oleh

Semburat Mentari Menyapa Pagi di Bumi Kieraha

Semburat matahari mulai mengintip, sedangkan awan hitam keluar malu-malu. Cahaya matahari mulai memantul menyinari bumi Moloku Kieraha, wilayah timur Indonesia pada Kamis pagi.

Suasana pagi di Kota Ternate, Maluku Utara, memang berbeda dengan hari-hari pada momen pagi sebelumnya. Faktor cuaca salah satunya.

Pada pengamatan Kieraha.com, hamparan pulau yang menjadi identitas salah satu destinasi wisata bahari di provinsi berjuluk Negeri Kepulauan Rempah itu tampak dari atas gelombang laut yang berarus teduh.

Panorama alam yang damai dan keteduhan gelombang saat Kamis pagi itu mengiringi rutinitas warga kota bermoto Bahari Berkesan.

Dari atas laut bagian selatan menampilkan latar Pulau Maitara atau disebut Pulau Seribu oleh penduduk setempat. Pulau itu seakan menjaga pintu, mengapit Pulau Tidore dan Ternate.

Sementara bagian timur, daratan panjang Halmahera menampilkan pesona dari atas laut bersama matahari yang perlahan naik. Begitu pula pada bagian utara, hamparan laut kontras dengan menjulangnya Gunung Ibu dan Gunung Jailolo di Kabupaten Halmahera Barat.

Keindahan pagi di bumi bekas ibu kota Provinsi Maluku Utara itu seperti permata bertabur.

Pulau-pulau yang berjajar, angin laut yang berembus dan aroma rempah seakan membawa menelusuri jejak langkah sejarah perjuangan pendahulu yang mengusir Portugis dan Belanda kala masa penjajahan di bumi Nusantara periode itu.

Peninggalan Belanda

Kala berada tepat di atas Jembatan Residen Ternate, ada kesan tersendiri. Jembatan ini salah satu peninggalan pusaka warisan periode Residen Ternate di masa penjajahan Belanda.

Pagi di residen Ternate. (Hairil Hiar)

Pada zaman penjajahan Belanda, Jembatan Residen Ternate merupakan pelabuhan utama keluar masuknya kapal ke Ternate dari berbagai daerah dan Benua Eropa.

Di pulau berbentuk kerucut itu memiliki gunung api aktif Gamalama terkenal sebagai penghasil rempah terbesar dunia saat itu. Cengkih dan pala menjadi primadona yang diperebutkan Eropa.

Pesona akan rempah yang disebut emas hitam itu pun membuat bangsa Portugis dan Belanda mendatangi Indonesia dan menjadikan sebagai koloni jajahan sebagaimana cerita sejarah.

Selain Residen Ternate, terdapat pula beberapa lokasi wisata yang bisa dikunjungi. Taman Nukila, Landmark, dan wisata sejarah benteng Portugis-Belanda di antaranya.

Beberapa tempat wisata yang terletak di Kecamatan Ternate Tengah itu pun menampilkan kesan tersendiri. Selain keteduhan yang akan didapat setiap pengunjung, beberapa lokasi yang tersedia juga menyajikan panorama yang berbeda dan jarang ditemukan di destinasi wisata lainnya.

Lokasi-lokasi tersebut bisa dijadikan tempat foto selfie atau swafoto untuk pengunjung yang senang berpose dengan latar pantai, benteng dan rempah seperti kebun cengkih warga di Ternate.

Sementara, Residen peninggalan Belanda yang kini dikenal dengan nama Jembatan Residen itu sudah dijadikan armada speedboat milik Pemerintah Provinsi Maluku Utara.

Bagikan Kabar Anda

Komentar