Pabrik Bahan Baku Baterai Pertama Indonesia Resmi Beroperasi di Maluku Utara

  • Bagikan
Rombongan menteri saat meninjau proses produksi HPAL di site Kawasi Pulau Obi Rabu 23 Juni 2021. (Dok Harita)

Pabrik bahan baku baterai yang dibangun pertama kali di Indonesia resmi beroperasi di site Kawasi, Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, Rabu 23 Juni 2021.

Pemurnian nikel kadar rendah dengan teknologi hidrometalurgi High Pressure Acid Leach oleh Harita Nickel ini merupakan proyek pionir di Indonesia yang menghasilkan bahan baku baterai kendaraan listrik.

“Beroperasinya proyek ini kembali menjadi komitmen Harita Group dalam mendukung amanat hilirisasi dan khususnya program pemerintah dalam Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan,” kata Komisaris Utama Halmahera Persada Lygend Stevi Thomas dalam sambutannya, Rabu 23 Juni.

Ia menyebutkan, perusahaan Harita Group yang mengelola Kawasan Industri Pulau Obi ini merupakan Proyek Strategis Nasional, dan melalui Halmahera Persada Lygend telah memasuki fase produksi MHP.

MHP merupakan produk antara dari proses pengolahan dan pemurnian nikel kadar rendah sebelum diproses lebih lanjut menjadi nikel sulfat dan kobalt sulfat. Saat ini Harita juga sedang mengembangkan fasilitas produksi lanjutan untuk menghasilkan nikel sulfat dan kobalt sulfat, yang merupakan material utama baterai kendaraan listrik.

“Halmahera Persada Lygend merupakan fasilitas pengolahan dan pemurnian bijih nikel kadar rendah (Limonite) dengan teknologi hydrometallurgy yang dikenal dengan High Pressure Acid Leach (HPAL). Konstruksi HPAL dimulai pada Agustus 2018 dan siap berproduksi secara komersial. Ini menjadi pabrik HPAL pertama di Indonesia,” lanjutnya.

Peresmian operasional pabrik ini dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, didampingi oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Investasi atau Kepala Badan Penanaman Modal Bahlil Lahadalia, Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil, Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba, dan Bupati Halmahera Selatan Usman Sidik.

“Kita sangat bangga karena kita semua menjadi saksi sejarah berdirinya HPAL di Indonesia. Indonesia bisa membuktikan dirinya mampu. Ini akan menjadi pengembangan hilirisasi ke depan dan mendukung industri kendaraan listrik. Pemerintah akan mendukung pengembangan HPAL di Indonesia. Industri ini ikut berkontribusi untuk mewujudkan cita-cita dalam upaya penurunan kadar emisi dari penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil,” sebut Luhut sesuai rilis yang diterima kieraha.com, Rabu sore WIT.

Ia mengatakan pemurnian nikel ini dengan teknologi hidrometalurgi HPAL akan menghasilkan produk yang sangat bermanfaat dalam upaya mengurangi emisi, serta sangat mendukung konservasi mineral, khususnya nikel. Teknologi HPAL mampu mengolah nikel kadar rendah yang selama ini tidak diolah. Kini material nikel kadar rendah di Indonesia telah memiliki nilai tambah dan menjadi produk yang sangat strategis.

“Industri ini harus kita dukung bersama. Halmahera Persada Lygend adalah pabrik pertama bahan baku baterai kendaraan listrik di Indonesia dan nantinya akan muncul di wilayah lainnya. Tidak kalah penting, industri ini akan menyerap lebih dari 20 ribu tenaga kerja nantinya. Pembangunan daerah akan lebih cepat. Ini adalah aset bangsa. Kita harus lindungi. Namun lingkungan juga harus dijaga,” tuturnya.

Peresmian pabrik bahan baku ini ditandai dengan penekanan tombol sirine dan penandatangan prasasti oleh Menteri Luhut. Prosesi ini juga menandai ekspor perdana MHP dari Indonesia. Usai peresmian, para menteri berkeliling pabrik meninjau proses produksi HPAL, seperti ruang kontrol utama dan bagian produksi lainnya. *

Apriyanto Latukau

  • Bagikan