oleh

Pembatasan Jam Malam di Ternate Ini Kata Warga Persis Mengusir Pocong

Menangkal persebaran wabah virus corona di Ternate, Maluku Utara diibaratkan seperti mengusir pocong. Betapa tidak, upaya pencegahan hanya berlaku di malam hari.

Seluruh warga dilarang keluar di atas jam 10 dan akses masuk jalan lingkungan ditutup.

Sahrul Jabidi, salah satu warga di Kecamatan Ternate Utara, kala melihat proses pencegahan yang dilakukan warga Pulau Ternate di sebagian kelurahan kota kecil itu gamang.

Karena upaya pencegahan wabah itu justru berbanding terbalik dengan kondisi siang hari. Akses jalan masuk kembali dibuka dan warga kembali beraktivitas seperti biasa, kata dia.

Sahrul mengatakan penanganan wabah virus dengan pola ini persis mengusir hantu pocong.

“Akses jalan masuk saat malam hari ditutup rapat untuk mencegah virus namun siangnya aktivitas kembali normal,” kata Sahrul, ketika disambangi, Rabu pagi, 6 April 2020.

“Padahal wabah virus Covid-19 ini tidak mengenal waktu, malam atau siang sama saja. Kalau ada yang sudah terinfeksi dan tidak segera diisolasi pasti berpotensi menulari ke yang lain. Sehingga penutupan akses jalan bagi saya tidak efektif, malah bikin bingung, karena pencegahan virusnya di mana,” lanjut Sahrul, yang tinggal di wilayah Kelurahan Akehuda.

Bagi Sahrul, yang efektif dilakukan warga Ternate, itu dengan tetap menjaga jarak, berdiam di rumah kalau tidak ada kepentingan mendesak, dan selalu mengenakan makser di manapun berada saat mengalami sakit dengan gejala mirip virus Corona Covid.

“Selain itu, perlunya kerjasama pemerintah dari tingkat provinsi hingga kelurahan dan RT. Kerja sama ini ikut melaporkan warga yang masih berkerumunan di beberapa titik jalan, pangkalan tempat duduk, dan memantau setiap warga yang beraktivitas di luar karena desakan ekonomi, demi memastikan kondisi kesehatan mereka masing-masing,” ujar Sahrul.

Inti Pencegahan Virus
Salah satu jalan lingkungan yang dilockdown malam hari. (Hairil Hiar)

Sahrul menilai, pembatasan jam malam dengan menutup akses jalan masuk dan keluar dari setiap jalan lingkungan itu justru menimbulkan kerumunan kecil karena beberapa anak muda sering kedapatan berkumpul di satu titik.

Dokter Muhammad Sagaf, juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Kota Ternate menyatakan, proses penutupan jalan lingkungan di kelurahan kota kecil itu berangkat dari kesadaran warga sendiri yang ingin mencegah persebaran virus.

“Sehingga untuk menghindari kerumunan warga yang berlalu lalang di jam malam makanya itu inisiatif masyarakat untuk melakukan pembatasan secara mandiri untuk akses keluar dan masuk wilayahnya. Kalau pun ada yang masuk itu pun dari warga setempat,” jelas Sagaf.

Sagaf menambahkan, langkah yang paling efektif mencegah penularan wabah virus corona itu adalah kembali ke diri masing-masing warga sendiri. Terutama dengan tetap mematuhi protokol pencegahan Covid-19 sebagaimana yang dianjurkan pemerintah.

Bagikan Kabar Anda