Gunung Dukono di Halmahera Utara kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada Minggu, 3 Mei 2026. Mencatatkan 11 kali letusan dalam sepekan terakhir, gunung api paling aktif di Maluku Utara ini melontarkan kolom abu setinggi kurang lebih 2.000 meter di atas puncak.
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui aplikasi MAGMA Indonesia, kolom abu berwarna kelabu tebal tersebut teramati condong ke arah timur laut. Erupsi ini terekam dengan amplitudo maksimum 15 mm dan durasi 48,04 detik.
Laporan Aktivitas dan Status Terkini
Hingga saat ini, Gunung Dukono masih berada pada Level II (Waspada). Data kegempaan sepanjang 3 Mei 2026 (00.00-23.59 WIT) mencatat performa vulkanik yang intens:
• 72 kali gempa letusan (Amplitudo: 6-30 mm; Durasi: 40,53-66,36 detik).
• Gempa tremor menerus dengan amplitudo dominan 5 mm.
Meski erupsi merupakan peristiwa rutin bagi Dukono, frekuensi yang tinggi ini membawa pesan kuat: pengelolaan risiko di wilayah terdampak belum mencapai titik optimal.
3 Risiko yang Mengintai
Erupsi Dukono bukanlah sekadar anomali, melainkan pola alam menetap. Dalam perspektif manajemen risiko, fenomena ini seharusnya menjadi variabel yang dapat diantisipasi secara presisi. Setidaknya, terdapat tiga ancaman utama yang terus membayangi masyarakat:
1. Ancaman Kesehatan Publik: Paparan abu vulkanik secara kronis memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, dan risiko kesehatan serius bagi kelompok rentan (anak-anak dan lansia).
2. Lumpuhnya Ekonomi Lokal: Sebaran abu yang luas menghentikan produktivitas warga secara mendadak. Sektor pertanian dan pelaku usaha kecil menjadi pihak yang paling terpukul akibat hilangnya pendapatan.
3. Degradasi Lingkungan & Infrastruktur: Selain pencemaran sumber air bersih, akumulasi abu vulkanik yang berat mengancam integritas struktur bangunan warga dan merusak lahan garapan.
Tantangan Dinamika Angin: Kendala utama mitigasi adalah ketidakpastian arah angin. Perubahan arah sebaran abu yang terjadi dalam hitungan jam menuntut sistem peringatan dini yang jauh lebih responsif dan real-time.
Transformasi Mitigasi: Merujuk ISO 31000
Pendekatan mitigasi tidak boleh lagi bersifat reaktif (menunggu bencana terjadi). Merujuk pada prinsip ISO 31000, manajemen risiko harus dilakukan secara sistematis yang mencakup identifikasi dini, analisis dampak mendalam, hingga perlakuan risiko (risk treatment) yang tepat sasaran.
Rekomendasi
Untuk meminimalisir dampak di masa depan, diperlukan langkah konkret sebagai berikut:
• Modernisasi Sistem Peringatan Dini: Memastikan informasi mencapai pelosok desa secara instan.
• Edukasi Publik Masif: Sosialisasi protokol keselamatan yang berkelanjutan, bukan sekadar saat bencana.
• Ketahanan Logistik: Penyediaan stok perlindungan dasar (seperti masker standar medis) yang selalu tersedia di gudang desa/kecamatan.
• Sinergi Antar-Lembaga: Sinkronisasi data dan gerak antara pemerintah daerah, BNPB, dan lembaga terkait agar tidak terjadi tumpang tindih kebijakan.
Erupsi Gunung Dukono adalah pengingat bahwa fenomena alam tidak bisa dihentikan, namun dampaknya sangat bisa dimitigasi. Melalui manajemen risiko yang saintifik dan terintegrasi, kita tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga menjaga stabilitas ekonomi dan sosial masyarakat Halmahera Utara. *
==========
Penulis adalah mahasiswa jurusan Manajemen di Universitas Khairun. Tulisan tentang erupsi Gunung Dukono dari sudut pandang manajemen risiko ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bagi masyarakat Halmahera Utara.




