oleh

Mengintip Nasib Nelayan di Pulau ‘Surga’ Halmahera

Langkah saya terhenti, saat berada di Pulau Widi, Kabupaten Halmahera Selatan. Memandangi keindahan laut dan rumah-rumah penduduk berbentuk panggung.

Dari pelabuhan Babang, Kecamatan Bacan Timur, kala memasuki perairan Widi terlihat hamparan gugusan pulau-pulau kecil. Airnya bening kehijauan dan birunya menyerupai birunya langit.

Di Pulau Daga Kecil, salah satu pulau dari 99 gugusan pulau yang tersebar di Kepulauan Widi, terdapat belasan rumah penduduk terbuat dari papan dan beratap daun rumbia.

Aktivitas penduduk di pulau itu sebagai nelayan. Kepulauan itu merupakan salah satu daerah destinasi wisata yang mulai dikembangkan pemerintah provinsi Maluku Utara. Di pulau itu pada 25-29 Oktober 2017 akan diadakan lomba mancing terbesar pertama di Indonesia.

Saat berada di atas dermaga Daga Kecil, bila pandangan beralih ke bagian Selatan dan Utara tampak jelas pesona gugusan Kepulauan Widi. Pada bagian Timur dari atas dermaga terlihat pulau Daga Besar atau yang populer dikenal dengan nama Pulau Widi.

Mungkin tidak banyak orang tahu di pulau Daga Kecil sesungguhnya ada penduduk. Penduduknya berasal dari Kecamatan Pulau-Pulau Joronga.

Kecamatan Pulau-Pulau Joronga dahulu masuk wilayah administrasi Kecamatan Gane Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.

La Siani, salah satu warga yang mendiami Pulau Daga Kecil, sudah 15 tahun bersama istri menetap di pulau yang berhadapan langsung dengan Daga Besar.

Lelaki asal Buton, Kabupaten Bau-Bau, Sulawesi Tenggara itu menghidupi istri dan anak-anaknya dari hasil tangkapan ikan di kawasan gugusan kepulauan Widi.

Aktivitas sebagai nelayan menjadi pilihan utama lelaki 67 tahun itu. Kala kondisi laut kurang bersahabat, La Siani memanfaatkan waktu yang kosong untuk menanam pohon kelapa.

Menurut La Siani, di pulau Daga Kecil hanya tanaman kelapa dan sukun yang bisa tumbuh. Dia pernah menanam pisang dan kasbi (ubi kayu) namun tidak tumbuh. Demikian juga buah pepaya.

“Yang bisa hanya kelapa dan sukun. Alhamdulillah bisa tumbuh dan sudah bisa dinikmati,” kata La Siani, ketika disambangi sedang berada di kolong rumah, beberapa waktu lalu.

Pulau Surga

Gugusan-gugusan pulau di Kepulauan Widi begitu cantik. Panorama alam dan air laut di sekitarnya sangat mempesona. Di setiap laut pada gugusan kepulauan Widi terdapat ribuan jenis ikan.

Gugusan-gugusan pulau Kepulauan Widi

Kekayaan laut dan panoramanya yang cantik dan masih asri itu makin membulatkan tekad La Siani untuk hidup dan menetap di sana. “Tempat ini sudah seperti surga,” katanya.

Tinggal dan menetap di gugusan kepulauan Widi yang jauh dari keramaian ibukota Kecamatan Pulau-Pulau Joronga dan Kecamatan Gane Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, La Siani bersama keluarganya tidak sendiri.

Lelaki yang mempersunting wanita asal Kecamatan Pulau-Pulau Joronga itu tinggal dan menetap di Pulau Daga Kecil bersama 10 kepala keluarga lainnya.

Menurut La Siani, seluruh penduduk itu memanfaatkan potensi kekayaan laut yang tersedia di Kepulauan Widi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Kini ada 11 kepala keluarga di Daga Kecil. Mereka menggantungkan hidup di laut, mencari ikan untuk memenuhi biaya anak-anak sekolah dan makan sehari-hari.

Di pulau itu warga bisa menikmati air bersih dari sumur yang digali, dan bisa menanam beberapa jenis tanaman seperti kelapa dan buah sukun.

Gugusan Kepulauan Widi tentu tidak datang tiba-tiba. Menurut La Siani, para pendahulu setempat pernah mengisahkan hadirnya gugusan-gugusan pulau di Widi.

“Kalau Pulau Widi, orang sini bilang itu Daga Besar. Yang dulu itu hanya ada Daga Besar, setelahnya baru ada pulau-pulau lain muncul di sekitar Daga Besar,” katanya.

“Salah satunya Daga Kecil ini (yang berpenghuni). Karena selain pulau Daga Kecil itu semuanya tidak bisa ditumbuhi pohon lain (kecuali mangrove).”

Nama Daga Besar kemudian dipopulerkan oleh pemerintah daerah dengan nama Pulau Widi. Di kepulauan Widi, terdapat 99 gugusan pulau yang cantik dan menyatu kala air surut.

Gugusan pulau itu nampak jelas disatukan oleh pasir putih halus kala air laut surut, lalu dikelilingi air berwarna hijau dan biru menyerupai birunya langit.

Ikan-ikan dan keanekaragaman lainnya yang terdapat di laut kepulauan Widi terlihat jelas dari atas air tanpa harus menceburkan kepala dan menyelam ke dalamnya.

Senjakala Kampung Nelayan

Kehidupan para nelayan itu sepertinya menuju senjakala. Warga di pulau itu mulai khawatir karena akan dipindah oleh pemerintah kabupaten setempat ke Gane.

Rumah penduduk dan dermaga Daga Kecil

Para nelayan itu memang belum mendengar kepastian rencana itu dari pemerintah setempat. Menurut mereka, Bupati Halmahera Selatan Bahrain Kasuba sudah empat kali mengunjungi Widi. Namun selama kunjungan tidak pernah bertatap muka dengan warga.

“Setahu kami dengan kedatangan ini (bupati) sudah empat kali. Tidak pernah bercerita. Kadang hanya duduk-duduk sendiri. Kami tidak berani,” kata salah satu nelayan, di lokasi dermaga Daga Kecil.

Menurut Bupati Halmahera Selatan, Bahrain Kasuba, kawasan gugusan pulau di Kepulauan Widi tidak berpenghuni. Soal 11 KK nelayan yang mendiami pulau Daga Kecil, kata Bahrain, mereka hanya nelayan dari daratan Halmahera yang tinggal dan berteduh sesaat.

“Kawasan gugusan di Pulau Widi ini tidak berpenghuni. Di sini kosong. Kalau memang ada rumah dan orangnya itu cuma sementara saja. Mereka rata-rata tinggal dari desa Joronga yang datang mencari ikan saja,” ucapnya.

Keponakan mantan Bupati Halmahera Selatan Muhammad Kasuba itu mengemukakan beberapa lokasi yang didiami oleh para nelayan tersebut akan ditata rapi untuk pengembangan pariwisata di Pulau Widi. Sehingga para nelayan itu akan dikembalikan ke tempat asal mereka.

Di lokasi yang terdapat rumah-rumah warga akan dibangun homestay. Selain itu pada areal belakangnya akan dibuat tempat pendaratan helikopter. “Itu untuk kepentingan festival mancing (di Widi),” katanya.

Di calon lokasi pendaratan helikopter itu kini terdapat puluhan pohon kelapa yang besar. “Pohon kelapa itu sudah ada sejak dulu,” kata Bahrain.

Meski begitu, Bahrain akan memberikan upah ganti rugi dari tanaman kelapa yang akan ditebang. “Jadi kita tetap ganti rugi kalau sudah ditebang,” katanya.

Senang Ada Jokowi 

La Siani bersama 10 KK lainnya tidak mengetahui adanya rencana lomba mancing Piala Presiden di Widi, atau yang populer dikenal dengan sebutan Widi International Fishing Tournament (WIFT) yang akan berlangsung pada 25 hingga 29 Oktober 2017.

“Saya tara (tidak) tahu. Tara pernah dengar. Baru tahu dari ngana (Anda),” ucap La Siani.

Perahu nelayan Daga Kecil

Menurut pemprov Maluku Utara, pada kegiatan lomba mancing Internasional itu akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. La Siani saat dimintai tanggapannya, mengaku senang jika pada kegiatan itu berlangsung akan dibuka dan dihadiri presiden.

“Ooh bagitu (begitu), saya baru tahu. Kalau sampe (sampai) bapak presiden datang, bagus, biar bisa lihat dari dekat kan,” ucap La Siani.

Pada pelaksanaan kegiatan itu, La Siani merasa senang karena selain melihat Presiden Jokowi secara langsung, juga istrinya akan mendapat teman.

Kegembiraan sang istri, kata La Siani, karena kepulauan Widi akan ramai dari kehadiran banyak orang. Selama ini, sang istri hanya sendiri ketika La Siani sedang melaut mencari ikan. Juga setelah anak-anak mereka tumbuh dewasa dan tinggal di daerah Buton.

Hal senada dikemukakan beberapa warga Desa Babang, Kecamatan Bacan Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, mengaku tidak tahu sama sekali rencana ivent mancing di Widi.

“Tidak tahu. Belum ada informasi,” kata Ramli mewakili beberapa rekannya yang sedang bersantai di lokasi pariwisata Dermaga Biru, Desa Babang.

Bupati Halmahera Selatan Bahrain Kasuba membenarkan kalau pelaksanaan Widi International Fishing Tournament itu belum dilakukan sosialisasi. Dia beralasan karena festival lomba mancing itu masih jauh waktu pelaksanaannya.

“Karena itu dalam waktu dekat baru kita sosialisasi,” kata Bahrain.

Hairil Hiar

BAGIKAN

Komentar