Representasi Putri Daerah dalam Posisi Strategis Operasional Harita Nickel

Avatar photo
Esmar dan Mira, dua srikandi yang memimpin pengelolaan dan pemantauan air limpasan, untuk memastikan air yang dilepas ke badan lingkungan telah memenuhi baku mutu/Harita Nickel

Industri pertambangan dan peleburan logam selama ini identik dengan dunia maskulin yang keras dan berisiko tinggi. Namun, di lanskap operasional Harita Nickel, Pulau Obi, Halmahera Selatan, narasi tersebut mulai bergeser. Emansipasi bukan lagi sekadar wacana, melainkan mewujud nyata dalam dedikasi para perempuan tangguh di posisi strategis.

Para srikandi ini tidak hanya memegang kendali di garis depan keselamatan kerja dan pelestarian ekosistem, tetapi juga menjadi motor penggerak harmoni sosial. Kehadiran mereka membuktikan bahwa kompetensi, bukan gender, adalah tolok ukur utama dalam memimpin di industri ekstraktif.

Representasi terkuat inklusivitas Harita Nickel tecermin dari sosok Margarita Luwudara dan Yufita Tuhuteru. Keduanya adalah putri asli Pulau Obi yang kini menempati posisi krusial dalam denyut nadi perusahaan.

Margarita, yang menjabat sebagai Community Relations Superintendent PT Trimegah Bangun Persada (TBP) Tbk, telah menjadi jembatan krusial antara perusahaan dan masyarakat sejak 2018. Sebagai warga Kawasi, desa lingkar utama operasional perusahaan, Rita membawa perspektif lokal yang empatik dalam memastikan setiap program sosial berjalan tepat sasaran.

“Sebagai anak Obi, saya bersyukur atas dukungan perusahaan. Ini berdampak besar bagi masa depan kami, dan saya berharap generasi muda Obi berani bermimpi,” ujar Rita.

Menurutnya, peran ini bukan sekadar profesi, melainkan jalan untuk memberdayakan tanah kelahirannya.

Jika Rita merawat harmoni sosial, Yufita Tuhuteru mengawal garis keras teknis yang berisiko tinggi. Sebagai Process Safety Engineer PT Halmahera Persada Lygend (PT HPL), perempuan asli Desa Soligi ini memegang kendali keselamatan proses di pabrik penghasil bahan baku baterai kendaraan listrik.

Berbekal gelar magister kimia dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yufita memastikan seluruh instalasi aman dari skenario fatal. Baginya, menjaga keamanan pabrik bukan sebatas mematuhi standar operasi, melainkan wujud cinta dalam melindungi rekan kerja sekaligus warga desa kelahirannya dari berbagai risiko.

Menjinakkan Tantangan Alam demi Kelestarian

Operasional pertambangan selalu berjalan berdampingan dengan alam. Bagi PT TBP Tbk, curah hujan yang tinggi di Pulau Obi adalah tantangan harian yang menuntut ketelitian ekstra. Di titik kritis inilah Esmar Sulea Datu Lalong, Senior Mine Hydrology Engineer, dan Mira Marlinda, Environment Supervisor, mengambil peran.

Mereka memikul tanggung jawab vital dalam mengelola air limpasan (run-off). Salah satu fokusnya ada di kolam pengendapan (sediment pond) Tugu Raci 2 yang membentang seluas 43 hektar.

“Kualitas air dikontrol secara ketat melalui metode fisika dan kimia agar memenuhi baku mutu sebelum dialirkan kembali ke alam,” kata Esmar dan Mira.

Tantangan serupa namun di ranah berbeda dihadapi oleh Rahma Maulida. Sebagai Laboratory Assistant Engineer di fasilitas Dry Stack Tailing Facility (DSTF) PT HPL, Rahma bertugas mengawal kualitas air di area penempatan sisa hasil pengolahan. Pemantauan ketat di titik masuk (inlet) dan keluar (outlet) dilakukannya setiap hari demi memastikan operasional terbebas dari potensi pencemaran dan longsor.

Dari Konservasi Pesisir hingga Budaya Kepatuhan

Kepedulian terhadap kelestarian alam tidak berhenti di area tambang, namun ditarik jauh hingga ke wilayah pesisir oleh Putri Wulandari. Sebagai Environment Marine Foreman dan alumni Universitas Khairun Ternate, Wulan memimpin langkah nyata pemulihan ekosistem melalui penanaman mangrove, pemasangan media tumbuh karang, hingga pemantauan kualitas laut secara berkala di Kawasan Industri Obi.

Pada akhirnya, seluruh upaya penjagaan dari hulu ke hilir ini diikat oleh satu fondasi mutlak: budaya kepatuhan. Di pabrik peleburan PT Halmahera Jaya Ferronikel (HJF), pengawasan ini berada di tangan Claudia Kowaas. Sebagai Occupational Health and Safety Compliance System Staff, alumnus Universitas Sam Ratulangi ini memastikan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) benar-benar dihidupkan, bukan sekadar tumpukan dokumen administratif.

“Kepatuhan adalah fondasi mutlak. Ini adalah nyawa yang menjamin setiap pekerja bisa pulang kepada keluarganya dengan selamat,” tegas Claudia.

Kehadiran perempuan di pos-pos krusial operasional Harita Nickel ini bukanlah sebuah anomali, melainkan cerminan wajah baru industri pertambangan. Seperti yang dicatat oleh Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA), Hendra Sinadia, peran perempuan di sektor tambang kini berkembang pesat hingga menembus level pimpinan.

Di Harita Nickel, para srikandi ini membuktikan satu hal: mereka hadir bukan untuk memenuhi kuota. Mereka adalah pengambil keputusan, perawat harmoni sosial, mitigasi risiko, dan garda terdepan yang memastikan seluruh lini operasional berjalan selaras dengan komitmen perusahaan terhadap pengembangan manusia, pelestarian alam, dan kesejahteraan masyarakat lingkar tambang. *