oleh

Berteman Biru Laut Melihat Senja di Pantai Nukila Ternate

Jumat, 10 April 2020, angin di Taman Nukila, Kota Ternate bertiup pelan. Di depan pantai, kurang lebih lima meter, dua orang wanita, Febriani dan ibunya, duduk santai di bangku, menikmati senja.

Warga Kelurahan Tabam, Kecamatan Ternate Utara itu, tidak sendiri. Dari tempat duduk keduanya, tampak bersebelahan dengan beberapa pengunjung lainnya, yang juga di lokasi Pantai Taman Nukila, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate.

Para pengunjung di Taman Nukila, pada kota pulau berbentuk bulat kerucut itu, datang ke lokasi tersebut untuk menikmati senja sore, sambil melihat birunya laut di pusat kota itu.

“Tadi dari apotek, beli vitamin. Sama mama terus diajak (mampir) ke sini,” ucap Febriani, begitu disambangi, di lokasi Pantai Taman Nukila, Ternate, sekitar pukul 17.30 WIT.

Wanita 22 tahun bersama ibunya, 53 tahun itu, bilang, selama sepekan mereka tidak keluar rumah. Mumpung ada waktu beli obat untuk kebutuhan di rumah, mereka mampir ke sana.

“Datang ke sini (Pantai Taman Nukila) memang sengaja. Karena sudah seminggu ini hanya di rumah. (Bosan dan jenuh) iya. Makanya pas diajak mama, langsung ke sini,” lanjut Febriani.

Meski keluar rumah dan berada lokasi taman yang sering menjadi kerumanan warga di kota kecil itu, kata Febriani, selalu menerapkan panduan pencegahan virus corona Covid-19.

“Iya, kami sekeluarga terapkan kok panduan pencegahan itu. Tetap jaga jarak, kan. Selalu cuci tangan dan pakai masker. Apalagi, di Ternate ini sudah ada dua (kasus) positif Covid,” ujar dia.

Meski berkunjung ke taman pusat kota yang sering menjadi tempat kerumunan warga di Ternate itu, ucap Febriani selalu menjaga jarak fisik, dan terutama dengan orang lain.

Pengamatan kieraha.com, menjaga jarak fisik yang selalu dikampanyekan pemerintah dan gugus tugas untuk memutus mata rantai Covid-19 di kota itu, juga tampak dari warga lainnya.

Bahkan, di lokasi taman itu, setiap pengunjung yang datang seakan sudah kompak. Mereka mencari tempat duduk yang jaraknya jauh dari pengunjung lainnya. Padahal, di lokasi itu tidak tersedia satu pun panduan atau tanda untuk pengunjung duduk berjarak.

Sepinya Pengunjung

Titik nol Landmark Ternate. (Hairil Hiar)

Pada kota yang memiliki luas daratan 133,74 kilometer persegi dengan kemiringan tercuram di atas 40 persen, dan mengerucut ke arah puncak gunung api Gamalama itu, semenjak virus corona mewabah, suasana di setiap taman pusat kota pun berubah.

Tak hanya Taman Nukila yang sepi pengunjung, namun juga terdapat di Taman Landmark dan Taman Pantai Falajawa, Jalan Pahlawan Revolusi, Kecamatan Ternate Tengah.

Taman-taman pusat kota yang biasa dikerumuni pedagang kaki lima dan warga setempat, pun semakin sepi sejak 3 hari ini. Bukan hanya pagi, namun siang hingga malam hari.

“Kalau waktu sore itu masih mendingan. Itu masih ada beberapa orang (pengunjung) yang datang. Tapi kalau pagi dan siang itu so (sudah) jarang, bahkan tidak ada orang,” lanjut Hanifa.

Menurut wanita 50 tahun yang setiap hari bertugas sebagai pembersih taman, di pusat kota itu, menyatakan, sepinya pengunjung yang datang ke taman karena takut tertular virus corona.

“Semenjak ada wabah virus corona ini dong so tako (mereka sudah takut) datang ke taman sini. Kalau sebelumnya itu ramai, apalagi sore hari bagini (begini),” kata Hanifa.

Bagikan Kabar Anda