oleh

Semangat Perdamaian Moloku Kieraha

Persekutuan Motir Verbond, begitu penyebutannya dalam catatan sejarah perdamaian Moloku Kieraha pada 1322 silam. Dibuat setelah empat kerajaan di Maluku Utara kala itu bertemu.

Pulau Moti dipilih sebagai lokasi bernegosiasi. Membahas ketegangan empat kerajaan besar salah satu di antaranya. Motir atau Moti adalah sebuah pulau di Kota Ternate, Maluku Utara.

Dalam buku Kepulauan Rempah-Rempah karangan Adnan Amal, dijelaskan Motir Verbond merupakan persekutuan yang dibuat empat kerajaan di Maluku, yakni Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan.

Kala itu keempat pemimpin kerajaan yang dikenal dengan nama Moloku Kieraha atau empat kerajaan Maluku (saat ini Maluku Utara) bersepakat menyeragamkan lembaga-lembaga kerajaan dan pemerintahan dari pusat sampai seluruh daerah kekuasaan empat kerajaan tersebut.

Dengan kata lain, persekutuan di Pulau Moti ini berhasil meredam ambisi masing-masing penguasa setempat, termasuk upaya ekspansi dari ancaman militer kerajaan besar Ternate dan Tidore.

Adnan menuliskan sejak persekutuan dibuat, warga Moloku Kie Raha atau empat kerajaan Maluku mengalami masa aman dan damai dari berbagai intrik politik dan permusuhan selama 20 tahun.

Semangat para pendahulu dalam membangun perdamaian ini, kembali didengungkan. “Ingin dibangkitkan lagi untuk merangkul setiap perbedaan yang kini muncul (di antaranya).”

Demikian dikatakan Sultan Tidore Husain Sjah tentang gagasan dan ide para pendahulu yang cinta akan perdamaian dan merangkul setiap perbedaan yang muncul kala itu.

Sultan Tidore mengemukakan semangat dari persekutuan Moti merupakan sebuah gagasan yang mulia dan brilian jika diterapkan pada konteks kekinian di negeri Kepulauan Rempah tersebut.

“Utamanya bagi masyarakat Maluku Utara untuk bersama-sama membangun daerah dan NKRI yang kita cintai. Tentunya berbeda dengan konfederasi Motir Verbond pada 1322 yang hanya melibatkan empat kesultanan. Kali ini, selain mengkomunikasikan hal kesiapan itu kepada ketiga kerajaan lainnya (Kesultanan Ternate, Jailolo, dan Bacan), saya juga berencana melibatkan gubernur, bupati, wali kota, stakeholder, dan delegasi dari masyarakat masing-masing daerah di Malut,” tutupnya.

Hairil Hiar

BAGIKAN

Komentar