Usulan Bandara Baru di Sofifi Ibu Kota Maluku Utara Ditolak Menhub

  • Bagikan
Abdul Gani Kasuba. (Sutriana Tude/Kieraha.com)

Rencana pembangunan Bandara Loleo yang berada di daratan Pulau Halmahera, wilayah Kota Tidore Kepulauan yang diusulkan Pemprov Maluku Utara ditolak Menhub RI.

“Kami sudah mengusulkan untuk dibuat bandara di Ibu Kota Sofifi, akan tetapi ditolak oleh Menteri Perhubungan, dengan alasan karena bandara yang diusulkan ini sangat berdekatan dengan Bandara Sultan Babullah Ternate,” jelas Gubernur Malut, Abdul Gani Kasuba, ketika disambangi wartawan, di Kantor Gubernur, Jalan Raya Lintas Halmahera, Oba Utara, Kamis 25 Maret.

BACA JUGA Harapan Presiden Setelah Meresmikan Bandara Kuabang di Halmahera

Gubernur mengatakan hal ini disampaikan pada saat agenda peresmian Bandara Kuabang oleh Presiden Joko Widodo, di Kao, Halmahera Utara, Rabu, 24 Maret kemarin.

Ganti Usulan dengan Jalan Tol

Gubernur dua periode itu menyatakan, karena usulan bikin Bandara Loleo ditolak sehingga digantikan dengan usulan pembangunan Jalan Tol dari Sofifi ke Bandara Kuabang.

“Saya telah mengusulkan kepada Bapak Presiden agar jalan Sofifi menuju Bandara Kuabang yang jarak tempuhnya 2 jam ini dikarenakan jalan yang berliku-liku, sehingga pemprov mengusulkan agar dibuat semacam Jalan Tol agar lebih dekat,” ujarnya.

Gani mengatakan alasan mengusulkan pembangunan jalan tol agar jarak tempuh jalan yang menuju Bandara Kuabang bisa dicapai dengan waktu 45 menit dari Sofifi.

“Jadi solusinya hanya Jalan Tol apabila Bandara Kuabang dijadikan bandara provinsi, karena bisa mengurangi jarak tempuh (yang saat ini berkisar 2 jam),” tambahnya.

Usul Wilayah Kota Madya Sofifi

Gubernur menyatakan, selain mengusulkan pembangunan Jalan Tol dari Sofifi ke Kuabang, pemprov juga meminta agar Sofifi bisa segera dijadikan kotamadya definitif.

“Ini dikarenakan wilayahnya masih berada di bawah kendali Pemerintahan Kota Tidore, dan bahkan ini berujung hingga ke masalah sampah juga pemprov tidak bisa tangani, sehingga anggaran provinsi yang ada kita bagi-bagi dan itu juga tidak bisa fokus membangun Ibu Kota Sofifi,” lanjutnya.

BACA JUGA Pandemi Corona dan Illegal Fishing Ancaman Nelayan Kecil di Maluku Utara

Usulan terkait wilayah Ibu Kota Provinsi di Sofifi ini, kata Gani, sudah disampaikan ke Mendagri. Sehingga, selaku gubernur, ia berharap walaupun belum definitif menjadi kota, tapi paling tidak, ada kawasan yang bisa dibangun pemprov untuk memajukan Sofifi.

“Kalau itu sudah ada maka kita akan fokus membangun Sofifi. Dan usulan itu direspon oleh Presiden. Presiden langsung menelepon Menteri Agraria, Mendagri, dan Menteri PUPR, agar segera membuat lanskap Kota Sofifi dan memiliki kawasan sekitar 6 kecamatan, mulai dari Gita sampai enam desa. Dari situ sehingga bisa menjadi kota,” sambungnya. *

Sutriana Tude

  • Bagikan