oleh

Kerasnya Batu Hidupi Warga Ternate

Langit di kota berjuluk Bahari Berkesan, Ternate Utara, Selasa 11 Juli 2017, cukup cerah. Pemandangan itu usai azan duhur wilayah Indonesia bagian Timur.

Pada areal batu muntahan Gunung Gamalama, sekitar Kelurahan Kulaba, terdengar bunyi palu dan batu saling bertalu. Tampak seorang lelaki dengan palu di tangan kanannya sedang memecahkan batu. Batu tersebut sangat populer disebut batu angus.

Batu angus adalah lava dari Gunung Gamalama yang telah mengering dan membatu. Warnanya hitam legam. Selain keras, batu angus Kota Ternate ini cukup tajam. Hampir seluruh pembangunan di kota itu menggunakan batu tersebut sebagai pondasi.

BACA JUGA

Misteri di Balik Makam Orang-Orang Suci yang Mendiami Ternate

Rumah-Rumah di Perbukitan Gamalama Terancam

Gamalama dan Pelajaran dari Loto Maluku Utara

Seorang lelaki itu adalah Sudin H Mandar, warga Kulaba, Ternate Utara, Kota Ternate.

Keringat berkucuran deras dari wajah lelaki itu.

“Sini, mari duduk,” kata Sudin begitu disambangi.

Di antara bebatuan, Sudin membuat sebuah tempat peristirahatan sederhana yang disebut bivak. Sementara, beberapa benda keras seperti linggis, cangkul, palu dan sekop yang kerap dipergunakannya untuk mengambil batu, berada di sekitar bivak tersebut.

Sudin mengatakan, pembangunan di Kota Ternate, Maluku Utara dari tahun ke tahun terus meningkat, namun tidak membuat kebutuhan material batu muntahan Gunung Gamalama itu berkurang. “Dari dulu sampai sekarang tetap seperti ini. Tidak kurang,” kata Sudin.

Senja di lokasi wisata Batu Angus

Untuk pengambilan batu, kata Sudin, hanya diambil pada permukaannya. Sebab, untuk mengambil batu yang berada di dalam timbunan batu lainnya, dibutuhkan kekuatan ekstra.

Menurutnya, batu yang berada di permukaan dan di dalam sedikit berbeda. Bagian luar sedikit lunak ketimbang di bagian dalam yang lebih padat.

“Kami hanya ambil yang di bagian permukaannya saja. Karena untuk mau ambil yang ada di dalam itu fisik sudah tidak mampu,” ucapnya.

Sudin mengemukakan, jumlah warga yang mengais rezeki dari kerasnya batu tersebut kurang lebih 10 orang. Mereka terdiri seluruhnya warga Kulaba dan Kelurahan Tarau.

“Bekerja begini hanya sampingan. Karena kami juga bekerja sebagai petani kebun,” tambahnya.

Sudin mengatakan pekerjaan seperti itu dibutuhkan fisik dan tenaga yang mumpuni. Untuk proses pengambilan batu 1 dump truk, dapat dilakukan 2 hingga 3 hari.

“Semua tergantung dari kepadatan batu,” sambungnya.

Meski begitu, kata Sudin, kadangkala batu yang dijual tidak sesuai dengan beratnya pekerjaan. “Harganya variatif. Mulai dari Rp 250.000 hingga Rp 350.000,” katanya.

Dia mengatakan penambahan biaya sebesar Rp 50.000 untuk jasa pengangkutan ke truk. Hal itu apabila si pembeli tidak menggunakan buru yang ikut mengangkut.

Sebenarnya, kata dia, jika diikuti dengan harga normal dijual sebesar Rp 500.000. Hanya saja, kebutuhan ekonomi dan pendidikan anak-anak di sekolah yang kadang mendesak, membuat harga batu yang dijualnya berkurang dari harga normal tersebut.

“Makanya, mau tidak mau, kami jual dengan harga itu,” katanya.

Source: Kabarnews

BAGIKAN

Komentar