oleh

Peminat Kartu Prakerja di Maluku Utara Masih Minim

Kementerian Tenaga Kerja mencatat wilayah Provinsi Maluku Utara masuk peringkat empat besar daerah dengan peserta Kartu Prakerja paling sedikit di Indonesia dari 5,5 juta penerima. Padahal, pada setiap gelombangnya tersedia kuota untuk 800 ribu penerima Kartu Prakerja tersebut dari Sabang sampai Merauke.

“Maluku Utara hanya menjaring 13.500 penerima Kartu Prakerja, atau berada pada posisi ketiga di bawah Papua Barat (6.600 penerima Kartu Prakerja), dan Papua (10.500 penerima Kartu Prakerja). Sementara itu, Kalimantan Utara ada di posisi keempat dengan menggaet 27.300 penerima Kartu Prakerja,” kata Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja Kemenaker, Denni Puspa Purbasari, di Ternate, Senin, 19 Oktober 2020.

Sebab itu kata Puspa, pihaknya berharap pada 2021, Kartu Prakerja bisa menarik lebih banyak peminat di 10 kabupaten kota di Provinsi Maluku Utara. Itu karena potensi angkatan kerja di provinsi kepulauan ini sangat besar untuk menggerakkan ekonomi daerah.

“Mohon dimaklumi jika tahun pertama program Kartu Prakerja ini belum meraih keikutsertaan penerima dengan tingkat antusias yang merata di setiap daerah,” katanya.

Hal itu menurut Puspa, disebabkan beberapa faktor, antara lain sosialisasi dan akses komunikasi internet itu lantaran pada tahun pertama sosialisasi Kartu Prakerja tersebut sepenuhnya dilaksanakan secara daring.

“Kami yakin tahun depan tingkat kepesertaan akan lebih tinggi di daerah yang tahun ini angkanya di bawah rata-rata nasional,” katanya.

Puspa mengatakan Program Kartu Prakerja mulai dari gelombang I hingga X, telah merengkuh dan melayani Indonesia secara digital total 5.597.179 penerima Kartu Prakerja yang tersebar di 34 provinsi pada 514 kabupaten dan kota di Tanah Air.

“Tiga puluh provinsi lain berhasil mencatatkan lebih dari 50 ribu kepesertaan Kartu Prakerja, dengan jumlah penerima terbanyak ada di Jawa Barat 817,6 ribu, Jawa Timur 667,9 ribu dan DKI Jakarta 584,4 ribu,” ucapnya.

Bahkan menurut Puspa, penerima Kartu Prakerja di tahun pertama sudah tepat sasaran ke mayoritas peserta berusia muda, menganggur, hidup di sektor informal, serta memiliki pendapatan rendah.

“Karena itu, dana Rp 3.550.000 bagi setiap peserta, meliputi bantuan pelatihan dan insentif menjadi sangat berarti untuk hidup di masa pandemi seperti saat ini,” lanjutnya.

Ia menambahkan, menjadi penerima Kartu Prakerja ini terbukti memberi dampak besar pada status kebekerjaan mereka. Baik mempertahankan status kebekerjaan maupun mengurangi laju pengangguran.

“Sebelas persen penerima Kartu Prakerja yang sebelumnya menganggur kemudian bekerja. Sementara 47 persen penerima Kartu Pekerja yang sudah bekerja tetap bekerja setelah mengikuti berbagai pelatihan di Program Kartu Prakerja,” katanya.

Irawan Lila
Author
Bagikan Kabar Anda