oleh

Penyebab Kopra Maluku Utara Kalah Saing di Pasar Ekspor

Kopra hingga saat ini masih menjadi komoditas terbesar yang dilalulintaskan keluar wilayah Maluku Utara dan Indonesia. Pada tahun 2019, tercatat kopra asal Maluku Utara yang dilalulintaskan keluar sebesar 54.470.489 kg. Jika dihitung harga kopra Rp 4.000 di tingkat petani, maka potensi ekonomi dari kopra pada 2019 itu mencapai senilai Rp 217 miliar.

Hal ini disampaikan Khori Arianti, Kepala Seksi Karantina Tumbuhan Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate, ketika dikonfirmasi wartawan, melalui via WhatsApp, Jumat, 10 Juli 2020.

Khori menjelaskan, adanya perkembangan pasar internasional yang melakukan permintaan terhadap komoditas unggulan Maluku Utara ini tentunya sangat baik untuk petani kopra. Bahkan ia memperkirakan pada tahun ini akan terjadi peningkatan, mengingat data lalu lintas kopra dari Januari hingga Juni 2020 telah mencapai 34.858.897 kg. Jumlah ini meningkat 20 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Potensi ini tentu meningkat lagi jika kopra bisa diekspor langsung dari Malut,” sebut Khori.

Khori menyatakan, Balai Karantina Pertanian di Ternate siap mendukung akselerasi ekspor kopra Malut melalui pemenuhan ketentuan fitosanitari sesuai persyaratan negara tujuan.

Hal ini kata Khori, sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, terkait program Gerakan Tiga Kali dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani Indonesia.

Data Balai Pusat Statistik Provinsi Malut menyebutkan, luas pertanaman kelapa di Maluku Utara tahun 2015 mencapai 147.733 hektare dengan jumlah produksi sebesar 231.619 ton. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan tanaman perkebunan lainnya seperti pala, cengkeh, dan kakao.

Wajar, kata Khori, jika kopra juga menjadi komoditas ekspor unggulan Maluku Utara. Ekspor kopra ke Philipina bahkan telah mampu dilakukan langsung dari Pelabuhan Laut Tobelo di Halmahera Utara. Sementara komoditas lainnya seperti pala, cengkeh, dan kakao harus dikirim ke Surabaya atau Manado terlebih dahulu baru dapat dilakukan ekspor dari sana.

Penyebab Kopra Malut Kalah Saing

Khori mengemukakan, permasalahan ekspor ini memang tidak lah sederhana. Pasar ekspor internasional sangat memperhatikan kualitas dan penampilan atau kemasan dari kopra.

“Sementara, petani kopra di Maluku Utara masih banyak melakukan pengeringan kopra dengan cara diasap yang menyebabkan hasil kopra berwarna cokelat kehitaman,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Khori, penyebab lain yang membuat kopra Maluku Utara kalah saing adalah usia buah kelapa yang menjadi bahan baku kopra belum terlalu diperhatikan.

“Jika terlalu muda, maka kopra yang dihasilkan lunak dan mudah terjadi kerusakan selama pengolahan akibat aktivitas mikrobia atau yang sangat kecil ukurannya,” sambung Khori.

“Selain itu, permasalahan seputar investor dan biaya angkutan juga masih menjadi kendala ekspor langsung dari Maluku Utara. Namun, jika semua bergerak sinergis, pasti bisa.”

Riko Noho
Author
Bagikan Kabar Anda