Tarif Speedboat Ternate tujuan Sofifi Berubah Jadi Rp 55 Ribu

Avatar photo
Penumpukan penumpang di Pelabuhan Semut. (kieraha.com)

Tarif jasa angkutan laut untuk speedboat Ternate tujuan Sofifi mengalami perubahan harga tiket menjadi sebesar Rp 55 ribu. Perubahan ini bersifat sementara dan mulai berlaku tanggal 4 September 2022.

Kenaikan tarif angkutan penyeberangan laut ini dilakukan berdasarkan keputusan Pemprov Maluku Utara setelah kenaikan harga BBM yang dilakukan pemerintah pusat.

BACA JUGA Daftar Lengkap Kenaikan Tarif Kapal dan Speedboat Wilayah Maluku Utara

Iksan Adam, Direktur Koperasi Mutiara Manggadua Ternate selaku pengelola jasa angkutan speedboat yang beroperasi di Pelabuhan Semut menyatakan, tarif speedboat Ternate tujuan Sofifi naik 10 persen untuk speedboat berbahan bakar minyak tanah dan 15 persen untuk speedboat dengan bahan bakar jenis lainnya (BBM jenis pertalite).

BACA JUGA  Daftar Pejabat yang Dikembalikan ke Posisi Semula oleh Pj Gubernur Malut

“Untuk speedboat Ternate tujuan Sofifi rata-rata menggunakan bahan bakar minyak tanah. Dengan kenaikan 10 persen itu maka menjadi sebesar Rp 55 ribu dari harga tiket sebelumnya Rp 50 ribu,” jelas Iksan, kepada kieraha.com, Minggu malam WIT.

Ia menyatakan, kenaikan tarif speedboat dengan bahan bakar minyak tanah bukan akibat dari kenaikan harga BBM yang dilakukan pemerintah pusat.

“Tapi karena kami masih menggunakan tarif speedboat dengan regulasi SK Gubernur 2016. Sampai sekarang belum ada perubahan. Sementara penetapan regulasi itu dilakukan hanya untuk BBM jenis minyak tanah dan dengan harga minyak tanah saat itu,” lanjutnya.

Pemprov Jangan Tutup Mata

BACA JUGA  Pemda Halmahera Selatan Lepas 194 JCH Menuju Ternate

Iksan mengemukakan, masalah yang dialami motoris speedboat ini adalah persoalan penyaluran BBM jenis minyak tanah yang diatur hanya untuk rumah tangga dan bukan untuk pengusaha maupun industri.

“Ini yang jadi masalah. Ini yang menyebabkan motoris speedboat melakukan aksi unjuk rasa. Jadi aksi demo itu bukan karena kenaikan harga BBM, tapi karena BBM jenis minyak tanah ini dilakukan sweeping terkait regulasi penggunaan minyak tanah. Sehingga kami berharap Pemerintah (Provinsi Malut) tidak menutup mata melihat persoalan ini,” ujarnya.

Ia berharap adanya perhatian pemerintah provinsi mengenai masalah bahan bakar ini.

“Kalau memang BBM jenis minyak tanah dilarang untuk speedboat terus kami ini mau bagaimana. Kami seperti memakan buah simalakama,” sambungnya.

BACA JUGA  Pemda Halmahera Selatan Lepas 194 JCH Menuju Ternate