oleh

Kisah Perawat Karang-Karang Kota Bahari

Meski pantai telah menjadi taman bermain dan hidup mereka, tidak semua warga di lingkungan Kadaton Tidore, Kelurahan Muhajirin, Kecamatan Ternate Tengah, memahami pentingnya menjaga pantai.

Mereka anggap anugerah alam tak perlu dirawat hingga karang-karang laut nan cantik rusak dan tak kembali pulih.

Upaya reklamasi dan jangkar speedboat serta perahu nelayan menjadi segelintir penyebab rusaknya karang-karang di laut itu. Tak ingin berkelanjutan, Muhammad Tamsil, pemuda setempat, bergerak aktif dengan bersih-bersih sampah di sekitar pantai Kadaton Tidore.

“Awalnya, saya bersama teman-teman UKM Selam Universitas Khairun Ternate untuk bersih-bersih sampah di sekitar pantai Kadaton Tidore. Setelah itu perlahan saya ajak teman-teman Kadaton Tidore,” kata Tamsil.

Lelaki 37 tahun itu begitu cinta dengan laut Ternate. Kecintaannya, membuat dirinya begitu paham dengan kondisi bawah laut di Kota Bahari Berkesan tersebut.

Langkah lelaki yang kerap disapa Asep bersama rekan-rekan Perikanan Unkhair itu untuk membangun kesadaran terhadap anak-anak di lingkungan Kadaton Tidore.

“Dengan begitu teman-teman di kampung berpikir, ‘orang lain saja peduli dengan kebersihan di sini, kenapa kita yang di sini justru tidak peduli?’,” kata dia.

Upaya Asep sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Kawan-kawan sekampungnya tergerak ikut serta merawat karang walau banyak tantangan.

Yang terbesar adalah membangkitkan kesadaran warga dan para turis untuk tidak gampang membuat sampah dan membuangnya serampangan.

“Jadi selain mengangkati sampah, kami aktif mensosialisasikan kepada pengunjung dan warga di sini agar tidak membuang sampah sembarangan,” kata Tamsil.

Awalnya tidak mudah meyakinkan warga, khususnya para ibu pedagang kaki lima yang kerap membuang bungkusan minuman kemasan yang mereka jual ke bibir pantai setempat.

“Namun, alhamdulillah lama-lama mereka sadar akan pentingnya kebersihan di tempat kerja mereka,” kata dia.

Merambah ke Karang

Alumni Fakultas Ekonomi Unhas Makassar itu mengisahkan ketika wilayah permukaan Pantai Falajawa sudah bersih, pemuda Kadaton Tidore yang aktif dalam kelompok penjaga pantai kian bertambah jumlahnya menjadi 28 orang. Kebiasaan berenang di pantai setempat masih terus ada. Akhirnya, terbersit gagasan untuk membuat transplantasi karang, menggantikan karang di Pantai Kadaton Tidore yang rata-rata telah mati akibat reklamasi.

Karang di Pantai Falajawa rata-rata telah mati akibat reklamasi. (Liputan6.com/Hiar)

Pria yang bergabung bersama Nasijaha Dive Centre itu mengungkapkan daerah bawah laut Pantai Kadaton Tidore hingga Pantai Falajawa Satu adalah wilayah konservasi terumbu karang. Sejauh ini, program pemerintah itu gagal total.

Tidak berhasilnya program konservasi yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dan LSM lingkungan hidup itu ditengarai karena minimnya pengawasan.

“Mungkin saja karena setelah ditransplantasi, koral-koralnya dibiarkan begitu saja. Di sisi lain, pantai itu merupakan kawasan yang ramai direnangi warga, sehingga (bisa saja) yang berenang itu kemudian menginjak karang. Tak sedikit yang berenang masih pakai sepatu, otomatis patah semua karang transplantasinya,” kata Tamsil.

Selain perenang, rusaknya karang disebabkan pula speedboat dan perahu yang berlabuh melempar jangkarnya di lokasi transplantasi.

“Bahkan pengepul besi tua ikut ambil bagian dalam gagalnya transplantasi terumbu karang ini. Transplantasi karang waktu itu kan memakai besi tua sebagai wadah untuk mengikat karang. Nah, besinya digergaji semua sama pengepul lalu dijual,” ucap dia.

Merawat Karang

Belajar dari pengalaman tersebut, Asep bersama kawan-kawannya lalu menggeser areal yang akan ditransplantasi karang ke wilayah selatan depan Pantai Kadaton Tidore, di lokasi yang lebih sepi, tepatnya di belakang ikon kota ‘I Love Ternate’.

Karang di Pantai Falajawa rata-rata telah mati akibat reklamasi. (Liputan6.com/Hiar)

Asep mengatakan transplantasi tak lagi menggunakan besi tua, tapi memanfaatkan pipa dan beton batangan yang dibuat secara swadaya.

“Untuk membuat beton, kami anak-anak muda di siini patungan. Mulai dari membeli pasir, semen hingga buat beli kopi, makan dan rokok. Kaum tua juga turut membantu memberi dukungan dengan menyediakan teh hangat dan makanan ringan saat kami membuatkan beton batangan,” ujar dia.

Setelah modul karang siap dimasukkan ke dasar laut, kendala lain menghadang. Dari sekian pemuda Kadaton Tidore, saat itu hanya Asep, Dody, Theo, dan Iky yang telah mengantongi sertifikat Open Water. Sementara untuk menurunkan beton transplantasi hingga kedalaman empat meter, lalu menyusun, dan mengeceknya setiap saat, dibutuhkan keahlian menyelam dari legalitas sertifikat itu.

Menurut Asep, tak ada pilihan lain, ia lalu mengajari selam kepada kawan-kawannya yang lain secara bergantian. “Sekali turun, saya bawa dua orang. Setelah itu, gantian yang lain. Skill yang saya dapat waktu pelatihan SAR pun saya ajarkan agar kawan-kawan ini bisa saling menolong jika sewaktu-waktu ada insiden,” kata dia.

Begitu kemampuan dasar menyelam, seperti mask clearing dan ear equalization, dirasa mumpuni, tranplantasi karang mulai dilaksanakan. Hingga saat ini, tiga bulan setelah terumbu karang itu ditanam, para pemuda tersebut masih terus mengawasi kondisi karang setiap harinya.

“Setiap hari, setelah anak-anak selesai dengan rutinitasnya masing-masing, baik di kepolisian, kantoran dan yang di pelabuhan, mereka selalu mengecek. Kalau karangnya aman, lanjut ambil karung plastik untuk angkut sampah yang ditemukan,” kata Asep.

Penulis adalah alumni peserta Lokakarya Meliput Daerah Ketiga Angkatan ke-IV kerjasama LPDS dan Kedutaan Norwegia. Hairil mendapat tugas ke Palembang, Sumatera Selatan, Agustus 2016. Tulisan ini dimuat di regional Liputan6.com berjudul Kisah Perawat Karang-Karang Laut Tidore.

BAGIKAN

Komentar