oleh

Misteri di Balik Makam Orang-Orang Suci yang Mendiami Ternate

Gunung Gamalama, Kota Ternate, begitu lekat dengan keyakinan atau mitos yang dipercaya masyarakat sekitar sebagai tempat suci, tempat bersemayamnya para raja, imam-imam masjid Kesultanan Ternate dan para penyebar agama Islam.

Ikram Sangaji, warga Kelurahan Gambesi, Ternate Selatan, mengatakan makam-makam suci yang berada di puncak Gunung Gamalama biasa disebut jere.

Lelaki 34 tahun ini mengemukakan, jere atau makam suci itu tumbuh sendiri.

“Ayah saya menceritakan jere itu makamnya para aulia dan anbia. Dahulu jere yang tumbuh batu nisannya berwarna putih, sekarang berwarna hitam,” kata Ikram.

Menurutnya, makam yang diyakini milik orang-orang suci ini tak hanya tumbuh di puncak Gamalama tapi juga di beberapa Kelurahan di Pulau Ternate.

“Seperti jere di Kelurahan Kulaba dipercaya milik para Sultan Ternate, Kelurahan Sangaji Utara milik Sangaji (panglima perang Kesultanan Ternate),” ucapnya.

Adapun jere di Sulamadaha milik para penyebar agama Islam, Kelurahan Sasa milik para penasehat empat Kesultanan di Maluku Utara, Kelurahan Tobona milik para imam-imam masjid Kesultanan Ternate dan Foramadiahi milik Sultan Khairun Ternate.

Penunggu-penunggu Gaib Ternate

Ikram mengatakan setiap Kelurahan di kota bermoto Bahari Berkesan itu memiliki penunggunya. Menurutnya, para penunggu itu dipercaya sebagai penjaga lokasi di Kelurahan tersebut.

“Untuk wilayah Pulau Ternate yang bisa melihat itu hanya pada orang-orang yang memiliki mata batin khusus. Orang-orang ini bisa melihat orang-orang suci itu yang mendiami setiap Kelurahan,” katanya.

Selain penunggu di Kelurahan, sambung Ikram, pada jere-jere juga terdapat penjaganya.

“Sampai sekarang kepercayaan ini masih tertanam di benak setiap generasi. Bahwa Ternate adalah kota suci, yang dihuni oleh para aulia dan anbia,” katanya.

“Biasanya kalau ada musibah pasti ada kesalahan besar yang dibuat oleh warga Ternate, misalnya ada badai dan hujan petir, itu adalah tanda atau pemberitahuan.”

Seperti belakangan ini, kisah Ikram, ada hujan badai dan banjir yang terjadi, kemudian ditemukan bayi yang dibuang atau orang meninggal yang ditemukan.

“Sampai bayi yang dibuang atau orang meninggal itu sudah ditemukan, barulah badai dan banjir berhenti dengan sendiri,” sambungnya.

BAGIKAN

Komentar