oleh

Cerita Sang Jenderal Penakluk Ikan di Pesisir Kao Halmahera

Pagi buta masih menyelimuti kampung Kao, Halmahera Utara. Angin di bagian Utara terus menerobos gelap yang sebentar lagi pagi. Awan memerah perlahan naik. Aroma ikan teri atau ngafi dalam sebutan warga desa setempat pun menembus hidung.

Para anak buah juragan (sang pemilik modal) pun mulai datang, di rumah yang dekat pantai, di Desa Kao, Rabu, 26 Maret 2020. Mereka adalah karyawan dan relawan berusia belia.

Sang juragan tidak melarang para relawan untuk ikut. Yang penting itu dilakukan saat liburan sekolah. Relawan ini umurnya 10 hingga 11 tahun. Anak-anak yang masih belia itu pun mendapat bagian jika hasil tangkapan sang jurangan ikan teri itu memuaskan.

“Saya senang ikutan di kapal Om (jurangan), apalagi waktu libur. Senang kalau dapat ikan banyak,” ucap Anto, salah satu rekan dari anak-anak yang ikut di kapal ikan tersebut.

BACA JUGA

Dari Mana Sampah yang Mengalir ke Laut Ternate Ini Berasal

Berteman Biru Laut Melihat Senja di Pantai Nukila Ternate

Di palka kapal haluan motor ikan, bocah SD kelas empat itu pun semakin optimis.

Saat itu, suasana masih pagi dan gelap, sang juragan yang melayani anak buahnya itu layaknya pelayan. Memang menjadi nelayan terutama hubungan antara karyawan dan juragan tak melulu hubungan layaknya bos seperti perusahaan besar. Hubungan karyawan dan jurangan ini menyatu seperti saudara.

Saat itu sang juragan menghidangkan satu teko teh panas dan roti. Seluruh pasukan yang siap ikut mencari ikan teri di pantai dipersilahkan makan sebelum tali pandara kapal naik.

Sang juragan, kali ini tampaknya tak ikut terlibat dalam berburu ikan teri di pantai itu. Sehingga dalam pelayaran motor ikan itu kemudian diambil alih oleh salah satunya untuk menjadi juru mudi kapal berupa kapten kapal besar di atas motor ikan kecil tersebut.

Pagi itu, waktu sudah menunjukkan pukul 5 subuh, tali pandara pun ditarik naik ke buritan kapal. Dan itu adalah tanda untuk para nelayan akan pergi berburu ikan teri menuju laut.

“Satu kali jalan, pengeluaran berupa minyak 25-30 liter, dan satu liter oli itu rata-rata Rp 300 ribu. Jam pulang berburu pukul 11 hingga pukul 12 siang,” ucap Buang, sang kapten pagi itu, ketika diajak berbincang oleh tim kieraha.com, yang juga turut dalam berburu ikan teri itu.

Ikan teri hasil tangkapan para nelayan tersebut kemudian dijemur. Minimal setengah kering, hanya butuh dua sampai tiga hari, kemudian ikan teri tersebut siap dibawa jual ke pasar.

Pagi itu, bersama karyawan orang dewasa dan juga anak-anak kecil yang ikut, kami menuju haluan pantai bagian utara. Di sana ada burung yang terbang sambil mendarat di atas air.

Bagi nelayan Kao, adanya burung Dara Laut adalah tanda kalau ikan teri berkumpul.

Burung Dara Laut tersebut pun sebagai tanda bahwa jangkar siap dibuang. Kali ini, tepatnya di depan Pantai Biang. Jaring kofo siaga di geladak utama siap dilempar kalau ikan teri tersebut sudah berlari ke dekat pantai.

“Ikan ngafi ini dia pe nasib sial, kalao di dolom ikan basar bage, nae di permukaan burung bage, kadara di dekat pantai kofo bage,” ujar Buang, yang berdiri di haluan paling depan.

7 Hari Berburu Ikan

Berburu ikan teri di Pantai Kao. (Supriyadi Sawai/Kieraha.com)

Pada hari pertama berburu ikan teri hingga memasuki hari ke tujuh, tepatnya pada Jumat, 3 April 2020, hasil tangkapan nelayan ikan teri tersebut nihil. Upaya menangkap ikan untuk membawa keuntungan ekonomi para nelayan itu justru faktanya berbanding terbalik.

“Sampai sekarang (hari ke tujuh) ini torang rugi (kami rugi), itu sekitar Rp 2 juta,” sambung Sudirman, sang juragan ikan teri, yang kembali menyapa karyawannya saat pulang melaut.

Ia menceritakan, usahanya sebagai pemilik motor ikan nelayan teri di Kao, Halmahera itu merupakan usaha mandiri. Selama ini melaut tanpa bantuan dari pemerintah daerah.

“Semenjak tahun 80 usaha ini sudah digeluti. Bisa dibilang ini warisan dari orang tua saya. Saat ini ada dua jaring kofo, itu pun didapatkan dari hasil panen buah kelapa,” lanjut dia.

Sudirman menceritakan, selain nelayan ikan teri, dirinya juga memiliki usaha kebun kelapa.

Alhamdulillah hasil panen dari kebun kepala ini bisa menopang usaha ikan teri dan hidup keluarga. Sebenarnya (usaha nelayan) ini bukan mata pencaharian tetap,” ujar Sudirman.

Nama Sudirman, lanjut dia, yang dikenal sebagai sang Jenderal Ikan Ngafi di Kao Halmahera, merupakan pemberian dari warga desa setempat. “Jadi sebutan sang jenderal ini adalah sapaan bagi orang dewasa di kampung sini. Sapaan itu karena kisah sang Jenderal Sudirman di masa-masa kemerdekaan dulu. Jadi nama saya Sudirman, itu dikaitkan dengan nama Jenderal Sudirman. Sehingga ini dikenal di banyak kalangan dan anak-anak,” tutup dia.

Supriyadi Sawai
Author
Hairil Hiar
Editor
BAGIKAN