oleh

Perjalanan Melihat Proses Membuat Sagu dan Gucila di Maluku Utara

Sagu adalah makanan khas bagi masyarakat di Kepulauan Maluku dan Tanah Papua. Sebagian besar warga di daratan ini menjadikan sagu sebagai makanan pokok. Meski begitu, banyak yang belum tahu soal proses olahan pangan ini.

Awak kieraha.com punya kesempatan melihat langsung proses pembuatan sagu dari bahan serabut yang ada dalam batang pohon sagu.

Salah satu tempat pembuatan sagu tradisional ini berada di Desa Samo, Kecamatan Gane Barat Utara, Maluku Utara. Desa pesisir dan terpencil di wilayah Kabupaten Halmahera Selatan ini dihuni oleh 177 Kepala Keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 1.062 jiwa.

Di desa kecil ini terdapat beragam suku asli Maluku Kie Raha yang berhimpun menjadi satu. Ragam suku ini pun punya sikap toleransi dan kepedulian sosial yang sangat tinggi. Suku-suku yang mendiami desa ini dari Galela, Tobelo, Ternate, Makean, Tidore, dan Bajo.

Perjalanan menuju desa ini terbilang sulit karena aksesnya membutuhkan waktu, tenaga dan juga akomodasi yang cukup. Kieraha.com dalam mengunjungi desa ini bertolak dari Ternate menuju Sofifi, sebuah desa yang kini menjadi ibu kota Provinsi Maluku Utara.

Dari Sofifi, kieraha.com mengikuti jalur darat menuju ujung perbatasan Tidore Kepulauan dengan Halmahera Selatan, atau tepatnya di Dermaga Laut 1.000 Papan, Oba Selatan.

Akses darat di wilayah ini sebagian belum diaspal. Ini menyebabkan jalan yang dilewati tersebut berlubang dan sempit. Bahkan saat hujan, area ini tergenang air dan banjir.

“Jalur yang belum diaspal ini sudah dikeluhkan banyak warga ke Pemerintah Kota Tidore (dan Provinsi). Namun sampai sekarang masih begini,” ucap sopir yang membawa awak kieraha, ketika dari Sofifi menuju Lifofa, ibu kota Kecamatan Oba Selatan, 26 Oktober.

Setelah tiba di Dermaga 1.000 Papan, awak kieraha.com kemudian menumpangi motor laut berukuran kecil untuk menuju Dermaga Laut Desa Samo kurang lebih 1 jam perjalanan.

Setelah tiba di Samo, terlihat warga yang berada di pelabuhan, jalan setapak, dan depan rumah menyambut awak kieraha.com dan tim Pakativa dengan sangat baik dan santun.

Sambutan hangat warga desa ini menandakan toleransi antar sesama masih kental dan terjaga. Seperti biasa, kebiasaan jabat tangan, menyambut tamu dengan hidangan khas pisang goreng dan teh panas yang menjadi tradisi Kie Raha di sana pun disuguhkan.

Bahalo dan Asal Nama Sagu Tumang
Bahalo sagu di Tanjung Samo. (Kieraha.com)

Setelah beristirahat 1 malam di Desa Samo, keesokan harinya awak kieraha.com pergi melihat pembuatan sagu tumang yang terbuat dari batang pohon sagu atau rumbia.

Lokasi pembuatan sagu tumang ini berada di Tanjung Samo, yang berjarak dari kawasan permukiman Desa Samo kurang lebih 2 kilometer. Batang pohon sagu yang ditebang ini sudah berumur kurang lebih 20 tahun. Pohon sagu seumuran ini ditebang warga kemudian dibersihkan dahan dan daun rumbianya hingga tersisa batang utuh pohon sagu tersebut.

Setelah itu dibelah menjadi dua dengan ukuran yang sama. Kemudian dilakukan pengambilan serabut sagu yang terdapat di dalam batang pohon tersebut. Proses ini yang dikenal istilah Bahalo Sagu. Alat bahalo atau pemukul serabut sagu ini pun masih tradisional, yang terbuat dari bahan kayu dan batasan bambu yang diambil dari hutan di sekitar tanjung tersebut.

Setelah serabut sagu yang dikumpulkan dari proses bahalo ini selesai, kemudian diangkat dan dipindahkan ke sebuah wadah yang sudah disiapkan dengan penyaringannya untuk menampung sari sagu yang diremas secara tradisional seperti meremas santan kelapa.

Serabut sagu yang diremas dengan air ini kemudian teraliri melewati saringan yang dibuat dari bahan kain di wadah penyaringan yang disiapkan warga tersebut. Dari sari sagu yang mengalir masuk melewati saringan yang digunakan itu, tertampung dan tenggelam di dalam wadah tersebut, yang setelah proses itu, sarinya diambil dan dikumpulkan menjadi satu dalam tempat terpisah yang terbuat dari daun mentah rumbia. Tampungan sari sagu ini disebut Tumang yang dibuat melingkar dan berdiri mirip ember ukuran sedang. Adanya penempatan sari sagu di dalam tumang ini yang kemudian dikenal sebagai Sagu Tumang.

Dari satu pohon sagu ini bisa menghasilkan 6-8 tumang yang kemudian dibiarkan hingga 1 jam atau 1 hari, setelah itu dibawa pulang untuk dijadikan bahan makanan pokok warga.

Bahan sagu tumang yang dibuat ini kemudian diolah menjadi beberapa jenis makanan khas.

Makanan lokal dan favorit adalah Popeda yang dihidangkan dengan kua dan ikan rebus; Sinyole sebagai pengganti beras yang dihidangkan dengan ikan bakar, dabu-dabu, dan sayur; Sagu Lempeng yang dibakar pakai forno; Boho boho atau sagu yang dimasak dalam bambu; dan Baha baha atau sagu tumang yang dibungkus daun sagu lalu dibakar hingga masak.

Gulingan Gucila ala Warga Posi Posi
Tradisi gulingan gucila di Posi Posi. (Kieraha.com)

Gulingan gucila adalah tradisi menumbuk jagung atau milu dalam sebutan warga di Maluku Utara. Sementara itu gucila berasal dari bahasa Makean Dalam yang berarti jagung.

Menumbuk gucila ini umumnya dilakukan oleh kaum perempuan pada saat acara. Prosesi ini mengenakan kebaya khas Maluku Utara dan bedak dingin sembari menumbuk jagung.

Selain sagu, jagung juga menjadi salah satu makanan pokok warga di Maluku Utara. Kali ini peragaan menumbuk jagung dilakukan oleh warga Desa Posi Posi, Gane Barat Utara.

Menumbuk jagung sudah dilakukan oleh nenek moyang warga desa setempat. Bahkan alat menumbuk jagung ini pun terbuat dari batu yang secara turun temurun masih digunakan.

“Alat-alat ini masih ada dan dijaga hingga sekarang,” kata Suria Waysamola, salah satu warga Posi Posi, kepada kieraha.com, di lokasi Festival Kampung, Rabu 28 Oktober 2020.

Suria mengemukakan, tradisi menumbuk gucila ini biasa ditampilkan saat hajatan kampung. Dalam tradisi ini juga diikuti dengan syair bertutur atau manika dalam sebutan warga.

Manika di sini biasa disebut Moro moro atau Haboh. Setiap pesan yang ditutur ini selalu mengingatkan kita tentang kehidupan dunia dan di akhirat kelak. Memang saat didengar itu mirip togal, tapi ini hanya bentuk suara dari mulut tanpa disertai alat musik,” jelasnya.

Dalam gulingan gucila, biji jagung yang telah tua dan kering, ditumbuk kemudian diayak untuk dipisahkan hasilnya. Selanjutnya, jagung disaring dan digiling lagi hingga halus.

Hasil dari ini kemudian dijadikan sebagai bahan makanan pokok warga desa berupa bubur jagung, bubur jagung campur beras, hingga campuran bahan kue, dan kue jagung.

Bagikan Kabar Anda