Privasi

Sumber Air yang Bikin Sehat dan Paling Murah di Pulau Ternate

  • Bagikan
Sumber air warga Dorpedu. (Sahrul Jabidi)

Pasokan air bersih milik PDAM di Kota Ternate belum sepenuhnya dirasakan oleh warga masyarakat setempat. Hingga sekarang masih banyak warga di Kota Ternate yang sulit mendapatkan air yang bersumber dari Perusahaan Daerah Air Minum atau PDAM ini.

Meski begitu, beberapa warga memilih untuk tidak bergantung dengan sumber air PDAM. Alasannya karena air dari sumur yang digali dinilai lebih bersih ketimbang air dari PDAM.

BACA JUGA Nasib Warga Ternate yang Mengeluh Soal Air Bersih PDAM

“Air sumur di sini bersih, tidak bau, tidak asin dan tidak berwarna. Air di sini sama seperti Aqua,” kata Ismail, warga Dorpedu yang memilih mengonsumsi sumber air dari sumur, begitu disambangi kieraha.com, Jumat 18 Juni 2021.

Ismail menyatakan, air sumur yang dikonsumsi ini berasal dari 3 sumur yang digali di dekat pohon sagu kelurahan setempat. Sumber air ini kemudian disalurkan ke rumah-rumah warga di Dorpedu, Kecamatan Pulau Ternate melalui saluran pipa yang dibuat oleh warga sendiri.

“Jadi setiap hari seluruh warga di sini minum air sumur. Ini sudah berlangsung selama 10 tahun lebih. Bahkan air ini sangat bersih dan lebih sehat setelah dikonsumsi,” kata Ismail.

Lelaki 57 tahun ini mengatakan bahwa air bersih yang dikonsumsi tersebut diperoleh melalui bak penampungan yang dibuat oleh warga secara swadaya, kemudian dialirkan ke rumah warga.

“Penyaluran air dari bak menggunakan dorongan mesin listrik,” sambungnya.

Setiap Hari Bayar Rp 1.000

Lurah Dorpedu, Dahri Muhammad menambahkan, sumur yang digali berada di tempat yang dekat dengan tumbuhan pohon sagu. Sumur ini dengan kedalaman 8 meter.

“Sumur ini hasil keringat warga sendiri. Sampai saat ini Alhamdulillah masih jalan,” ujarnya.

BACA JUGA Muatan Truk Lintas Melebihi Kapasitas Timpa Seorang Ibu dan Dua Anaknya di Ternate

Ia menyebutkan, setiap bulan warga membayar Rp 30 ribu kepada pengelola. Dari uang tersebut kemudian disiapkan untuk keperluan beli kran, pipa maupun perawatan mesin pendorong air. 

“Biar pakai banyak maupun sedikit sama saja, setiap hari warga hanya membayar Rp 1000. Bahkan dari uang yang dibayar ini kalau lebih akan disumbangkan ke masjid,” tutup Dahri.

Sahrul Jabidi

  • Bagikan
Exit mobile version