oleh

Agar Hilirisasi Industri Baterai Berbasis Nikel di Halmahera Tetap Ramah Lingkungan

Produk komponen baterai berbasis nikel Indonesia akan berperan penting dalam rantai suplai global kendaraan listrik. Setidaknya, ada sembilan pabrik dengan 40 persen penjualan kendaraan listrik gobal berpeluang memperoleh pasokan baterai di Indonesia.

Koordinator Perkumpulan AEER atau Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat, Pius Ginting menyebutkan, meski kendaraan listrik dinilai ramah lingkungan, namun pertambangan nikel yang menjadi salah satu komponen baterai berpotensi merusak lingkungan jika dilakukan eksploitasi secara besar-besaran.

BACA JUGA Bejatnya Kasus Perkosaan Menimpa Gadis 16 Tahun di Halmahera Maluku Utara

“Kendaraan listrik sebenarnya akan lebih rendah emisi, namun perlu kebijakan dalam penggunaannya. Perlu pembatasan dalam eksploitasnya sehingga limbahnya seperti tailing dapat dikelola dengan baik tanpa membuang ke laut,” ujar Pius, melalui rilis yang diterima kieraha.com, Kamis kemarin.

Pius menyebutkan, jika kebutuhan nikel ini untuk pemenuhan transportasi pribadi, maka kebutuhannya akan sangat tinggi. Karena itu AEER mendukung untuk pengembangan kendaraan listrik tapi tidak merusak lingkungan. Perlu adanya pengembangan untuk kendaraan publik, sehingga terjadi perubahan budaya konsumsinya.

International Energy Agency memprediksi permintaan tahunan komoditas nikel kelas 1 tahun 2030 mencapai 925 kilo ton per tahun berdasarkan stated policies scenario dan 1.900 kilo ton per tahun berdasarkan sustainable scenario.

Indonesia merupakan negara dengan cadangan nikel terbesar dunia, yakni 23,7 persen dari total cadangan dunia. Tiga daerah dengan kandungan nikel terbesar adalah Sulawesi Tenggara 32 persen, Maluku Utara 27 persen, dan Sulawesi Tengah 26 persen.

“Indonesia memiliki deposit nikel berjenis laterit dengan kadar nikel yang lebih rendah dibanding nikel sulfida. Cadangan nikel dunia saat ini terdiri dari 60 persen nikel laterit dan 40 persen nikel sulfida,” ujar Pius.

BACA JUGA Misteri Laut Maluku Utara Berubah Warna dan Matinya Ikan-Ikan

Sementara itu, baterai berbasis nikel membutuhkan kemurnian tinggi sehingga pengolahan nikel laterit lebih sulit daripada sulfida. Proses peleburan atau smelting dan pemurnian membutuhkan energi yang lebih banyak serta teknologi yang lebih mahal.

Salah satu metode peleburan nikel laterit adalah proses hidrometalurgi, high pressure acid leaching atau HPAL, yang dipilih banyak produsen nikel baterai di Indonesia saat ini.

Pisu menyatakan, HPAL ini akan menghasilkan limbah olahan berbentuk lumpur atau tailing. Di Indonesia, ada tiga proyek HPAL dibangun di Morowali, Sulawesi Tengah dan Obi (Halmahera), Maluku Utara.

“Masalahnya proyek HPAL di Morowali dan Obi ini hendak membuang tailing ke laut dalam dengan alasan aktivitas seismik dan curah hujan tinggi. Sebanyak 25,6 juta ton tailing direncanakan buang ke laut Morowali oleh empat lini HPAL di kedalaman 250 meter. Keadaan ini akan jadi salah satu praktik pembuangan tailing terbesar di dunia,” ujarnya.

Di Obi, tailing yang akan dibuang ke laut mencapai 6 juta ton per tahun pada kedalaman 230 meter. Pius mengatakan, kandungan logam dan sisa pengolahan dalam tailing berpotensi masuk ke rantai makanan, terakumulasi dan mengancam kesehatan.

Wilayah Coral Triangle

Pius mengatakan, padahal, Morowali dan Obi berada di wilayah coral triangle yang memiliki biodiversitas laut tertinggi di dunia, termasuk terumbu karang, lamun, dan mangrove.

Sekitar 710 hektare terumbu karang diperkirakan hidup di perairan Bahodopi, Morowali. Sementara di Obi, Halmahera Selatan, berdasarkan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil atau RZWP3K Maluku Utara, rute migrasi lumba-lumba dan penyu terletak tidak jauh dari lokasi rencana pembuangan tailing. Fenomena upwelling yang memungkinkan tailing terangkat ke permukaan laut juga terindikasi di perairan barat Obi.

Berdasarkan RZWP3K Sulawesi Tengah dan Maluku Utara ini, lanjut Pius, perairan Morowali dan Obi juga tergolong zona perikanan tangkap.

Praktek pembuangan tailing ke laut tidak diperkenankan di banyak negara, termasuk Tiongkok negeri asal investasi nikel baterai menyetujui pelarangan praktik pembuangan tailing ke laut pada Kongres International Union for Conservation of Nature 2016.

Pius mengatakan praktik pembuangan tailing ke laut juga akan berdampak buruk pada masyarakat lokal yang bekerja sebagai nelayan. Peralihan penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik tak terhindarkan. Namun, produksi kendaraan listrik dari hulu ke hilir tetap harus bersih, memenuhi standar lingkungan global yang terbaik dan menyejahterakan masyarakat sekitar, tanpa terkecuali. Tanpa itu, ketidakadilan kian mendalam bagi ekologi rakyat lokal yang berkontribusi kecil bagi emisi gas rumah kaca.

“Tanpa produksi nikel yang bersih, kita hanya akan mengulang pola serupa yang memicu krisis iklim hari ini, yaitu eksploitasi berlebih sumber daya alam di negara berkembang untuk memenuhi pola konsumsi di negara lebih maju. AEER berharap penelitian ini menjadi pertimbangan bagi pengampu kebijakan dan investor dalam merumuskan hilirisasi industri baterai berbasis nikel untuk kendaraan listrik di Indonesia sembari tetap memperhatikan standar keberlanjutan lingkungan dan hak-hak masyarakat lokal,” tutup Pius. *

Bagikan Kabar Anda