Perlu Revitalisasi Kejayaan Cengkih Maluco

  • Bagikan
Hamparan pohon cengkih di pegunungan Kalaodi Tidore pada 7 Agustus 2021. (Hairil Hiar)

Irfan Ahmad, Sejarawan Maluku Utara menjelaskan cengkih yang membawa kejayaan pulau yang dulu dikenal sebagai Maluco ini sangat jelas dipaparkan dalam karya Pires (tahun 1944). Sekalipun rempah seperti cengkih dan kayu manis ini didapatkan dari berbagai daerah di pulau-pulau sekitar bahkan sampai Halmahera, tapi pengontrol utama perdagangan adalah Kerajaan Ternate dan Tidore.

“Sentral penjualan itu dikontrol oleh dua kerajaan ini. Apalagi saat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) berkuasa. Selain itu, kedua kota ini memiliki pelabuhan yang baik dan sentral kekuasaan,” lanjutnya.

BACA JUGA Pengakuan Kota Jaringan Global Magellans bagi Tidore

Sayangnya, kejayaan cengkih dan produksinya jika dibandingkan dengan kondisi saat ini sangat jelas menurun. “Nilai atau harga cengkih saat ini sangat murah. Sehingga sebagian besar petani cengkih beralih ke tanaman pala dan tanaman bulanan,” katanya.

Selain itu, aktivitas pertanian cengkih tidak saja di Maluku Utara seperti beberapa abad yang lalu, melainkan sudah bertebaran di mana-mana. “Bahkan di Sulawesi dan Jawa memproduksi lebih banyak dan skala besar,” ujarnya.

Padahal, kejayaan cengkih di Bumi Kieraha ini telah menjejakkan suatu jalur pelayaran yang dikenal sebagai jalur rempah. Jalur ini, kata Irfan, meliputi jalur pelayaran yang begitu luas, yang menghubungkan Nusantara sebagai wilayah kepulauan dengan berbagai wilayah dan negara di benua lain. “Jalur rempah ini sudah sepatutnya menjadi warisan budaya kebanggaan bangsa Indonesia,” sambungnya.

Irfan menyebutkan, sumber primer terkait catatan penting posisi Maluku, atau Ternate dan Tidore sebagai jalur rempah dalam konteks perdagangan cengkih juga banyak ditemukan.

“Ini diantaranya (1) Pigaffeta, A 1522 First Viyage around the world: Transylvanus, De Moluccis Insulis, (2) Pires, T 1944, The Suma Oriental. London: Hakluyt Society, (3) Jacobs, Hubert (ed.) 1974. Documenta Malucensia, Vol I (1542–1577). Roma: Institutum Historicum Societatis Iesu, dan (4) 971 A Treatise on the Moluccas (c.1544), Probably the preliminary version of the Antonio Galvao’s lost Historia Das Molucas. Edited, annotated, and translated into English from the Portuguese manuscript in the Archivo General de Indias, Seville by Hubert Th. Th M Jacobs, S J Rome & St Louis: Jesuit Historical Institute & St Louis University,” lanjut Irfan.

M Amin Faruk, Jojau atau Juru Bicara Kesultanan Tidore menceritakan meski Spanyol kalah cepat dari Portugis, mereka kemudian mendapat tempat istimewa. Portugis saat itu membeli dengan harga dua kali lipat dari pedagang lainnya, sementara Spanyol membeli cengkih dengan harga delapan kali lipat dari harga pasaran yang dibeli Portugis.

Ini membuat Spanyol dalam waktu yang singkat dari 8 November 1521 tiba, sampai bulan Desember 1521, berhasil memenuhi palka atau bagian lambung kapal yang dijadikan gudang dari Kapal Victoria dan Trinidad penuh cengkih.

“Saat itu proses pembelian masih menggunakan sistem barter. Dan kualitas cengkih terbaik saat itu hanya Tidore dan Makeang. Hingga akhirnya cengkih di Tidore berkurang, Spanyol kemudian bertolak lagi ke Pulau Makeang hingga Bacan,” jelas Amin.

Harga cengkih, lanjut Amin, dulunya dipatok dengan harga 1 bahar. Nilai cengkih itu bisa ditukar dengan gunting dan pisau sekian, hingga kain tenun dan barang-barang lainnya.

“Jadi memang prosesnya seperti itu saat masa Portugis dan Spanyol berada di Pulau Ternate dan Pulau Tidore,” katanya.

Amin menambahkan, sebelum kedatangan bangsa Eropa di Tidore, sudah ada pedagang China dan Mesir Kuno yang tiba lebih dulu.

“Mesir berburu gaharu dan China berburu cengkih. Mereka menyembunyikan keberadaan pulau rempah ini dari orang Eropa hingga ribuan tahun lamanya, bahkan sebelum abad pertama mereka sudah ada. Kenyataan ini pun diakui dari keturunan Sun Yat Sen yang datang ke sini. Mereka bertemu dengan saya di rumah ini. Mereka mencari jejak leluhurnya ini berdasarkan arsip yang dipegang,” ujar Amin.

BACA JUGA Kejayaan Cengkih Pulau-Pulau di Bawah Angin yang Hilang

Bahkan, jauh sebelum kedatangan orang China sudah ada orang Arab. Karena salah satu makam tertua di Tidore, kata Amin, datang ke Tidore sebelum masa Khalifah Abu Bakar dan wafat di Tidore pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

“Agama Islam ini masuk tidak melalui sebuah organisasi. Dia masuk lewat orang per orang lewat dunia perdagangan. Kalau dalam catatan Nadiah itu kan Islam merambah di Nusantara, termasuk ke Maluku bagian Utara ini di abad ke 8 sudah ada. Artinya Dinasti Tang itu datang belakangan mulai abad 900, sehingga abad 800 kebawah itu sudah ada orang Arab. Lemahnya sejarah tentang Tidore dan umumnya Maluku bagian Utara ini karena hanya sejarah lisan, namun dalam bentuk catatan ini yang kita tidak punya,” tutup Amin.

Hesthi Murthi
Editor
  • Bagikan