oleh

Begini Kondisi di Gane dan Pulau Bacan Pasca Gempa Guncang Maluku Utara

Puluhan rumah warga di Gane, daratan Pulau Halmahera dan Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, dikabarkan ambruk setelah gempa magnitudo 7,2, Minggu sore WIT.

Informasi yang dihimpun Kieraha.com menyebutkan, puluhan bangunan terdampak gempa itu di antaranya terdapat di Desa Bisui, Luim, Tabahidayah, dan Desa Tagia.

Fahmi Abdul Kahar, salah satu korban gempa yang rumahnya ambruk ratah dengan tanah, menceritakan, saat ini ada 1.000 jiwa lebih yang mengungsi di ketinggian, kawasan Gunung Soi.

Desa Bisui dan Desa Luim, Kecamatan Gane Timur Tengah, menurut Fahmi, yang terparah terdampak gempa. Ia menyatakan, khusus di Desa Bisui ada puluhan rumah yang rusak.

“Itu termasuk rumah saya yang baru bangun. Ratah dengan tanah,” ucap Fahmi, terdengar lemas dari balik telepon, ketika dihubungi Kieraha.com, Minggu (14/7/2019) malam.

BACA JUGA

Gempabumi Magnitudo 7,2 Guncang Maluku Utara Tidak Berpotensi Tsunami

Warga Ternate dan Pulau Halmahera Panik Berlarian ke Gunung

Fahmi mengatakan ada beberapa titik yang menjadi lokasi warga mengungsi. Ribuan warga di Gane memilih dataran tinggi sebagai tempat yang teraman.

“Semua warga sudah berada di daerah ketinggian. Anak-anak sampai orang dewasa maupun para orang tua. Kami belum berani balik ke desa. Juga sampai saat ini belum ada informasi dari petugas terkait,” kata Fahmi.

Kawasan Gane Timur Tengah, Gane Timur Selatan, dan Gane Barat Selatan, Pulau Halmahera merupakan daerah yang masih tertinggal, baik akses jalan darat, listrik dan jaringan telekomunikasi.

Inayah Ismail, warga Desa Wayatim, Bacan Timur Tengah, Halmahera Selatan, menceritakan, sebagian besar rumah warga roboh dan rusak parah.

“Iya, rumah saya juga ratah tanah. Sekarang tong (kami) ada di gunung. Ini di Puncak Tonasa, belakang Desa Wayatim,” kata Inayah, begitu dihubungi.

Pusat gempa di Maluku Utara. (Dok BMKG)

Bidan Desa itu mengemukakan, ia bersama 54 KK yang mengungsi di gunung tersebut. “Karena tadi air kering jadi tong lari ke gunung,” katanya lagi.

Di Desa Wayatim, lanjut Inayah, ada 50 rumah. Seluruh Kepala Keluarga yang berasal dari Desa tersebut memilih bermalam di Puncak Gunung Tonasa.

“Sekarang ada hujan jadi ada bangun tenda. Sampai sekarang tong belum makan. Mau keluar ke kampung tapi takut, karena ada informasi jam 1 malam air akan naik,” sambung Inayah.

========= 
*Beberapa bagian pada artikel ini telah mengalami perubahan dari kalimat Skala Richter dihapus karena BMKG menggunakan satuan magnitudo.

Redaksi
Editor
BAGIKAN