Cara Gubernur Sherly Memutus Rantai Kemiskinan di Pesisir Maluku Utara

Avatar photo
Sherly Tjoanda Laos/kieraha.com

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos, menilai hilirisasi perikanan menjadi salah satu solusi untuk memutus mata rantai paradoks kemiskinan di wilayah pesisir Malut.

Ini disampaikan dalam forum FGD bertajuk ‘Menata Masa Depan Perikanan Malut’ yang berlangsung di Ballroom Bella Hotel, Kelurahan Jati, Ternate, Sabtu, 11 April 2026.

Sherly mengatakan Maluku Utara yang memiliki 70 persen wilayah lautan ini masih menunjukkan nelayan lokal berjuang di garis kemiskinan.

“Karena itu, strategi Hilirisasi Perikanan sebagai kunci pembuka kesejahteraan nelayan Malut. Tanpa hilirisasi dan keterlibatan swasta, potensi laut kita hanya akan tersimpan di bawah air tanpa nilai ekonomi bagi rakyat,” kata Sherly di hadapan akademisi, pengusaha, dan pimpinan OPD.

Sherly mengusung sebanyak empat pilar transformasi untuk memutus rantai kemiskinan di wilayah pesisir Malut, yaitu:

– Modernisasi Armada: Fokus pada kapal 5 – 20 GT agar nelayan bisa mengakses BBM subsidi dan menjaga kedaulatan zona tangkap local

– Revitalisasi Rantai Dingin: Memperkuat cold storage dan pabrik es di pusat-pusat strategis seperti Dufa-Dufa Kota Ternate, Halmahera Utara dan Halmahera Selatan

– Hilirisasi dan Offtaker: Memastikan adanya industri pengolahan agar harga ikan tidak jatuh saat panen melimpah

– Investasi Sehat: Menciptakan iklim profitable bagi investor melalui skema profit sharing yang adil.

Anggota Komisi IV DPR RI Prof Rokhmin Dahuri, sebagai salah satu narasumber, menyatakan bahwa Maluku Utara memiliki ‘Tambang Protein’ yang jika dikelola dengan teknologi satelit (GIS) dan prinsip Maximum Suatainable Yield (MSY), hasilnya akan sangat masif.

“Pengembangan 10.000 hektare tambang udang vaname saja bisa menghasilkan pendapatan bersih hingga Rp 45 triliun. Itu 3X lipat dari total APBD Maluku Utara saat ini,” kata mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI ini.

Selain itu, narasumber dari akademisi, Prof M Irfan Koda, mendorong budidaya komoditas cepat tumbuh seperti rumput laut dan ikan nila, sementara Prof Djanib Ahmad, mengingatkan pentingnya aspek sosiologis atau ‘genetika nelayan’ agar bantuan pemerintah tidak salah sasaran. Isu stunting di desa pesisir juga menjadi catatan penting dalam forum FGD ini yang harus diselesaikan lewat asupan protein ikan dari hasil laut sendiri.

BACA JUGA Kawasan Dufa Dufa Ternate Disiapkan Jadi Pusat Industri Perikanan

Menurut Gubernur Sherly, keberhasilan kebijakan dari ini nantinya tidak sekadar diukur lewat deretan angka-angka semata, melainkan kesuksesan yang akan diraih.

“Indikator kesuksesan kita adalah saat anak-anak nelayan bisa tersenyum dan bersekolah tinggi dari hasil keringat orangtua mereka di laut,” sambungnya. *