Generasi Terakhir Perajin Bambu di Ternate

  • Bagikan
Perajin bambu Tongole. (Kieraha.com)

Suasana siang 26 Mei 2021, pukul 12.00 WIT, panas terik setelah hampir sepekan Kota Ternate diguyur hujan. Hari itu masih terasa gerah ketika dengan kendaraan roda dua dari pusat kota Ternate Utara menuju puncak Kelurahan Tongole, Kecamatan Ternate Tengah.

Tepatnya saat memasuki lingkungan Tongole, suasana kemudian berubah menjadi sejuk. Rerimbunan pohon cengkih dan pohon pala menjadi sumber penyejuk diantaranya.

BACA JUGA Sampah Menggunung hingga Terumbu Karang Rusak

Tongole sesuai namanya biasa disebut Kampung Ake Tege Tege dalam Bahasa Ternate, atau dalam Bahasa Indonesia memiliki arti Air yang Menetes. Asal nama kampung ini merujuk pada satu-satunya kampung yang memiliki sumber mata air di daerah puncak Gamalama.

Kampung yang 600 meter berada di atas permukaan laut ini dapat dijangkau dari pusat kota hanya cukup 10 menit. Kampung yang terletak di lereng Gunung Api Gamalama ini menghadap ke timur laut Pulau Halmahera.

Di sepanjang jalan menuju perkampungan ini, tidak hanya dihiasi tanaman rempah, namun juga bambu dan pekarangan rumah warga yang masih kosong ditanami pisang dan pepaya.

“Kampung Tongole identik dengan Kampung Bambu. Di sini banyak bambu china (bambu tutul),” kata Salasa Boma, Perajin Bambu Tongole, begitu disambangi kieraha.com.

Karena memiliki sumberdaya bambu, sebagian warga Tongole dulunya memilih menjadi perajin bambu. Bahkan hasil kerajinannya menjadi pendapatan utama mereka.

Tradisi perajin bambu yang sudah turun temurun hingga ke generasi Salasa, saat ini masih tetap membuat berbagai produk kerajinan untuk keperluan rumah tangga.

Salasa mengatakan awal dirinya menjadi perajin bambu sejak masih di usia muda.

“Itu tahun 1957 sampai sekarang masih perajin bambu,” kata Salasa.

BACA JUGA Kala Blue-Eyed Cuscus Ternate Terancam Punah

Lelaki 73 tahun itu menyatakan, dalam sehari bisa menghasilkan satu produk kerajinan bambu. Ini kemudian dijual dengan cara berkeliling kampung di pusat kota Ternate.

“Kerajinan ini saya jual Rp 400 ribu hingga Rp 1.200.000 per buah,” ucapnya.

Bahan kerajinan yang dihasilkan Salasa berupa kursi tamu, tempat tidur, dan box bayi. Yang dalam sehari bisa membuat satu produk yang kemudian dijual untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

“Selain itu pendapatan lainnya juga dari pala, cengkih, dan kayu manis,” tambahnya.

Generasi Terakhir Perajin Bambu

Bambu Tutul di Hutan Tongole. (Kieraha.com/Machmud Ici)

Selain Tongole, para perajin bambu ini juga tersebar di Moya, Marikrubu dan Torano. Sayangnya, beberapa perajin bambu di kampung itu sebagian besar sudah tidak ada.

“Sisanya empat orang di Kampung Tongole ini,” lanjut Salasa.

Salasa menyebutkan, perajin bambu di Tongogle rata-rata berusia di atas 50 – 70 tahun.

“Untuk anak muda generasi saat ini sudah tidak mau jadi perajin bambu. Mereka lebih senang kalau Ojek dan menjadi pekerja bangunan di luar kampung,” ujarnya.

Salasa dan tiga rekannya yang lain saat ini khawatir kalau julukan Kampung Bambu di Tongole hilang karena tidak ada lagi generasi di bawah mereka yang mewarisinya.

“Kalau kami sudah tidak ada maka kerajinan ini juga ikut hilang,” jelasnya.

Machmud Ici
Author
  • Bagikan