oleh

Cekdam Loto Patah Dihantam Banjir Lahar Dingin

Proyek pembangunan cekdam di Ternate, Maluku Utara, pada 2016 senilai Rp 48,5 miliar telah selesai. Pembangunan cekdam atau yang diartikan sebagai pengendali dan sendimen sungai itu berlokasi di kawasan Kalimati Togurara, Loto, dan Togafo.

Bakar, salah satu warga Loto, Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, mengemukakan, akibat dari pembangunan tersebut telah berdampak pada tertahannya batu-batu besar dan pasir yang terbawa dalam material lahar dingin Gunung Gamalama.

Pengamatan KIERAHA.com, sebagian lantai dan badan bangunan dari cekdam di Kelurahan Loto sudah tertimbun dengan pasir bercampur batu-batu besar.

“Padahal sudah disarankan, kalau di sini (Loto) itu alur banjir lahar dingin tidak boleh dibunuh (ditutup). Di sini aliran lahar sangat kuat,” kata Bakar, saat disambangi di rumahnya yang berjarak 40 meter dari Kalimati Loto, Sabtu, 16 Desember 2017.

Proyek cekdam yang menelan Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN) 2016 senilai Rp 48.552.000.000 itu sebagiannya sudah patah. Proyek ini ditangani oleh Satker Sungai dan Pantai Balai Wilayah Sungai I atau BWS Maluku Utara.

“Pembangunan cekdam ini setiap tahun dibangun, namun disayangkan tidak sesuai kondisi. Karena cekdam tertimbun batu dan pasir,” ujar lelaki 52 tahun itu.

“Mereka (pelaksana) tidak mau terima saran dari kami (warga setempat). Walau pun belum berdampak, tetapi dengan adanya batu-batu besar yang tertahan di cekdam ini yang membuat kami khawatir.”

BACA JUGA

Ancaman Merapi dan Mitos Gamalama

Semburat Mentari Menyapa Pagi di Bumi Kieraha

“Apalagi pembangunan cekdam ini membuat kedalaman barangka (sebutan lain kalimati) bukan turun tapi tambah naik. Ini karena batu-batu besar yang tertahan lebih dekat dengan bibir barangka,” sambung Bakar.

“Yang kami khawatirkan kalau hujan deras atau musim hujan seperti ini akan disertai lahar dingin dan akan meluap keluar dari barangka. Apalagi aliran lahar dingin di sini membawa material pasir dan batu.”

Julukan barangka Loto yang memiliki aliran banjir lahar dingin terbesar di kota bahari itu, harusnya lebih diperhatikan dari segi perencanaan pembangunan pengendali dan sendimen sungai di kawasan tersebut.

Luapan Lahar Dingin

Bakar mengatakan proyek pembangunan cekdam itu, bahan material bangunannya berupa pasir, batu kerikil, dan fondasi diambil secara gratis di dalam kalimati.

Pihak Satker Sungai dan Pantai I BWS Provinsi Maluku Utara juga membenarkan, bahwa pengambilan material proyek tersebut pun tanpa mengeluarkan anggaran.

“Benar. Tetapi ini kan soal teknis. Lagian semua pekerjaan cekdam ini membutuhkan biaya yang besar. Kami sewa alat berat (traktor) ambil (pasir dan batu) itu kan bayar. Juga beli solar dan sewa truk,” ujar Jhony Irfanto Dunda, PPK Sungai dan Pantai I BWS Maluku Utara, saat dihubungi melalui telepon, Minggu, 17 Desember 2017.

Cekdam Loto yang patah

Menurut Jhony, seluruh pelaksanaan pembangunan itu sudah sesuai prosedur dan perencanaan. Sehingga kekhawatiran warga Loto akan luapan banjir itu berlebihan. “Jadi kami (dalam membangun cekdam) menggunakan orang Satker Sungai Jogja. Di Jogja (Jawa Tengah) itu ada Gunung Semeru seperti Gamalama. Jadi tidak sembarangan, kami menghitung dan sudah sesuai dengan kondisi,” ujar dia.

Meski begitu, Jhony mengakui salah satu pembangunan cekdam di Kalimati Loto patah. “Untuk pembangunan beton (salah satu cekdam) yang patah itu karena ada mulut air (lahar dingin) yang ditutup. Sehingga saat banjir keluar itu (cekdam) tidak mampu menahan derasnya banjir sehingga lepas (patah). Jadi itu bukan karena kualitas beton yang tidak sesuai tetapi karena banjir,” kata Jhony.

Selain itu, soal beberapa kejanggalan yang disampaikan warga Loto, saat pertamakali melihat pembangunan cekdam dilaksanakan, menurut Jhony, kejanggalan tersebut terjadi karena ketersediaan anggaran untuk pekerjaan cekdam yang tidak memadai.

“Mengenai kejanggalan yang disampaikan (warga) itu kan soal teknis. Bagi kami, itu sudah dikerjakan sesuai anggaran dan prosedur. Prinsipnya semua pekerjaan di situ membutuhkan biaya yang besar dan dikerjakan sudah sesuai,” kata Jhony.

Jhony menambahkan, alokasi angggaran pembangunan cekdam itu tidak hanya di kawasan kalimati Loto. “Itu ada 3 kegiatan, Loto, Togurara dan Togafo,” ujar dia.

BACA JUGA

2 Remaja Keturunan Belanda Kampanye Malut Sadar Sampah di Aer Tege-tege

Jelang Akhir Tahun Ternate Koleksi 459 Janda Baru

Hal senada, dikemukakan Suyanto, warga Kelurahan Loto yang sehari-hari bekerja sebagai penjual pasir dan batu di Barangka Loto, Pulau Ternate.

Suyanto mengapresiasi tujuan baik dari pembangunan cekdam tersebut. Hanya saja, kata dia, pembangunan tidak tepat sasaran karena bangun beton dalam bentuk cekdam itu tidak mengurangi dampak bencana banjir lahar dingin yang seketika terjadi.

Pria 45 tahun itu menambahkan, seharusnya model pembangunan cekdam itu tidak dilakukan. “Ini karena kondisi sungai Ternate berbeda dengan kondisi sungai yang lain di luar Ternate. Sebab, kalau banjir lahar keluar, itu disertai dengan batu besar. Bukan hanya kerikil, batu fondasi atau pasir saja tetapi juga material batu besar,” sambung dia.

Sedot APBN Ratusan Miliar

Berdasarkan data yang dihimpun, menyebutkan proyek pembangunan cekdam di tiga lokasi kalimati itu dikerjakan oleh PT Waskita Karya. Proyek perbaikan sungai pasca letusan Gunung Gamalama itu setiap tahun dianggarkan pemerintah pusat.

Proyek cekdam 2017 di Togurara

Proyek yang berasal dari Satuan Kerja atau Satker Sungai dan Pantai BWS I Malut ini sebenarnya terbagi dalam beberapa tahap, yaitu pada 2013 dikerjakan oleh PT Waskita Karya dengan nilai kontrak Rp 32.946.861.000, sementara konsultan pengawas yakni PT Bina Karya dengan nilai kontrak sebesar Rp 786.802.000.

Proyek ini kembali dilanjutkan pada tahap kedua tahun 2014 dan masih dikerjakan PT Waskita Karya dengan kontrak senilai Rp 39.937.949.000, dan konsultan pengawasnya PT Budhi Cakra Konsultan dengan kontrak senilai Rp 982.327.000.

Begitu pula pada 2015, kedua perusahaan itu masih menjadi pelaksana dan konsultan dengan anggaran senilai Rp 42.847.300.000 untuk fisik, dan Rp 488.400.000 untuk pengawasan. Pada 2016, proyek itu dilanjutkan lagi dengan nomenklatur pembuatan bangunan pengendali sedimen dan perbaikan Sungai Tugurara, Sungai Loto dan Togafo pasca letusan Gunung Gamalama.

PT Waskita Karya kembali dipercaya menangani proyek dengan kontrak senilai Rp 48.551.000.000 dan juga PT Budhi Cakra Konsultan sebagai konsultan pengawas dengan kontrak senilai Rp 968.790.000.

Proyek tersebut muncul lagi pada 2017, khusus di kawasan Kalimati Togurara, Kelurahan Tubo, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate. Namun, untuk pekerjakan kali ini dilaksanakan oleh PT Arafah Alam Sejahtera dengan kontrak sebesar Rp 145.895.823.000, dan konsultan pengawas PT Rayakonsult senilai Rp 9.516.485.000.

BAGIKAN

Komentar