Tim peneliti kembali menemukan spesies ikan purba Coelacanth (Latimeria menadoensis) di Perairan Maluku Utara.
Penemuan fosil berjalan tersebut dilakukan menggunakan metode pendokumentasian secara langsung oleh dua orang penyelam di kedalaman 145 meter di bawah laut.
Tim peneliti yang tergabung dalam penemuan ini berasal dari Universitas Pattimura, Underwater Sciencetific Exploration for Education (UNSEEN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Udayana, dan Unkhair Ternate.
“Penemuan ini menjadi bagian penting dari eksplorasi ilmiah laut dalam di Perairan Indonesia,” kata Gino Limmon dari Universitas Pattimura, dalam keterangannya, Rabu kemarin.
Ilmuwan kelautan yang juga Ketua Tim Peneliti itu menyampaikan bahwa penemuan Coelacanth di Perairan Maluku Utara membuktikan tingginya keanekaragaman hayati laut di kawasan ini.
Dua penyelam trimix dari tim yang berhasil mendokumentasikan seekor coelacanth dewasa di kedalaman 145 meter itu menghasilkan foto dan video in-situ pertama. Sebelumnya dokumentasi ini hanya menggunakan Remotely Operated Vehicle (ROV) di Pantai Utara Sulawesi dan kapal selam di bagian barat Papua Nugini.
Menurut Gino, penemuan ini bagian dari kolaborasi Internasional yang berfokus pada ekosistem terumbu karang.
“Penemuan langka ini merupakan bagian dari kolaborasi internasional didukung Blancpain Ocean Commitment. Berfokus pada penelitian ekosistem terumbu karang mesofotik dan habitat coelacanth,” ujarnya.
Melansir laman Britannica, spesimen hidup Coelacanth pertama sekali ditemukan pada 1938 di Samudera Hindia dekat pantai selatan Afrika. Di Indonesia, penemuan pertama ikan purba tersebut terjadi pada 1998 di Manado, Sulawesi Utara.
Coelacanth hidup sekitar 400 juta tahun yang lalu selama Periode Devonian. Diketahui, fosil Coelacanth yang usianya paling muda berasal dari periode kretaseus 145 juta hingga 66 juta tahun yang lalu. *





