Komitmen Pemerintah di Daerah dalam upaya penurunan kasus stunting di wilayah Provinsi Maluku Utara perlu dipertanyakan. Hingga sekarang, masih ada daerah yang jumlah prevalensi stunting justru mengalami kenaikan, bahkan tergolong sangat ekstrem.
Data Kemenkes RI 2025 menyebutkan, dari 10 daerah di Maluku Utara, hanya terdapat 5 Kabupaten Kota yang jumlah kasus stunting mengalami penurunan pada 2024.
Lima daerah tersebut adalah Halmahera Barat dari 26,1 persen pada 2023 turun menjadi 22,1 persen pada 2024, Halmahera Utara 24,3 pada 2023 turun menjadi 21,7 persen pada 2024, Pulau Taliabu 30,6 pada 2023 turun menjadi 24,9 persen pada 2024, Kota Ternate 21,1 pada 2023 turun menjadi 16,6 persen pada 2024, dan Tidore Kepulauan dari 21,3 pada 2023 turun menjadi 15,6 persen pada 2024.
Sementara, lima daerah lainnya yang mengalami kenaikan, hingga di atas 10 persen bahkan tergolong sangat ekstrem adalah Halmahera Selatan dari 30,4 pada 2023 naik menjadi 32,3 persen pada 2024, Halmahera Timur 19 pada 2023 naik menjadi 24,2 persen, serta Halmahera Tengah, Kepulauan Sula dan Pulau Morotai pada tahun 2024 tidak ada laporan kasus stunting.
Anehnya, di antara 5 daerah yang mengalami kenaikan kasus stunting, justru terdapat sejumlah perusahaan tambang nikel yang beroperasi secara masif. Diantaranya Kabupaten Halmahera Tengah, Halmahera Timur, dan Halmahera Selatan.
Menurut Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional atau BKKBN Provinsi Maluku Utara, Victor Palimbong bahwa kenaikan kasus stunting di wilayah Pulau Tambang ini tidak ada korelasi dengan perusahaan tambang.
“Ini masih butuh penelitian. Kita belum bisa sampaikan karena datanya tidak ada. Kalau penelitian efek tambang terhadap lingkungan hidup ya, namun untuk stunting sendiri belum ada yang melakukan penelitian sampai ke situ. Jadi mungkin kami akan melakukan penelitian perihal adanya korelasi tersebut (sebab kasus stunting ini berkaitan dengan tumbuh kembang anak yang juga disebabkan oleh konsumsi air minum dan lingkungan hidup sekitar, tidak hanya usia pernikahan),” ucap Viktor, kepada kieraha.com dalam sesi Media Gathering yang digelar BKKBN Malut, di Kafe Tolire, Kecamatan Ternate Barat, Jumat sore, 13 Juni 2025.
BACA JUGA Air Sumur di Lelilef Halmahera Tengah Terkontaminasi Nikel dan Bakteri E Coli
Viktor menambahkan, untuk Halmahera Tengah, Sula dan Morotai yang belum memasukkan data terkait stunting diberikan keterangan bahwa masih dalam proses analisis lebih lanjut.
“(Ini sesuai data dari Kemenkes) jadi masih dalam proses analisis, bukan berarti tidak ada datanya. Dan belum dapat ditampilkan hasil analisis gizinya karena perubahan prevalensi yang sangat ekstrem (atau lebih dari 10 persen dari tahun sebelumnya),” sambung Viktor. *






