oleh

Tentang Kota Seribu Benteng Portugis dan Belanda di Maluku Utara

Ternate merupakan kota pulau dengan luas daratan 133,74 km persegi dan laut 5.457,55 km persegi. Pada kota kecil berjuluk Bahari Berkesan ini menyimpan beragam kekayaan ilmu sejarah, flora dan fauna yang endemik dan unik untuk daerah destinasi wisata.

Terletak di wilayah segitiga karang dunia atau coral triangle dengan keanekaragaman hayati tinggi, Ternate juga masuk dalam gugusan gunung berapi aktif, di mana Gunung Gamalama yang berdiri kokoh di atasnya menjadi landmark kota Seribu Benteng itu.

Awak kieraha.com menyempatkan melihat dari dekat, khusus benteng peninggalan Portugis dan Belanda. Bangunan benteng tersebut berjejer di wilayah pesisir Pantai Ternate. Ada beberapa yang saat ini sudah jauh dari pesisir akibat dilakukan reklamasi pantai pusat kota.

Rata-rata posisi benteng ini menghadap ke arah laut wilayah Pulau Halmahera dan Tidore.

Benteng Toloko
Benteng Tolukko. (Kieraha.com)

Benteng Tolucco atau Toloko dalam sebutan warga Kota Ternate, memiliki panorama indah karena menghadap ke arah laut Halmahera dan Tidore dengan latar Gunung Gamalama.

Pada tahun 1540, Panglima Portugis Francisco Serao membangun Benteng tersebut sebagai pertahanan dalam menguasai rempah-rempah di Maluku (sebutan Maluku Utara kala itu).

Posisi benteng ini berada tepat di atas bukit dari bibir pantai lingkungan Toloko, perbatasan antara Kelurahan Dufa-Dufa dan Kelurahan Sangaji, wilayah Kecamatan Ternate Utara.

Dalam catatan sejarah, pada tahun 1610, Benteng Toloko ini kemudian diambil alih oleh Belanda, yang merupakan awal dari kekuasaan Belanda di Maluku. Kondisi bangunan kuno ini berubah setelah dipugar. Namun masih menjadi salah satu destinasi unik di Ternate.

Benteng Oranje
Benteng Oranje. (Kieraha.com)

Benteng Oranje memikat mata karena memiliki warna yang mencolok. Benteng peninggalan Belanda ini berdiri pada tanggal 26 Mei 1607. Benteng ini didirikan oleh Cornelis Matclief de Jonge. Fort Oranje datang dari Francois Wiltlentt pada 1609.

Lokasi benteng ini berada di pusat kota, Jalan Pahlawan Revolusi, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah. Empat abad lalu, Benteng ini menjadi kawasan tersibuk di Pulau Ternate karena menjadi markas besar VOC Hindia Belanda. Sampai pada tahun 1619, Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen memindahkan markas ke Batavia.

Benteng ini sudah mengalami banyak perubahan akibat pemugaran dari Pemerintah Kota Ternate. Bangunan kuno ini di dalamnya terdapat museum dan Kantor Dinas Kebudayaan Ternate. Di lokasi benteng ini juga sering ramai dikunjungi wisatawan lokal.

Benteng Kalamata
Benteng Kalamata. (Kieraha.com)

Benteng Kalamata merupakan benteng yang saat ini masih berada dekat dengan bibir pantai Kayumerah, Jalan Kalumata, Kelurahan Bastiong, Kecamatan Ternate Selatan.

Benteng peninggalan Portugis ini dibangun pada tahun 1540 oleh Antonio Pigaveta. Benteng yang dibangun sebagai pertahanan dan ekspansi kekuasaan Portugis di Ternate ini, juga disebut sebagai Benteng Santa Lucia dan Benteng Kayumerah.

Dalam catatan sejarah menyebutkan, saat Portugis meninggalkan Ternate pada tahun 1575, benteng ini kemudian diduduki oleh Spanyol dan digunakan sebagai pos perdagangan.

Kemudian, pada tahun 1609 benteng ini direstorasi oleh Belanda di bawah pimpinan Pieter Both dan dipergunakan sebagai benteng pertahanan. Pada tahun 1624 Gubernur Belanda Le Febre dan Deputy Admiral Geen Huigen Schapenham mencoba memperbaiki benteng ini namun kemudian diterlantarkan. Dan pada tahun 1627 benteng ini kembali diduduki oleh bangsa Spanyol hingga 1663.

Pengamatan kieraha.com, Rabu 29 Juli 2020, kondisi benteng ini sepertinya tidak mendapat perhatian dari Dinas Kebudayaan maupun Pariwisata Kota Ternate. Beberapa penanda yang bisa menjelaskan tentang sejarah keberadaan benteng ini pun terbengkalai di tanah.

Benteng Kota Janji
Benteng Kota Janji. (Kieraha.com)

Benteng Kota Janji terletak di wilayah Laguna, Kelurahan Fitu, Kecamatan Ternate Selatan. Benteng ini berada di bukit dari atas permukaan laut bibir pantai setempat mencapai 50 meter. Bagian benteng ini sekarang hanya bisa disaksikan dinding luarnya saja yang tersusun dari bebatuan kali atau andesit, batu karang dan campuran semen modern. Sementara, bagian dalam sudah seluruhnya tertutup oleh tumpukan tanah.

Benteng ini dibangun pada tahun 1532 oleh Portugis dan diberinama Benteng San Jao. Namun karena insiden pembunuhan Sultan Khairun dari Ternate, Portugis diusir dari Pulau Ternate oleh Kesultanan Ternate yang kala itu dipimpin Sultan Babullah pada tahun 1575.

Benteng ini oleh Spanyol selain digunakan untuk mengawasi perairan antar Pulau dari Ternate dan Tidore, juga memiliki peran sebagai basis militer, jika kondisi laut sedang tenang, armada-armada Spanyol yang berlayar dari Filipina dapat berlabuh di pesisir pantai sebelah selatan dari benteng ini yang sekaligus untuk memudahkan mobilisasi prajurit dan logistik mereka ke Benteng Kota Janji ini.

Bagikan Kabar Anda