oleh

Tentang Teori Evolusi yang Dimulai dari Ternate

Kota Ternate adalah sebuah pulau kecil berbentuk bulat kerucut. Pulau ini menyembul dari laut. Orang dapat bermobil mengelilingi pulau penghasil pala dan cengkeh itu dalam dua jam perjalanan.

Pada kota bermoto Bahari Berkesan itu, seorang ilmuwan menulis tentang teori evolusi. Ilmuan itu bernama Alfred Russel Wallace. Waktu itu ia berusia 35 tahun tiba di Ternate, Maluku Utara, pada Januari 1858, ia mengeksplorasi selama empat tahun kumpulan pulau-pulau yang ia sebut kumpulan pulau Melayu.

Ia melakukan perjalanan beribu-ribu kilometer dengan kapal uap, kapal layar dan kapal tradisional, atau naik kuda, berjalan kaki. Ia dan asistennya mengumpulkan puluhan ribu spesimen, mulai dari orang utan sampai burung cendrawasih hingga kuskus. Belum lagi ribuan spesies serangga lainnya.

Sejak itu, ketenaran Ternate reda karena terkubur oleh kolonisasi. Selama seribu tahun, cengkeh hanya tumbuh di Ternate, Tidore dan sejumlah pulau di dekatnya. Dan lebih dari 3.000 tahun, produk ini melintasi benua untuk diperdagangkan.

Dengan perjalanan itu, para sultan di Bumi Moloku Kieraha (sebutan lain Maluku Utara) melakukan ekspansi kekuasaan mereka membentang hingga Papua dan Filipina.

Aroma cengkeh tercium di pulau ini selama masa panen. Anak-anak kecil dengan baju kaus seadanya akan menunggu di pinggir jalan untuk mendampingi turis maupun wisatawan ke pohon yang menjulang di berbukitan Gunung Gamalama dan mereka menyebutnya paling tua di dunia.

Pertama Belanda dan kemudian Inggris yang monopoli cengkeh. Pada 1858, pulau Ternate dan sekitarnya telah menarik navigator yang menjadi pembajak Francis Drake dan petualang Ferdinand Magellan.

Wallace memilih rumah yang dikelilingi pohon buah, lima menit dari pasar, di kampung yang kini dikenal dengan Kelurahan Santiong, Ternate Tengah. Para pemandu wisata mengantar ke rumah yang dahulu disebutkan sebagai tempat Wallace tinggal.

“Pernah ada dua jalan, berdasarkan informasi yang ia berikan kepada kami,” kata pakar tentang Wallace, John Van Wyhe dari National University of Singapore.

Wallace belum sempat pindah ke rumah dengan sumur berair bening saat ia jatuh sakit, kemungkinan karena malaria. Keringat dingin serta kejang, Wallace terpaksa berbaring selama berjam-jam tanpa bisa berbuat apa-apa kecuali berpikir.

BACA JUGA

Semangat Perdamaian di Pulau Moti

Abrasi Ancam Rumah Warga Pesisir Ternate

Keindahan Tidore dan Maitara dari Atas Danau Laguna Ternate

Jauh dari rumah, kedinginan karena sakit, di tengah bayang gunung api, kemungkinan ia ketakutan. Pikiran Wallace beralih ke Thomas Malthus, intelektual yang berargumen bahwa alam membuat populasi manusia menurun karena penyakit, kelaparan, perang dan kecelakaan. Ia juga menyadari bahwa logika yang sama juga terjadi pada binatang.

Dalam perjalanannya ke berbagai tempat di kepulauan Nusantara kala itu, Wallace telah melihat berbagai makhluk. Ada katak terbang yang menunjukkan bagaimana jari binatang itu dapat beradaptasi untuk berenang dan melompat tinggi. Ada orang utan yang mungkin memiliki nenek moyang sendiri seperti simpanse dan gorila.

“Berpikir tentang kerusakan konstan, satu hal yang saya pertanyakan adalah mengapa sebagian hidup dan sebagian mati,” tulis Wallace kemudian. Dan jawabannya adalah secara keseluruhan yang terbaik yang akan hidup. Seleksi alam. Wallance menyadari bahwa spesies berevolusi.

Terinspirasi dengan pemikiran ini, Wallace menunggu sampai demamnya reda dan ia menulis di kertas. Selama dua malam, ia mengerjakan teorinya dan mengirimkannya ke Charles Darwin, yang telah menjadi ilmuwan yang dihargai saat itu.

Saat surat itu tiba di Inggris pada 18 Juni 1858, Darwin menjadi panik. Ia telah mengerjakan teori evolusinya sendiri dengan seleksi alami selama hampir 20 tahun dan sekitar satu tahun lagi menyelesaikannya. Penelitiannya akan menjadi sesuatu yang besar, buku tiga volume. Ia telah melakukan hal yang tepat dan bersama rekan-rekannya, ia mengajukan gagasan seleksi alam dalam dua minggu berikutnya.

“Semua orang mengatakan, wah ini sangat menarik, apakah Anda bisa terangkan tentang teori Anda? Kami tak sabar menunggu buku besar ini selesai,” kata Wyhe.

“Buku itu menjadi On the Origin of Species. Bila Wallace tidak menginterupsi Darwin, dia mungkin akan terus menulis buku besar itu dan mungkin tidak ada seorang pun yang membaca.”

Darwin menerbitkan bukunya pada November 1859, mengguncang dunia agama dan menata dunia sains. Dan Wallace, Ia melanjutkan perjalanannya. Pada 1899, ia menemukan terobosan dalam biogeografi, dan menemukan garis di perbatasan Asia Tenggara dan fauna Australia, Garis Wallace.

Pada 1862, ia kembali ke Inggris dan mengumpulkan setidaknya 125.600 spesimen, termasuk 83.000 spesimen kumbang.

Pada 1862 ia menerbitkan memoar perjalanan yang seolah tak pernah selesai, The Malay Archipelago. Ia meninggal pada usia 90 tahun, dan menulis berbagai subjek mulai dari hak perempuan dan spiritualisme. Ia juga tidak pernah lupa mengungkapkan hormatnya kepada koleganya Darwin, yang memang pantas ia dapatkan.

Source: BBC Indonesia

Bagikan Kabar Anda

Komentar