Opini  

Hindari 6 Kebiasaan yang Buat Hidupmu Tidak Berkembang

Avatar photo
Nurunnisa Hafel
Dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang kadang tidak berjalan sesuai dengan rencana kita (benar?)

Kegagalan demi kegagalan membuat orang frustasi dan bahkan membenci dirinya sendiri. Dan aku bahkan pernah berada di titik ini hmm… Apakah kalian juga?

Merasa tidak becus menangani sesuatu itu sangat menyiksa, karenanya banyak yang kemudian mencari kambing hitam demi mengurangi sedikit rasa kecewa. (Harus ada yang disalahkan, dan harus ada yang dijadikan alasan). Istilah anak sekarang pelampiasan.

Padahal dari apa yang terjadi tak lepas dari apa yang kita lakukan sendiri. Hukum kausalitas itu nyata, dan kita akan dapat apa yang sudah kita usahakan. Right?

Daripada terus-terus menyalahkan keadaan mungkin kita perlu introspeksi diri sendiri.

Pernah tidak? Kita sering menyalahkan realita saat keinginan tak sesuai ekspektasi. Padahal apakah benar rencana yang kita buat dan susun sudah benar-benar matang?

Siapa tau 6 point ini bisa jadi cerminan kita:

  1. Ketika semuanya berjalan keluar dari jalur rencana, kita cenderung menyalahkan realita

Seolah-olah kita sudah berjalan sekuat tenaga, namun memang bukan takdir kita untuk mendapatkannya.

Tapi, sebelum kita menyebut kegagalan sebagai sebuah realita, tanyakan dulu pada diri sendiri, apakah rencana yang kita susun sendiri sudah cukup mumpuni? Atau kita melupakan detail kecil yang bisa membuat rencana ambruk di tengah jalan?

  1. Kita sering merasa tak cukup banyak kesempatan

Padahal satu kesempatan yang dimanfaatkan dengan maksimal dan optimal jauh lebih berguna daripada ribuan kesempatan yang disia-siakan.

Ada kalanya kita menyadari ketika sebuah kesempatan datang, bisa juga rasa malas yang mulai menguasai diri, membuat kita menunda-nunda dengan dalih mencari momen yang paling tepat.

Kesempatan mungkin tidak akan datang dengan sendirinya, karena itu kamu harus aktif mencari. Sebab semuanya berawal dari diri sendiri, jika kita tak segera mengambil langkah pertama mimpi akan menjadi mimpi segalanya.

(Bangun! dan wujudkan mimpimu)

  1. Kita bilang semesta tak mendukung

Padahal, itu hanya alasan untuk menutupi sifat kita yang mudah mundur perlahan setiap kali menerima suatu kegagalan.

Sesungguhnya musuh utama kita bukanlah suatu halangan dari luar, melainkan halangan dari dalam. Rintangan terberat dalam melakukan sesuatu adalah rasa enggan yang berasal dari diri kita sendiri.

Satu kegagalan tak berarti banyak. Seperti kita yang bisa mengambil jalur yang berbeda untuk mencapai tempat janjian, kita juga bisa menempuh banyak cara untuk mewujudkan impian. (Ingat! begitu banyak jalan menuju Roma)

  1. Mimpi yang pudar karena kurang dukungan

Adalah salah satu efek dari yang terlalu memedulikan omongan orang. Padahal, hidup kita yang tentukan.

Sekeras apapun kita berusaha menyenangkan dunia, pasti ada saja orang yang tak suka. Namun, semua itu kembali pada diri kita sendiri. Rasa diremehkan, disepelekan, dan dipandang sebelah mata itu bersumber dari dalam diri sendiri. Jika kita memutuskan untuk tidak peduli, langkah kita akan tegap meski caci maki muncul di kanan kiri.

  1. Kita sibuk menyalahkan pekerjaan menyiksa dan pendapatan tak sesuai kebutuhan

Tapi, kita lupa bahwa kita punya pilihan untuk tetap pergi ataukah tinggal?

Sistem perusahaan yang berantakan membuat kita kebingungan, gaji yang tak sesuai ekspetasi membuat diri hilang motivasi, serta pekerjaan yang tak manusiawi membuat stres setiap hari.

Namun, anehnya kita masih tetap berdiam diri di sana, dan terus mengeluh setiap hari. Ibarat orang yang berdiri di samping tempat sampah, dia tau bahwa di situ bau busuk tapi enggak untuk beranjak.

Padahal, kita bisa saja mengambil keputusan untuk pergi dan mencari tempat lain yang lebih layak. Namun rasa enggan keluar dari zona nyaman seringnya mengambil jalan pintas dengan memangkas sebuah pilihan.

  1. Pencapaian diri yang tak sesuai

Keinginan memang membuat kita kecewa, tapi barangkali itu karena kita enggan menerima ketidaksempurnaan diri Sendiri.

Hal ini semakin diperparah dengan hobi memperbandingkan diri sendiri. “Kenapa Aku tak seperti si dia? Seandainya Aku seperti si dia Aku pasti tidak seperti ini.”

Hei, kamu, saya, dan kita semua punya keistimewaan masing-masing.

Kecewa karena kegagalan itu wajar, namun tak perlu sampai membenci diri sendiri. Toh, setiap orang memiliki kekurangan dan pasti pernah melakukan kesalahan. Ketidaksempurnaan itu memanglah manusiawi. Belajar menerimanya akan membuat kita lebih percaya diri.

Gimana?? Masih mau menyalahkan keadaan?

Saya pernah berada di posisi yang sejatuh-jatuhnya saat dikhianati, difitnah, dibully, dan bahkan dikecewain (menyalahkan keadaan). Di situ saya berpikir lagi setelah banyak bertanya-tanya pada diri sendiri dengan melakukan introspeksi diri, dan akhirnya bisa tau bahwa ada yang salah di diri saya sehingga harus diperbaiki.

Di saat patah, saya yakin akan ada yang tumbuh lagi, yaps benar mulai menumbuhkan mental baja di diri (tidak gampang baper ups).

Saya pernah ditanya kenapa bisa sampai seperti ini? Dan selalu saya menjawab “Bahwa semua punya waktunya tinggal berjuang aja! Dan tetap berusaha.”

Saya percaya proses tidak akan mengkhianati hasil. Nikmati prosesnya dan belajarlah dari pengalaman.

Kalau kalian gimana? *

Nurunnisa Hafel
Penulis

==========

Penulis adalah Presiden Mahasiswa Kampus Putih Poltekkes Kemenkes Ternate