Ekspor Bahan Tambang Maluku Utara ke Korea dan Tiongkok Menurun

  • Bagikan
Bongkar muat di Pelabuhan A Yani Ternate. (Kieraha.com)

Volume ekspor bahan tambang dari Maluku Utara ke negara tujuan pada Januari hingga Oktober 2020 menurun sebesar 90,46 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.

Data Ekspor Provinsi Maluku Utara menurut Negara Tujuan dan Persentase Perubahannya yang dirilis BPS Maluku Utara tanggal 1 Desember 2020 itu menyebutkan, secara akumulasi volume ekspor berupa bijih besi, kerak, abu logam, dan baja yang dikirim ke Tiongkok, Korea Selatan, Ukraina dan India pada Januari-Oktober 2020 ini sebesar 1.107.813.146 ton, mengalami penurunan dibanding volume ekspor pada periode yang sama 2019 sebesar 11.616.568.037 ton.

Kepala Badan Pusat Statistik Atas Parlindungan Lubis menyebutkan, meski volume ekspor golongan barang HS 26 dan HS 72 itu, terjadi penurunan namun nilai ekspor Maluku Utara masih meningkat sebesar US$ 686,70 juta. Angka ini mengalami peningkatan 5,06 persen dibanding periode yang sama Januari-Oktober 2019 sebesar US$ 653,61 juta.

“(Begitu pun) dengan nilai ekspor Provinsi Maluku Utara pada Oktober 2020 sebesar US$ 121,25 juta, mengalami peningkatan 42,39 persen dibanding bulan September 2020 sebesar US$ 85,15 juta,” lanjut Atas, dalam rilis BPS, Rabu 2 Desember 2020.

Tabel Ekspor Provinsi Maluku Utara Menurut Negara Tujuan dan Persentase Perubahannya. (BPS Malut)

Atas menambahkan, pada bulan Oktober 2020 barang dari Provinsi Maluku Utara juga diekspor melalui provinsi lain yaitu Jawa Timur dan DKI Jakarta. Barang ekspor asal Maluku Utara itu terdiri dari golongan buah-buahan atau HS 08, golongan lak, getah, dan damar atau HS 13, golongan ikan dan udang (HS 03), golongan perhiasan atau permata (HS 71), serta golongan paket pos, parsel, dan barang dikembalikan atau HS 99.

“Nilai ekspor barang dari Provinsi Maluku Utara yang diekspor melalui provinsi lain pada bulan Oktober 2020 ini sebesar US$ 2,97 juta atau 2,39 persen dari total ekspor asal barang Provinsi Maluku Utara sebesar US$ 124,21 juta,” sambung Atas. (kr1) *

Apriyanto Latukau

  • Bagikan