oleh

Data IDS Bertambah Jadi 1.277 Orang dan Kronologi Korban COVID19 di Ternate

Notifikasi kasus penanganan coronavirus atau COVID19 per wilayah kabupaten kota di Maluku Utara, terus mengalami peningkatan, pada Rabu 25 Maret 2020.

Data yang dirilis tim gugus tugas menyebutkan, jumlah isolasi mandiri atau IDS mencapai 1.277 orang dari data 1 hari sebelumnya pada 24 Maret 2020 sebanyak 699 orang.

Dari data notifikasi tersebut, untuk wilayah Kota Tidore Kepulauan sebanyak 317 orang, Ternate 279 orang, Kabupaten Morotai 196 orang, Halmahera Timur 165 orang, Kepulauan Sula 123 orang, Halmahera Utara 84 orang, Halmahera Barat 73 orang, Halmahera Selatan 26 orang, Halmahera Tengah 14 orang. Jumlah ini belum termasuk dengan Kabupaten Taliabu yang disebutkan tidak lengkap datanya.

Sementara, untuk orang dalam pengawasan (ODP) menjadi 44 orang, dan pasien dalam pengawasan atau PDP menjadi 5 orang. Kasus ODP dan PDP ini tercatat paling banyak berada di Ternate mencapai 23 orang dan 5 orang dirawat di RSUD Chasan Boesoirie.

Sisanya, sebanyak 8 ODP berada di Kabupaten Kepulauan Sula, 7 ODP di Halmahera Timur, 5 ODP di Kota Tidore Kepulauan, dan 1 ODP di Kabupaten Halmahera Selatan.

Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Siaga Darurat Bencana Non Alam Provinsi Maluku Utara, dra Rosita Alkatiri menyatakan, jumlah ini meningkat setelah screening yang dilakukan di pintu-pintu masuk bandara maupun pelabuhan di kabupaten kota setempat.

Peningkatan pada jumlah isolasi diri sendiri, ODP dan PDP ini berdasarkan hasil pengolahan data di Pusat Data dan Informasi Gugus Tugas. Data ini diperoleh dari Dinkes kabupaten kota dan KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) Kelas II Ternate, kata Rosita, Rabu sore WIT.

Kontak korban dan tambahan 1 PDP

Rosita mengaku, jumlah ODP dan PDP yang bertambah ini terjadi karena ditemukan pada saat pengecekan, terdapat hubungan kontak dengan pasien positif COVID19 di Ternate.

dra Rosita Alkatiri. (dok Gugus Tugas/Kieraha.com)

“Untuk penambahan 1 PDP ini sudah dirawat di RSUD Chasan Boesoirie,” sambung dia.

Ia menambahkan, 1 PDP yang masuk ruang isolasi ini dilakukan pada Rabu pagi (25 Maret 2020), saat bersangkutan dengan kesadaran sendiri datang ke rumah sakit untuk diisolasi.

“Ini dilakukan setelah bersangkutan mengaku memiliki (jejak) kontak dengan pasien positif COVID yang sedang dirawat dan dalam proses penyembuhan saat ini,” kata Rosita.

Data yang diperoleh kieraha.com terkait hasil laporan Penyelidikan Epidemiologi COVID19 yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Ternate dan provinsi menyebutkan, sebanyak 37 orang yang diketahui melakukan kontak dengan korban positif COVID19 di Ternate.

Mereka diantaranya 18 orang di Ruang Paru RSUD Chasan Boesoirie, 4 orang di Ruang UGD, 4 orang di Ruang Poli Penyakit Dalam, 1 orang di Ruang Rontgen Chasan Boesoirie, dan 6 orang di RST Ternate, serta 2 petugas salah satu bank swasta di wilayah Kota Ternate.

Dari hasil penyelidikan ini, disimpulkan bahwa dugaan penularan virus Corona atau COVID19 kepada korban positif COVID19 di Kota Ternate terjadi pada saat bersangkutan berada di Bandung, atau saat berada di atas kapal pelni dalam perjalanan laut dari Jakarta-Ternate.

Kronologi perjalanan korban COVID

Korban positif COVID19 ini berumur 53 tahun. Pasca tiba di Pelabuhan Ahmad Yani, Ternate Tengah, langsung dijemput oleh anaknya dan dibawa ke kos-kosan di wilayah setempat.

Infografis COVID19 di Maluku Utara. (Kieraha.com)

Kronologinya, korban sebelumnya berada di Bandung, Jawa Barat, kurang lebih 17 hari. Korban ke Bandung untuk anaknya yang akan studi. Setelah itu, bersangkutan kembali melalui Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, dengan pelabuhan transit atau yang disinggahi meliputi Tanjung Perak Surabaya, Makassar, Bau-Bau, Namlea, Ambon, dan Ternate.

Perjalanan ini kurang lebih 1 minggu di atas kapal laut itu. Kemudian tiba di Ternate pada 5 Maret 2020, bersangkutan sesaat masih berada di pelabuhan sekitar 1 jam karena menunggu jemputan anaknya. Setelah anaknya tiba, langsung dibawa menuju sebuah kos-kosan sebagai tempat tinggal sementara sebelum kembali ke kampung halamannya.

Karena bersangkutan mengalami batuk, flu, menggigil dan muntah, sehingga pergi memeriksa kesehatannya di Polik Umum Penyakit Dalam RSUD Chasan Boesoirie Ternate. Kemudian kembali mengonsumsi obat yang diberikan namun tidak ada perubahan.

Tindakan yang dilakukan ini, antara tanggal 5-10 Maret 2020. Karena tak kunjung sembuh, bersangkutan pada 10 Maret 2020 langsung pergi mengecek kesehatannya di RST Ternate dan kemudian oleh pihak rumah sakit tersebut merujuknya ke RSUD Chasan Boesoirie.

Pada tanggal 10-21 Maret 2020, bersangkutan mendapat perawatan medis di Ruang Paru RSUD Chasan Boesoirie, dengan tindakan rontgen dan pengambilan spesimen COVID.

Namun karena pada tanggal 21 Maret 2020, bersangkutan dinyatakan sembuh oleh dokter sehingga dipulangkan ke rumah (kos-kosan anaknya). Dan pada tanggal 23 Maret 2020 hasil spesimen yang dikirim pihak rumah sakit ke Jakarta pada 19 Maret itu positif COVID19, maka bersangkutan kembali dijemput untuk diisolasi di RSUD Chasan Boesoirie Ternate. Evakuasi sekaligus dengan korban yang memiliki kontak erat dengan korban COVID ini.

Kadis Kesehatan Kota Ternate, Nurbaiti Rajabessy membenarkan, hasil laporan penyelidikan ini. Meski begitu, ia enggan memberi komentar karena informasi disampaikan satu pintu.

“Nanti berhubungan dengan juru bicara, pak dokter Hama (Muhammad Sagaf). Beliau yang nanti sampaikan langsung karena merupakan juru bicara COVID Kota Ternate,” tutup dia.

Kieraha.com berusaha menghubungi dr Muhammad Sagaf, melalui telepon, pesan singkat dan via WhatsApp. Namun upaya yang dilakukan selama tiga hari ini belum bersambut.

BAGIKAN