oleh

Nasib Siswi dan Guru Bertaruh Nyawa ke Sekolah di Maluku Utara

Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba, enggan memberikan komentar seputar siswi dan guru yang rela bertaruh nyawa saat menyeberangi sungai menuju sekolah.

Hal itu, tampak dari respon gubernur begitu ditanyakan terkait aspirasi warga desa. Peristiwa itu sebelumnya terjadi di Desa Trans Mandafuhi (sebelumnya ditulis Desa Kawata), Kecamatan Mangoli Utara, Kepulauan Sula. Warga desa meminta adanya bantuan pemerintah membuat jembatan penghubung.

“Nanti saya cek lagi,” kata gubernur, singkat, sambil berlalu, memasuki pintu utama rumah dinasnya, di Kelurahan Takoma, Kecamatan Ternate Tengah, Sabtu malam, 7 Maret 2020.

Anggota DPRD Provinsi Maluku Utara, Abdul Malik Silia mengemukakan, saat ini warga masyarakat di sana sangat membutuhkan bantuan pembangunan jembatan tersebut.

Ia mengatakan penantian warga akan jembatan penghubung sudah berlangsung lama. Bahkan, warga pernah menyampaikan langsung kepada Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba.

“Warga di sana resah kalau sudah hujan. Apalagi anak-anak mereka sebagian besar bersekolah di sekolah yang daratannya terpisah oleh sungai,” kata Malik.

Ia berharap, adanya perhatian segera dari pemerintah melalui alokasi APBD, baik melalui Pemda Kabupaten Kepulauan Sula maupun Pemerintah Provinsi Maluku Utara.

Erva Umasugi, warga Desa Kawata, Kecamatan Mangoli Utara Timur, mengutarakan, kondisi yang terjadi di Desa Trans Mandafuhi itu persis yang terjadi di Desa Kawata. “Sebagian besar pelajar dari desa kami harus menyusuri sungai saat berangkat sekolah,” kata Erva.

Erva mengutarakan keinginan warga desa adalah membangun jembatan penghubung.

“Karena aktivitas mereka setiap hari harus melewati sungai. Kalau hujan tiba itu airnya keluar dan arusnya deras,” kata Erva.

Irawan Lila
Author

==========

Artikel ini telah mendapat pembaharuan. Sebelumnya video viral yang ditulis terjadi di Sungai Desa Kawata itu ternyata diambil di lokasi Sungai Desa Trans Mandafuhi.

Bagikan Kabar Anda