Opini  

Menghapus Mentalitas “Viral Semalam” bagi Pengusaha Lokal

Avatar photo
Bisnis yang benar-benar berhasil bukanlah yang paling viral dalam semalam, melainkan yang tetap berdiri tegak dan memberi manfaat hingga sepuluh tahun ke depan.
Winda Umagap
Penulis

Di Ternate, kita sudah sering menyaksikan fenomena bisnis yang tiba-tiba meledak di media sosial, antreannya mengular, lalu beberapa bulan kemudian menghilang begitu saja. Masalahnya sering kali bukan karena produknya jelek, melainkan karena pemiliknya tidak siap menghadapi risiko. Inilah ironi terbesar dunia usaha kecil di kota kita: banyak yang pandai memulai, tapi sedikit yang tahu cara bertahan.

Risiko bisnis bisa datang dari mana saja: harga bahan baku yang mendadak naik, cuaca buruk yang menghentikan operasional, hingga satu ulasan negatif yang viral di grup WhatsApp warga. Mengelola risiko bukan berarti pesimis. Justru sebaliknya, itu adalah tanda bahwa kita serius ingin bisnis ini berumur panjang.

Dalam bahasa paling sederhana, manajemen risiko adalah kebiasaan berpikir ke depan—membayangkan apa yang bisa salah sebelum hal itu benar-benar terjadi, lalu menyiapkan jalan keluarnya. Sayangnya, mentalitas ini masih jarang ditemukan di kalangan pelaku UMKM kita. Padahal, manajemen risiko inilah yang menentukan apakah sebuah usaha bisa melewati tahun kedua atau tidak.

Pelajaran dari Rempah Kita Sendiri

Kasus paling relevan terjadi tepat di depan mata kita. Pada Juli 2024, harga cengkih di Ternate anjlok drastis dari kisaran Rp 120.000–Rp 150.000 per kilogram menjadi hanya Rp 80.000–Rp 90.000 per kilogram. Beberapa media melaporkan melaporkan keluhan petani: “Harga cengkih terus turun. Kalau harganya masih Rp 80 ribu per kg, maka kami akan merugi.” Beberapa media lainnya turut mencatat bahwa penurunan ini mengejutkan banyak petani dan pelaku industri yang selama ini bergantung sepenuhnya pada komoditas tersebut.

Inilah yang disebut risiko konsentrasi—ketika seluruh pendapatan hanya bergantung pada satu komoditas, satu pasar, atau satu pelanggan. Petani dan pedagang yang tidak punya cadangan dana atau rencana alternatif langsung terpukul telak. Sebaliknya, mereka yang lebih awal melakukan diversifikasi—seperti mengolah menjadi minyak cengkih, bubuk pala kemasan, atau sirup rempah untuk wisatawan—tetap memiliki arus kas meskipun harga pasar sedang tidak berpihak.

Ini bukan soal nasib atau musim. Ini soal apakah kita sudah menyiapkan “payung” sebelum badai datang.

Mulai dari Langkah Kecil

Manajemen risiko tidak harus rumit atau mahal. Anda bisa memulai dengan langkah-langkah praktis berikut:

• Pisahkan Rekening: Jangan campur uang pribadi dan uang usaha.

• Dana Darurat: Sisihkan minimal 10 persen keuntungan sebagai bantalan krisis.

• Diversifikasi: Jangan bergantung pada satu sumber pendapatan saja.

• Jaga Reputasi: Rawat profil digital dan pelayanan pelanggan sesederhana apa pun bisnis Anda.

Selain itu, manfaatkan kekuatan lokal. Ternate punya modal sosial yang kuat—ikatan kekerabatan dan adat yang kental. Bergabunglah dengan komunitas usaha atau koperasi. Jaringan ini bisa menjadi pengaman nyata: tempat berbagi informasi pasar, saling bantu saat krisis, atau sekadar pengingat saat kondisi ekonomi mulai berubah.

Butuh Pengusaha Tangguh

Ternate punya potensi luar biasa: rempah, hasil laut, hingga wisata budaya. Namun, potensi besar tanpa kesiapan menghadapi risiko ibarat kapal mewah yang berlayar tanpa pelampung: indah dilihat, namun rapuh saat dihantam ombak.

Mulailah dengan bertanya pada diri sendiri hari ini: “Kalau sesuatu yang buruk terjadi bulan depan, apakah bisnisku masih bisa berdiri?”

Jika jawabannya masih ragu-ragu, itu tandanya manajemen risiko bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan. Sebab, bisnis yang benar-benar berhasil bukanlah yang paling viral dalam semalam, melainkan yang tetap berdiri tegak dan memberi manfaat hingga sepuluh tahun ke depan. *

==========
Winda Umagap adalah mahasiswa jurusan Manajemen di Universitas Khairun. Saat ini aktif mendalami kajian manajemen risiko bisnis. Dapat disapa melalui Instagram @wwwiinnnnd