Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru mengenai kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Maluku Utara per Februari 2026. Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) menunjukkan adanya kenaikan pada Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 4,46 persen.

Angka pengangguran ini naik sebesar 0,20 persen poin jika dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya (Februari 2025) 4,26 persen.

Secara statistik, angka ini menggambarkan bahwa dari setiap 100 orang angkatan kerja di Maluku Utara, terdapat sekitar 4 hingga 5 orang yang belum terserap oleh pasar kerja.

Kesenjangan pengangguran ini terlihat cukup mencolok jika ditinjau dari sisi wilayah dan jenis kelamin. Dari sisi wilayah, pengangguran di area perkotaan (5,70 persen) tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan perdesaan (3,80 persen). Kota mengalami kenaikan tajam sebesar 1,91 persen poin, sementara desa justru mencatat tren positif dengan penurunan sebesar 0,66 persen poin.

Sementara, dari sisi gender, untuk pertama kalinya, angka pengangguran perempuan (4,66 persen) melampaui laki-laki (4,33 persen). Meski demikian, tren menunjukkan perbaikan bagi perempuan yang angka penganggurannya turun 0,38 persen poin, berbanding terbalik dengan laki-laki yang justru naik 0,54 persen poin.

Salah satu poin krusial dalam laporan BPS ini adalah distribusi pengangguran berdasarkan latar belakang pendidikan. Secara paradoks, penduduk dengan tingkat pendidikan tinggi justru mengalami kesulitan lebih besar dalam mendapatkan pekerjaan.

Tamatan Diploma IV hingga S3 mencatatkan TPT tertinggi mencapai 7,53 persen. Sebaliknya, penduduk dengan tingkat pendidikan SD ke bawah justru memiliki angka pengangguran terendah, yakni hanya 1,48 persen.

“Tingginya angka pengangguran pada lulusan pendidikan tinggi menunjukkan adanya ketidaksesuaian (mismatch) antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja saat ini,” tulis BPS dalam laporan yang dirilis, Selasa 5 Mei 2026.

Meski secara persentase (TPT) lulusan sarjana adalah yang mendominasi, namun jika dilihat dari sisi kuantitas atau jumlah individu, pengangguran di Maluku Utara masih tertinggi tamatan SMA.

Pada Februari 2026, kontribusi lulusan SMA terhadap total penganggur di Maluku Utara mencapai 39,07 persen. Di sisi lain, kelompok pendidikan yang paling sedikit menyumbang angka pengangguran secara jumlah adalah lulusan Diploma I/II/III, yakni hanya sebesar 2,37 persen. *