oleh

Climate Tracker Gelar Pelatihan Jurnalisme dan Keanekaragaman Hayati di Medan

Climate Tracker menggelar lokakarya jurnalisme dan keanekaragaman hayati di Medan, Sumatera Utara, pada Jumat 29 Juni hingga Minggu, 1 Juli 2018.

Pada pelatihan jurnalisme yang digelar selama tiga hari ini diikuti oleh 14 peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Para jurnalis dan pekerja lingkungan yang terlibat dipilih karena memenangkan kompetisi menulis tentang Deforestasi dan Keanekaragaman Hayati yang ada di daerah masing-masing.

“Kami mencari jurnalis muda dari Indonesia yang ingin membuat perubahan dengan menulis mengenai deforestasi di Indonesia serta dampaknya terhadap keanekaragaman hayati lokal,” kata Chris Wright, Director Climate Tracker, saat membuka kegiatan tersebut, di Hotel Grand Inna, Jalan Balaikota, Jumat.

Chris bilang, hutan di Indonesia memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Peranannya krusial terutama dalam menyediakan kebutuhan esensial seperti makanan, air, udara, serta iklim yang sehat. Meskipun demikian, praktik penggundulan hutan besar-besaran masih terjadi yang dampaknya semakin mengancam keberlangsungan makhluk hidup yang bergantung pada hutan.

“Tren naik alihfungsi hutan untuk lahan perkebunan ini kian mengkhawatirkan, utamanya karena konsekuensi yang dapat berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Karena itu Climate Tracker menggelar pelatihan ini untuk membuat perubahan dengan menulis tentang praktik deforestasi, dan bagaimana dampaknya pada keanekaragaman hayati dan kehidupan masyarakat saat ini,” ujar dia.

Para penulis terbaik yang memenangkan beasiswa penuh tersebut dibekali pengetahuan instrumen untuk menjadi jurnalis kelas dunia melalui pembekalan intensif dari berbagai ahli dari dalam dan luar negeri terkait jurnalisme investigasi serta foto-jurnalistik mengenai deforestasi dan isu-isu keanekaragaman hayati.

“Dua Peserta terbaik dari workshop ini juga akan diberikan beasiswa pelatihan untuk menghadiri negosiasi biodiversitas internasional di Mesir pada November 2018 dan bertemu orang-orang luar biasa dari seluruh dunia,” kata Chris.

Peserta lokakarya di Medan. (Climate Tracker)

Author: Iriyanti Chandra

Editor: Redaksi

BAGIKAN