Pentingnya Reboisasi di Pesisir Pantai Tidore Maluku Utara

Avatar photo
Penanaman capilong. (Apriyanto Latukau/Kieraha.com)

Program Studi Biologi bersama Lembaga Peneliti dan Pemerhati Lingkungan Fakultas Tarbiyah IAIN Ternate beserta masyarakat membersihkan sampah sekaligus menanam sejumlah anakan pohon, di Pantai Wisata Doe Masure, Desa Balbar, Oba Utara, Tidore, Maluku Utara, Sabtu 27 Maret 2021.

Nadjamudin M Arahman, koordinator utama kegiatan penanaman pohon ini menjelaskan, tujuan kegiatan tersebut untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan mahasiswa terkait dengan pentingnya reboisasi, atau penghijauan kembali agar alam menjadi hijau.

BACA JUGA Tentang Kapal Juan Sebastian de Elcano yang Kembali Berlabuh di Tidore

“Di sini mahasiwa juga diarahkan untuk melihat situasi terkini di Pantai Doe Masure untuk pengembangan pantai wisata ini,” tutur Nadjamudin, kepada kieraha.com, Sabtu.

Sebanyak 300 bibit pohon Nyamplong atau Calophyllum inophyllum, yang memiliki nama lokal Capilong itu ditanam dengan ketinggian sekitar 7 cm di atas permukaan tanah.

Anisa Hasan, Sekertaris Desa Balbar yang ditemui kieraha.com, menyambut baik penanaman pohon ini karena sejalan dengan tujuan pemerintah desa setempat.

“Selain pembangunan infrastruktur, Pemerintah Desa Balbar juga mengupayakan pembangunan manusianya,” tutur Anisa.

BACA JUGA Daftar Daerah di Maluku Utara yang Penduduk Miskinnya Paling Banyak

Ia mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya tindaklanjut dari perjanjian kerja sama atau MoU antara IAIN Ternate dan Pemerintah Desa Balbar sebagai desa binaan.

“MoU ini berlaku selama empat tahun, dari tahun 2020 sampai tahun 2024. Kegiatan ini merupakan yang perdana dan akan terus berlanjut,” kata Anisa.

Anisa menambahkan, peningkatan pemahaman masyarakat tentang kelestarian lingkungan sangat penting untuk didorong, karena bisa menjadi sumber pendapatan ekonomi masyarakat di Pantai Wisata Doe Masure untuk saat ini dan masa mendatang.

Pentingnya Reboisasi di Pesisir

M Matdoan, dosen pembimbing mahasiswa Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Ternate menjelaskan, akhir-akhir ini semakin meningkatnya isu-isu lingkungan hidup seperti pemanasan global, maupun erosi permukaan harus disikapi secara serius.

“Apalagi potensi erosi permukaan sangat besar,” tutur Matdoan di lokasi kegiatan.

Menurut pria yang mengajarkan mata kuliah Ekologi Tumbuhan di IAIN Ternate ini bahwa reboisasi merupakan upaya yang harus dilakukan untuk mencegah perubahan lingkungan yang akan terjadi di masa mendatang karena berdampak langsung kepada masyarakat.

“Misalkan ketika terjadi hujan, air yang dari darat akan terbuang ke laut dan meningkatkan potensi pengikisan permukaan tanah. Akibat pengikisan ini, material tanah yang terbawa ke air laut akan mencemari pantai. Maka penting harus dilakukan reboisasi,” tambahnya.

Secara ekologis, lanjut Matdoan, terdapat dua lapisan fungsi tumbuhan pesisir pantai, bagian terdepannya adalah mangrove dan selanjutnya mangrove ikutan. Keduanya berperan untuk mencegah abrasi pantai sekaligus melindungi pemukiman masyarakat.

“Struktur pasir Pantai Wisata Doe Masure yang tidak dapat dihidupi mangrove maka kami memilih pohon Nyamplung untuk ditanami, karena pohon ini juga termasuk jenis mangrove ikutan” jelasnya.

“Alasannya, akar pohon Nyamplung yang kokoh, daun yang rimbun, serta batang yang kuat membuat pohon ini dapat menanahan ombak yang besar serta hembusan angin kencang” ucapnya.

BACA JUGA Mereka yang Terancam di Pulau Ternate

Namun ada satu hal yang sangat disayangkan, menurut Matdoan, ialah tantangan pesisir pantai di Indonesia, khususnya Maluku Utara ialah aktivitas penambang pasir liar yang kerap kali beraksi tanpa batasan.

“Sekalipun reboisasi telah dilakukan, namun aktivitas tidak dikontrol maka akan sama saja. Oleh karena itu, pemerintah harus membuat batasan untuk penambang pasir liar ini,” tutupnya.

Apriyanto Latukau