oleh

Pemprov Malut Gelar Rakor dan Sinkronisasi Program Kebudayaan di Sofifi

Pelaksanaan Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Program Kebudayaan Maluku Utara, di ibu kota Provinsi, Sofifi, Kamis (14/3/2019) malam, berjalan lancar.

Rapat tersebut difasilitasi oleh pemerintah provinsi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Malut. Hadir para Kepala Bidang Kebudayaan dari 10 Kabupaten Kota, Jogugu empat Kesultanan Moloku Kie Raha, dan Komunitas Budaya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Utara, Ahmad S Kamis, mengatakan kegiatan bertajuk Melestarikan dan Memajukan Kebudayaan Maluku Utara itu merupakan program pertama pemprov Malut.

“Rapat ini sifatnya strategis bagi kita, khususnya kita yang berkecimpun di dalam kebudayaan. Rapat ini dengan semangat Provinsi dan Kabupaten Kota untuk menyusun pokok-pokok pikiran kebudayaan,” katanya kepada Kieraha.com.

Ahmad mengemukakan, tujuan rapat tersebut untuk menyamakan beberapa persepsi kebudayaan Kabupaten Kota dan Provinsi agar dapat dilaksanakan pada 2020. Baik oleh pemerintah di daerah maupun melalui Kemendikbud.

“Karena dalam rapat ini juga kaitan dengan rencana penyusunan APBN tahun anggaran 2020, yang itu akan direalisasikan dalam bentuk alokasi dana DAK untuk berbagai kegiatan yang dilakukan di daerah maupun pusat,” ujarnya.

Ahmad mengharapkan dalam diskusi-diskusi yang berjalan, pada Jumat-Sabtu tersebut, bisa melahirkan tindakan strategis yang dapat dilakukan di tingkat Kabupaten Kota. “Sehingga nanti kita sinkronkan dengan kegiatan-kegiatan yang disusun oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” lanjutnya.

Harapan Kesultanan Moloku Kie Raha

Sangaji Tafaga Kesultanan Ternate, Drs Sahil M Nur berharap, hasil rakor dan sinkronisasi budaya ini bisa melahirkan suatu program terpadu di Maluku Utara

Juga memberikan semangat dan dorongan baru bagi Komunitas Budaya yang selama ini belum diperhatikan oleh pemerintah pusat maupun daerah.

“Karena sekarang ini komunitas-komunitas budaya di Maluku Utara sepertinya tidak terurus. Padahal program kebudayaan ini ujung tombaknya ada di mereka. Sehingga keberadaan mereka ini harus dipupuk dan dikembangkan,” ujar Sahil.

Irawan Lila
Author
BAGIKAN