursi plastik, atap seng, meja, lemari, bokor, gelas, ember plastik, popok bayi, batang pohon mangga, batang pisang, dan jenis lainnya.

Tumpukan sampah di bawah jembatan sekitar kalimati itu, kata Ikbal, terbawa saat hujan.

“Yang sebagian besar saya lihat sudah terbawa sampai ke pantai dan laut,” lanjut Ikbal.

Setiap selesai hujan deras berakhir, kata Ikbal, ia bisa mengumpulkan almunium dan juga besi tua dari kawasan kalimati itu dengan berat antara 50 sampai 60 kilogram per hari.

Ketua RT 8 Kelurahan Kotabaru, Anwar A Latif mengakui, jika sampah yang terdapat di wilayahnya itu berasal dari warga masyarakat sekitar dan dari warga di dataran tinggi.

Sampah di barangka Ternate. (Bahrun Ibrahim/Kieraha.com)

Menurut Anwar, meski sudah banyak dilakukan sosialisasi akan bahaya sampah tersebut, namun tetap saja warga masih lalai dengan tetap membuang sampah di dalam kalimati.

Barangka ini tong (kami) sudah sosialisasi dan kerja bakti ulang-ulang, tapi setiap hujan itu selalu saja sampah datang ke sini, pas tong tidor, warga sekitar ikut buang,” ujar Anwar.

Bahkan, lanjut dia, berulang kali upaya melarang warga membuang sampah di kalimati itu disampaikan di saat rapat tapi sama saja, masih ada yang belum sadar hingga sekarang.

Minimnya kesadaran warga ini, aku Anwar, perlu dibijaki oleh pemerintah kota setempat. Kalau tidak akan menimbulkan penyakit dan berdampak buruk terhadap ekosistem di laut.

Bahrun Ibrahim
Author
Bagikan Kabar Anda