oleh

Melancong Sambil Belajar Sejarah 3 Benteng di Ternate

Belajar sejarah hanya dari buku mungkin terasa kurang lengkap. Untuk itu, Anda bisa datang ke tempat-tempat yang memiliki cerita dari masa lampau kala sedang melancong.

Jika ingin memahami sejarah rempah di Indonesia lebih dalam, Pulau Ternate adalah salah satu destinasi yang wajib dikunjungi. Ternate terletak di bawah kaki gunung api Gamalama, Maluku Utara.

Ternate–selain Tidore, Banda, dan beberapa daerah lain–adalah bagian dari negeri rempah dengan kekayaan berlimpah. Sejak dahulu, Maluku jadi incaran para penjelajah. Mereka berburu rempah, merebut serta menjajah, dan membangun benteng untuk mempertahankannya.

Itu mengapa, benteng-benteng bersejarah yang pernah dikuasai Portugis, Spanyol, dan Belanda berdiri di Ternate. Dan kini mereka jadi saksi sejarah.

Benteng Oranje

Benteng Oranje adalah benteng peninggalan Belanda yang didirikan pada tanggal 26 Mei 1607 oleh Cornelis Matclief de Jonge. Nama Fort Oranje diberikan oleh Francois Wiltlentt pada tahun 1609.

Lokasi benteng ini ada di pusat kota Ternate, tepatnya di Jalan Hasan Boesoeri, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah. Awalnya, Benteng Oranje yang dibangun oleh Bangsa Portugis ini merupakan Benteng Melayu karena dihuni oleh orang Melayu.

Empat abad yang lalu, Benteng Oranje adalah salah satu titik tersibuk di Pulau Ternate karena menjadi markas besar VOC di Hindia Belanda. Sampai pada tahun 1619, Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen memindahkan markas ke Batavia.

Sebelum direvitalisasi, benteng ini tampak tak terurus dan kumuh. Pada 2015, benteng pun selesai dipercantik dengan taman, kolam, dan lampu hias.

Benteng Tolukko

Benteng Tolukko terletak di Kelurahan Sangadji, Kecamatan Ternate Utara, menghadap ke arah Pulau Tidore dan menjadikan Gunung Gamalama sebagai latar belakang.

Pada tahun 1540, benteng ini dibangun oleh panglima Portugis yaitu Francisco Serao. Benteng ini digunakan sebagai pertahanan Portugis dalam menguasai cengkih serta mendominasi di antara bangsa Eropa lainnya.

Tahun 1610, benteng diambil alih oleh Belanda, kemudian direnovasi oleh Pieter Both. Lalu, tahun 1864, benteng dikosongkan karena beberapa bagian bangunan sudah rusak. Baru pada 1996-1997, Pemerintah Republik Indonesia memperbaiki benteng.

Dari atas benteng yang berusia ratusan tahun ini, pengunjung dapat melihat pemandangan laut dan Pulau Tidore, serta Gunung Gamalama.

Benteng Kalamata

Benteng Kalamata menyimpan sejarah panjang mengenai siapa saja yang pernah menguasainya. Pada tahun 1540, benteng dibangun oleh Portugis sebagai tempat pertahanan dalam rangka perluasan daerah kekuasaan di Ternate dan menahan serangan Spanyol.

Benteng Kalamata juga disebut Benteng Kayu Merah karena terletak di kelurahan Kayu Merah, Kota Ternate Selatan.

Sejak tahun 1575, benteng ini telah dikuasai Portugis, lalu setelah itu diambil alih oleh Spanyol. Pada 1609 benteng ini diurus Belanda sampai terjadi saling rebut antara Inggris, Belanda dan Tidore.

Tahun 1843, Belanda meninggalkan benteng ini, lalu diambil alih oleh Kesultanan Ternate. Namanya diganti menjadi Benteng Kalamata, untuk mengenang Pangeran Kaicil Kalamata.

Sejak saat itu, benteng menjadi tidak terawat, bahkan sempat tergenang karena abrasi air laut. Pada tahun 1994, akhirnya benteng diperbaiki oleh pemerintah Indonesia.

Saat ini, Benteng Kalamata menjadi objek wisata di Ternate. Dari benteng tersebut, wisatawan juga bisa melihat Pulau Maitara dan Pulau Tidore.

Lokadata.id
Soure
Bagikan Kabar Anda