oleh

Tentang Suku Tobelo Dalam di Halmahera Maluku Utara

Sejak dulu, Maluku Utara atau Moloku Kie Raha telah menjadi daerah utama perdagangan rempah-rempah. Ragam suku bangsa berlomba mencapai daerah ini dengan harapan mendapat keuntungan dari perdagangan tersebut. Kondisi ini membuat Maluku Utara menjadi daerah yang akomodatif menerima berbagai perubahan.

Pada provinsi kepulauan ini, terdapat salah satu pulau terbesar yang diberi nama Halmahera. Di pulau mirip Sulawesi itu dihuni beragam suku. Salah satunya Tobelo Dalam.

BACA JUGA

Mengapa Suku Tobelo Dalam Melarang Warga Masuk Hutan Halmahera Maluku Utara

Suku Tobelo Dalam Pernah Dirumahkan Tapi Kembali Lagi ke Hutan

Suku Tobelo Dalam selaku masyarakat adat atau indigenous people yang hidup di Pulau Halmahera memiliki sebaran dan kehidupan dalam komunitasnya tergolong tradisional.

Gambaran suku ini dilansir dalam laporan penelitian tentang Komunitas Tobelo Dalam di sekitar Taman Nasional Aketajawe Lolobata oleh Antropolog Farida Indriani.

Dalam naskah hasil penelitian ini, Tobelo Dalam, dalam literatur versi pemerintah disebut dengan nama Tugutil. Istilah lain adalah orang hutan atau ohongana manyawa dalam bahasa Tobelo (Duncan, 1998).

Sementara itu lanjut Farida, menurut J Abdurahman, seorang tokoh masyarakat di Ternate, mengatakan keberadaan Suku Tobelo Dalam lebih merujuk kepada pemahaman suku-suku yang hidup di hutan dan bermatapencarian mengolah hasil hutan. Umumnya mereka menyamakan istilah Tobelo Dalam ini dengan istilah Tobaru, Wayoli, Tugutil, serta Alifuru.

Hal senada dikatakan Ishak Naser, tokoh masyarakat Tidore, yakni pada ingatan kolektif masyarakat Maluku Utara, istilah Tugutil merujuk pada komunitas yang hidup di dalam hutan dan umumnya berada di pesisir Timur Pulau Halmahera atau dari Maba hingga Weda, istilah Tobaru menunjukan komunitas yang mirip namun berada di pesisir Barat Pulau Halmahera atau dari Loloda hingga Jailolo. Sementara, istilah Wayoli lebih terdengar di Jailolo sampai Sula, istilah Alifuru lebih banyak dijumpai pada literatur kolonialisme, baik Portugis, Spanyol maupun Belanda, yang nampaknya merujuk pada pemahaman yang sama.

“Sehingga untuk istilah yang dipergunakan ini dengan batasan merujuk pada komunitas yang hidup dengan kegiatan mengolah hasil hutan (berburu dan meramu),” sebut Farida.

Persebaran Tobelo Dalam

Perumahan Komunitas Tobelo Dalam lewat program Pemda Halmahera Timur di Dusun Walaino.

Komunitas Tobelo Dalam dapat dikatakan menyebar pada seluruh daratan hutan di Pulau Halmahera, namun secara khusus berdasarkan data penelitian yang difokuskan di sekitar Taman Nasional Aketajawe Lolobata, memetakan, bahwa persebaran komunitas untuk wilayah sekitar Taman Nasional Aketajawe ini meliputi kawasan Aketajawe dan Lolobata.

Data hasil riset menyebutkan, pada umumnya kelompok Komunitas Tobelo Dalam terpusat di sungai yang diberi nama Aer Tajawi dan Bayruray yang berada di dalam Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Sementara kelompok lainnya dari suku ini berada di Akesangaji, Akejira serta sekitar Aer Dote yang berada di luar kawasan taman nasional.

Wilayah tersebut kemungkinan besar masuk pada wilayah konsensi dari perusahaan PT Weda Bay Nickel, PT WKS dan lainnya.

Yang Pernah Dirumahkan

Untuk membuat agar perilaku Komunitas Tobelo Dalam sama dengan kelompok masyarakat umumnya, maka pemerintah maupun pihak swasta pernah merumahkan Komunitas Tobelo Dalam. Agar mereka meninggalkan kehidupan di hutan dan menetap di wilayah sekitar desa.

Upaya yang dilakukan pemerintah ini melalui Dinas Sosial Provinsi Maluku Utara pada 2006 dan 2009 dengan memfasilitasi pemberian bantuan perumahan atau rumah papan di beberapa lokasi proyek perumahan yang kemudian diberi nama sebagai Komunitas Adat Terpencil atau KAT.

Sumber Dinas Sosial mencatat sekitar 1.495 keluarga Suku Tobelo Dalam yang diberdayakan lewat proyek ini. Namun dalam perjalanannya pasca komunitas ini dirumahkan, tidak sedikit yang memilih kehidupan di hutan dan melaksanakan kegiatan di hutan seperti sedia kala.

Juga, dari sebagian yang tersisa, sudah bisa beradaptasi dengan orang lokal di sekitar desa, yaitu dapat dijumpai di Desa Waleino, Tukur-Tukur, Titipan, dan Tajawi, serta beberapa lainnya di Tanjung Lili. Bahkan beberapa Suku Tobelo Dalam ini sudah membangun rumah secara pribadi tanpa bantuan dari pemerintah maupun swasta, di Mabulan dan Kuli Tiga.

Mengandalkan Sumber Daya Hutan

Secara umum kehidupan keseharian Suku Tobelo Dalam, lanjut Farida dalam naskahnya, lebih menonjolkan pola bertahan hidup dengan mengandalkan ekonomi subsistensi.

Lewat pola berburu meramu serta berladang mereka, terlihat jelas bahwa secara langsung kehidupan Suku Tobelo Dalam mengandalkan sumber daya alam hutan yang masih lestari. Artinya sumber daya alam di hutan harus tersedia dalam jumlah yang mencukupi sehingga kebiasaan berburu meramu bisa tetap dilakukan sebagai bagian dari ciri khas kelompok ini.

Keberadaan hutan yang kaya potensi sumber daya alamnya akan menjamin kelangsungan hidup komunitas Suku Tobelo Dalam. Tak dapat dipungkiri bahwa sejak dulu Hutan Pulau Halmahera telah dieksploitasi untuk berbagai kepentingan, terutama sebagai sumber ekonomi daerah atau dengan izin perusahaan kayu maupun perusahaan pertambangan.

Bagaimana jika izin perusahaan ini masuk sampai ke wilayah berburu Tobelo Dalam?

Farida menyebutkan, kelompok Tobelo Dalam yang memilih tetap di hutan selama ini selalu berusaha menghindari konflik dengan berpindah lebih kedalam hutan untuk menghindari pembukaan hutan atas areal izin perusahaan-perusahaan kayu maupun pertambangan.

“Pada kondisi ini nampaknya orang Tobelo Dalam memilih menghindar konflik dengan pihak luar. Padahal dulu menurut cerita jarang ada orang luar yang berani masuk hutan karena mereka takut pada komunitas ini. Perkembangan zaman memaksa orang Tobelo Dalam merubah sifat radikalnya karena sekarang mereka lebih sering mengalah,” sambungnya. **

==========

Artikel ini dari laporan hasil penelitian Antropolog Farida Indriani tentang Komunitas Tobelo Dalam di sekitar Taman Nasional Aketajawe Lolobata Halmahera.

Bagikan Kabar Anda

# REKOMENDASI