oleh

Kisah Hidup Transmigran Asal Lombok yang Nyasar di Ternate

Seorang pria senja kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat ingin bertemu dengan anaknya. Lelaki 60 tahun ini sehari-hari beraktivitas sebagai pencari besi tua di Kota Ternate.

Karena program transmigrasi pada tahun 2006, lelaki ini bersama istrinya dari Lombok ikut ke Desa Lelilef, Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.

“Selama dua tahun di Lelilef langsung saya ke sini (Ternate). Selama di sini saya mencari besi tua. Dulu masih dengan istri saya pakai gerobak, sekarang pakai sepeda,” kata Bakri, lelaki tersebut, ketika disambangi kieraha.com, di depan Landmark, Minggu malam, 25 Oktober.

Bakri mengaku, sudah 12 tahun bersama istrinya tinggal di Ternate. Mereka bertahan hidup dengan mengumpulkan besi tua yang kemudian dijual setiap 4-5 hari sekali.

Penjualan besi tua tersebut mencapai sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu. Dari hasil penjualan ini kemudian digunakan untuk bayar kontrakan dan kebutuhan sehari-hari.

“Namun setelah istri saya meninggal dua tahun lalu saya tinggal dan tidur di tempat besi tua (Kelurahan Kotabaru). Dulu kalau masih dengan istri, saya tidak sendiri,” katanya merunduk.

Ingin Pulang ke Lombok

Bakri menceritakan, istrinya meninggal karena mengalami penyakit badan, akibatnya tidak bisa makan dan minum obat. Karena tidak bisa diobati sehingga Bakri membawa istrinya ke Weda. Namun tak berselang lama, istrinya kemudian meninggal dan dikebumikan di sana.

Sekarang Bakri seorang diri, tinggal di tempat besi tua, Kelurahan Kotabaru, Ternate Tengah.

Di usianya yang senja, Bakri mengaku dirinya ingin pulang ke Lombok dan bertemu anaknya.

“Di Lombok saya punya anak perempuan satu. Sudah menikah. Saya mau kumpul-kumpul uang dulu baru pulang ke Lombok biar bisa lebaran bersama anak saya di sana,” tutupnya.

Sahrul Jabidi
Author
Bagikan Kabar Anda